Sawiri dan Durah, orangtua Herayati.

Masih ingat dengan Herayati? anak pengayuh becak yang kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB). Dulu tidak ada yang menyangka Herayati bisa kuliah di kampus ternama di Bandung. Tapi sekarang tidak terasa, Herayati tidak lama lagi akan diwisuda.

Nasib memang tidak ada yang tahu. Asalkan mempunyai motivasi dan tekad yang kuat siapa pun bisa mewujudkan impiannya. Hal itu terbukti pada salah satu lulusan MAN 2 Cilegon Herayati. Herayati lulus dari sekolahnya empat tahun lalu. Setelah lulus,  Herayati mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan kuliah sarjananya ke ITB.

Herayati kuliah di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) di salah satu kampus bergengsi di Indonesia. Tapi pada awalnya, tidak ada yang menyangka jika Herayati bakal bisa kuliah di ITB. Ini lantaran penghasilan orangtuanya yang jauh dari cukup.

Sawiri (66) ayah Herayati hanyalah seorang tukang becak atau pengayuh becak dengan penghasilan sehari sekitar Rp10 ribu sampai Rp15 ribu. Karena penghasilannya yang tidak cukup, Sawiri hanya bisa pasrah dan menyerahkan anaknya itu kepada takdir Allah SWT. “Saya ini cuma tukang becak. Dan sampai sekarang saya masih melakoninya. Kadang sehari dapat Rp10 ribu, kadang dapat Rp15 ribu. Enggak pasti,” kata Sawiri kepada Radar Banten, kemarin (9/4) di kediamannya yang sederhana di Lingkungan Masigit, Kelurahan Kotasari, Kecamatan Grogol, Kota Cilegon.

Hanya kata itulah yang terucap dari mulut Sawiri. Sawiri tidak mampu membiayai kuliah anak bungsunya tersebut. Namun siapa sangka, Herayati tak patah semangat. Herayati terus berjuang hingga akhirnya ia mendapatkan bantuan beasiswa untuk kuliahnya di ITB dari Pemkot Cilegon walaupun hanya tiga tahun.

Pada tahun pertama tahun ajaran 2014/2015 Pemkot Cilegon melalui Dinas Pendidikan (Dindik) memberikan beasiswa sebesar Rp20 juta. Pada tahun ajaran 2015/2016 Dindik memberikan beasiswa sekira Rp15 juta, dan pada tahun ajaran 2016/2017 Dindik memberikan beasiswa Rp15 juta untuk Herayati. Namun sayang, di tahun terakhir kuliahnya, Dindik tak memberikan bantuan beasiswa kepada Herayati karena hal lain.

Herayati menerima penghargaan dari dekan di ITB. Foto: Dokumentasi pribadi Herayati

Setelah tidak mendapatkan beasiswa dari Pemkot, nasib mujur ternyata masih menaungi Herayati. Untuk biaya kuliah di tahun ajaran terakhirnya yaitu tahun ajaran 2017/2018, akhirnya Herayati diberikan beasiswa dari Purnawirawan TNI Jenderal Dr Moeldoko dan Luhut Panjaitan. “Masing-masing memberikan beasiswa sebesar Rp10 juta untuk Herayati,” tutur Sawiri.

Meski Herayati mendapatkan beasiswa, tapi untuk tetap bisa bertahan hidup di Bandung, Herayati harus berjuang keras. Herayati tidak hanya mengandalkan beasiswa untuk bisa kuliah dan tinggal di Bandung. Untuk bisa mencukupi kebutuhan hidupnya, Herayati harus mencari pekerjaan sambilan dengan nyambi menjadi asisten dosen.

Setiap ada dosen yang berhalangan hadir, Herayati selalu diminta untuk mengajar di kampus, ini dilakukan untuk bisa mencukupi kebutuhan hidupnya di Bandung. “Kalau beasiswa itu kan cuma untuk biaya kuliah dan biaya kos aja. Sedangkan untuk makan, minum, dan kebutuhan sehari-hari, anak saya tetap harus berjuang,” cerita Sawiri.

Bahkan tidak jarang, untuk tetap bisa bertahan di Bandung, kakak-kakak kandung Herayati yang sudah bekerja turut serta membantu walaupun tidak seberapa. Jadi memang tetap saja Herayati dan keluarga harus berjuang. Beasiswa hanya sekadar meringankan saja. Semua kakak kandungnya ada tiga. Kakak yang pertama sudah berkeluarga dan kini tinggal di Lampung. Sedang kakak yang kedua dan ketiga masih tinggal bersama orangtuanya.

Tak terasa waktu kini sudah empat tahun berlalu. Tidak lama lagi Herayati pun diwisuda. Meski sudah diwisuda, Herayati pantang untuk kembali pulang kampung halamannya di Cilegon. Lantaran Herayati masih harus berjuang untuk menuntaskan kuliah selanjutnya. Yaitu kuliah program master atau pascasarjana masih di kampus yang sama. Karena memang Herayati bercita-cita ingin menjadi dosen. “Kalau soal jadi apa, saya serahkan kepada anak saya. Selama anak saya mampu dan disana masih ada takdir Allah SWT ya silakan. Karena saya cuma bisa berpegang kepada takdir Allah SWT,” tutur Sawiri.

Tidak hanya Sawiri saja yang bangga dengan Herayati, seluruh anggota keluarganya juga sangat bangga dengan Herayati. “Ya alhamdulillah. Tak terasa kini Herayati sudah mau diwisuda. Padahal kami cuma modal doa saja kepada Allah,” cerita Durah ibunya Herayati sambil menutup ceritanya kepada wartawan.

Diketahui, Herayati merupakan salah satu mahasiswa cerdas di ITB. Ini lantaran nilai indek prestasi kumulatif (IPK) Herayati selalu sempurna dengan IPK 4.0. Bahkan Herayati juga pernah mendapatkan penghargaan dari Dekan di fakultasnya. (KHOIRUL UMAM )