Hikmah Ramadan : Akhlak dan Puasa

Oleh Machdum Bachtiar, Kepala Kemenag Kota Serang

0
2.294 views
Memperbanyak baca Alquran saat Ramadan. Foto: Jawa Pos

Subhanallah, sungguh tidak ada yang sia-sia dari setiap perintah Allah swt yang dibebankan  kepada manusia. Puasa salah satunya memiliki hikmah dan manfaatnya, memiliki hubungan yang kuat dengan pendidikan moral (akhlak). Sabda Nabi Muhammad saw, puasa ialah tameng dari dosa dan kejahatan (HR Bukhari).

Pada hakikatnya, puasa adalah riyadhoh dan mujahadah (upaya latihan dan perjuangan dan terapi penahanan nafsu diri atau jiwa) dari ketidakseimbangan pendayagunaan tiga potensi, yaitu akal, kemarahan, dan syahwat.

Akal yang tidak didayagunakan secara baik akan melahirkan manusia yang sombong dan durhaka. Kemarahan yang tidak digunakan dengan baik akan membawa manusia kesembronoan tindakan dan syahwat yang tidak terkendali akan membawa manusia pada pemuasan nafsu kebinatangan.

Yusuf al-Qardhawi memandang puasa sebagai institusi pendidikan moral par-excellent (madrasah mutamayyizah) semacam candradimuka yang mampu mengasah kepekaan moral dan ketajaman spiritual untuk mencapai takwa. Sedangkan menurut Imam Al-Ghazali, dalam ibadah puasa terkandung dua semangat yang penting dilihat dari perspektif pendidikan moral (akhlak). Pertama, semangat pencegahan (kaffun wa tarkun) dari proses dehumanisasi, atau pencegahan dari al-muhlikat, yaitu kecenderungan-kecenderungan dalam diri manusia yang bersifat destruktif (QS.91:7-8).

Kedua, semangat bertindak (hatstsun wa’amalun) menuju atau ke arah humanisasi, atau dorongan pada al-munjiyat, yaitu proses yang akan membawa manusia menuju kemuliaan dan keselamatan dengan menghidupkan kecenderungan-kecenderungan dalam diri manusia yang bersifat konstruktif, yakni takwa (QS.91:7-8).

Dilihat dari perspektif moral dan spiritual, puasa, menurut Kess Waaijman dalam bukunya Spirituality: Form, Foundation, Method, memiliki fungsi pokok yang dinamakan rejuvenation, yaitu penyegaran rohani agar kita mencapai kemuliaan dan kesalehan. Proses rejuvenation itu dilakukan melalui tiga tahap.

Pertama, disciplining the lower soul, menjadikan puasa sebagai latihan menguasai dan mengendalikan dorongan nafsu syahwat yang berpusat di perut (syahwat al-bathn). Di antara sasaran yang hendak dicapai melalui puasa, menurut Ghazali, ialah kemampuan mengendalikan bukan dikendalikan, oleh syahwat perut ini. Kedua, abstaining the permitted thing, menjadikan puasa sebagai sarana menghilangkan sifat-sifat buruk dan menumbuhkan kualitas moral sebagai bagian dari meneladani akhlak Allah, takhallaqu bi akhlaq Allah, agar manusia mencapai kesempurnaan.

Ketiga, abstaining from the presence of anything except God, menjadikan puasa sebagai sarana memusatkan hati dan pikiran hanya menuju Allah. Itu berarti, segala hal yang menghalangi jiwa dan pikiran untuk mengingat Allah harus dijauhi. Dengan proses ini, Allah benar-benar menjadi satu-satunya yang terkasih. Pada tahap ini, puasa memenuhi dan mencapai hal yang paling esensial dalam Islam, yaitu kepasrahan secara total kepada Allah swt. Inilah puasa pada tingkatnya yang paling tinggi yang oleh Ghazali disebut puasa Shaum Khashsh al-hawwash. (*)

Machdum Bachtiar, Kepala Kementerian Agama Kota Serang