Helldy dan Ranta Berpeluang Direstui Demokrat

Bakal calon walikota Cilegon Helldy Agustian (tengah) dan Ranta Soeharta (dua kiri) usai menyampaikan visi-misi di depan pengurus Demokrat Banten, Sabtu (29/2).

CILEGON – Bakal calon walikota Cilegon Helldy Agustian dan Ranta Soeharta berpeluang besar untuk mendapatkan restu dari Partai Demokrat. Dari sembilan yang mendaftar, hanya dua orang itu yang akan direkomendasikan oleh DPD Partai Demokrat Provinsi Banten ke DPP.

Ketua Badan Pemenangan Pemilihan Umum (Bappilu) DPD Partai Demokrat Provinsi Banten Azwar Anas Rangkuti menjelaskan, Helldy dan Ranta yang dianggap siap dan serius oleh pengurus provinsi. Oleh karena itu, hanya dua kandidat tersebutlah yang memaparkan visi dan misi di depan publik.

“Kita melihat keseriusan dan kesiapannya, ternyata yang kita lihat siap dan serius hanya dua orang kandidat. Kami Partai Demokrat enggak main-main. Kita terbuka visi-misinya. Bahkan kita pasang billboard, jadi semua kita undang,” ujar Anas kepada Radar Banten, Minggu (1/3).

Sebelum melayangkan rekomendasi ke DPP Partai Demokrat, pengurus DPD Partai Demokrat Banten akan melakukan survei untuk menambah dasar rekomendasi. Rangkaian penyampaian visi-misi dan survei dianggap sangat penting karena melalui tahapan tersebut kapasitas kandidat dapat diuji di depan publik. “Masyarakat menilai mana yang siap beradu gagasan, karena pemimpin enggak cuma yang banyak duit saja, tapi berani beradu argumen, ini yang harus ditampilkan kepada masyarakat,” ujar Anas.

Sementara itu, Helldy Agustian mengaku sudah membeberkan lima hal di hadapan jajaran pengurus Demokrat dan pihak lain yang hadir. Kelimanya yaitu tentang pengangguran, pendidikan, kesehatan, infrasturktur, dan laju pertumbuhan ekonomi. “Lima item yang harus dibenahi,” ujar Helldy.

Pengangguran misalnya, Helldy mengaku miris melihat realitas saat ini karena angka pengangguran terbuka Kota Cilegon tertinggi nomor dua di Provinsi Banten. Padahal jumlah warga lebih sedikit dibandingkan daerah lain, disisi lain jumlah industri sangat banyak.

Helldy menawarkan sejumlah solusi guna menyikapi hal tersebut, pertama dengan membangun rumah siap kerja. Program itu khusus untuk lulusan SMA, SMK, dan MA. Melalui program itu, pemerintah akan meminta kepada industri untuk membuka kelas yang sesuai dengan bidang yang dipekerjakan di industri tersebut. “Jadi CSR industri dalam bentuk ilmu, enam bulan semacam kuliah, tiga bulan praktik lapangan nanti mereka dapat sertifikat. Jadi nanti kalau butuh tenaga kerja, enggak usah cari yang lain, mereka saja,” ujar Helldy.

Ia mengaskan, rumah siap kerja berbeda dengan balai latihan kerja di Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Cilegon. Rumah siap kerja dilakukan langsung oleh setiap industri sehingga bisa lahir sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing industri.

Untuk masyarakat yang lulusan SD dan SMP, dibuat program yang bisa membentuk keahlian dalam berwirausaha, sehingga tidak semua masyarakat mengandalkan industri di Kota Cilegon untuk mencari nafkah. “Harus dibentuk keahliannya, sehinga mereka bisa bekerja. Keahlian mencukur, ahli pipa, dan ahli-ahli yang lain. Jangan salah loh tukang cukur duitnya banyak, itu peluang besar,” tuturnya. (bam/ibm/ags)