BANDUNG – Herayati, anak seorang pengayuh becak yang bernama Sawiri di Kota Cilegon berhasil menyelesaikan studi di Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan predikat cum laude dengan IPK 3,77. Bahkan perempuan yang masuk ITB tahun 2014 di Program Studi Kimia FMIPA ini sempat mendapatkan IP 4,00 pada semester 5.

Ia pada Sabtu (21/7) lalu diwisuda pada Wisuda Ketiga ITB Tahun Akademik 2017/2018, di Sabuga, Bandung.

“Saya sejak kelas 9 SMP ingin berkuliah di ITB karena terinspirasi seorang alumni dari sekolah saya yang berkuliah di ITB dan mendapatkan beasiswa. Saya juga ingin berkuliah tanpa membebankan biaya ke orang tua,” ujar Herayati dikutip dari itb.ac.id.

Meski punya kendala ekonomi karena bapaknya pengayuh becak, ia tetap bisa berkuliah melalui beasiswa Bidik Misi. Selain itu, anak bungsu dari empat bersaudara ini pernah mendapat bantuan dari Pemerintah Kota Cilegon, Kepala Staf Kepresidenan Indonesia Jend. Moeldoko, dan Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan.

Tak selalu bergantung pada beasiswa, untuk mendapatkan uang tambahan, Herayati juga bekerja sambilan sebagai guru privat bagi mahasiswa tingkat pertama ITB.

Perjuangan Herayati untuk masuk ITB pada 2014 awalnya tak berjalan mulus. Saat pendaftaran SNMPTN ia ditolak ITB. Namun ia tak menyerah begitu saja, Herayati mencoba kembali melalui jalur SBMPTN.

“Saya tetap berusaha. Alhamdulillah rezeki datang dari SBMPTN dan akhirnya saya diterima di ITB,” jelasnya.

Ia mantap memilih FMIPA ITB karena sejak SMA telah menggemari ilmu kimia. Sebab menurutnya, mempelajari ilmu kimia seru dan menarik.

Saat ini Herayati terdaftar sebagai mahasiswa Program Fast Track yang diadakan oleh Kimia ITB sehingga kuliah S1 dan S2 dapat ditempuh dalam waktu 5 tahun. Di bawah bimbingan Dr. Deana Wahyuningrum dalam menyelesaikan tugas akhir S1, Herayati mengembangkan suatu sintesis yang berasal dari kulit udang yang dapat digunakan untuk menyerap limbah timbal pada air Sungai Cikapundung.

“Penelitian saya yang dibimbing Ibu Deana dapat membantu untuk mengurangi polusi air. Terlebih timbal merupakan logam berat yang berbahaya bagi kesehatan,” jelasnya.

Tak hanya menonjol dalam bidang akademik, Herayati juga pernah menjadi delegasi Indonesia dalam acara Asia Pasific Future Leader Conference 2017 di Kuala Lumpur, Malaysia.

“Rasanya senang menjadi perwakilan dari Indonesia.  Ini salah satu momen tak terlupakan selama menjadi mahasiswa karena bertemu orang-orang dari negara lain,” ungkapnya.

Jika ditanya tentang sosok yang memotivasi dirinya untuk terus berprestasi, Herayati dengan mantap menjawab bahwa sosok yang menjadi pemantik semangat di saat lelah berkuliah adalah orang tuanya.  “Kedua orang tua selalu mendukung saya. Beliau tak pernah mengeluh walau kondisi ekonomi dalam keadaan yang terbatas. Maka dari itu saya berusaha untuk terus berprestasi di ITB,” jelasnya.

Setelah lulus kuliah ia berkeinginan untuk menjadi dosen dan mengabdikan diri daerah asalnya. Kisah Herayati memang menginspirasi. Ia pun berpesan, bagi mahasiswa yang sedang berjuang mencari ilmu di ITB, untuk tetap sabar dan semangat menjalaninya. “Semoga selalu sabar, tidak hilang arah dan kembali fokus ke tujuan. Selain itu harus percaya bahwa sesuatu akan indah pada waktu yang tepat,” pungkasnya. (itb/aas)