Oleh : Prof Dr H Fauzul Iman MA, Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Tidak dijumpai di dunia ini kitab suci mana pun yang terbuka menunjukkan sifat dan keistimewaan dirinya selain Alquran. Penjelasan Alquran sebagai kitab cahaya (an-nur), petunjuk (hudan), peringatan atau pelajaran (al-dzikr), kitab obat (asy-syifa), dan lain-lain membuktikan keterbukaan Alquran dalam menunjukkan fungsi dan misinya mencerahkan peradaban masyarakat.

Keterbukaan dan keberanian yang paling mencolok dari Alquran adalah mendeklarasikan dirinya sebagai kitab yang tidak bertentangan satu sama lain (QS an-Nisa [4]: 82). Bahkan, Alquran menantang siapa saja yang mampu untuk membuat (menyusun) kitab baru, baik dalam jumlah ayat minimal maupun maksimal (QS Yunus [10]: 38).

Dalam kitab-kitab klasik seperti ditulis, antara lain oleh al-Jahizh (w 225 H/869 M) dalam bukunya al- Hujjaj Wa an-Nubuwwah tantangan Alquran itu disebut I’jaz. Dari sini lahir istilah mukjizat Alquran. Penulis cenderung menyebutnya dengan ayat (bukti) karena istilah mukjizat tidak terdapat dalam Alquran.

Pengakuan Alquran sebagai kitab cahaya (an-nur) merupakan sejarah kebenaran yang didukung oleh kondisi Nabi yang ummi di satu sisi, dan kesuksesan Nabi dalam mengubah peradaban masyarakat di sisi lain. Kondisi Nabi yang ummi (tidak tahu baca dan tulis) yang lahir dari keturunan bersahaja dengan strata sosial ekonomi yang tergolong rendah, tidak berbanding lurus dengan struktur masyarakat yang berkebudayaan arogan dan keras.

Sementara, para pemimpinnya adalah musuh-musuh Nabi yang terdiri atas para bangsawan kaya, feodal, dan elite yang mempunyai pengaruh besar di lingkungan masyarakat Arab saat itu. Namun, berkat cahaya Alquran, Nabi mampu menghadapi tantangan yang amat berat tersebut dengan membangun peradaban yang damai, terbuka dan bermoral (QS al-Jumuah [62]: 2). Tidak sedikit tokoh Arab yang dahulunya sangat menentang keras kehadiran Nabi, kemudian tampil menjadi pembela umat Nabi. Mereka antara lain Umar bin Khattab dan Abu Sufyan.

Alquran juga mendeklarasikan dirinya sebagai kitab yang ayat-ayatnya satu sama lain tak bertentangan (QS al-Anfal [8]: 42), memperlihatkan adanya potensi kekuatan dan keterbukaan dalam Alquran untuk diperiksa, diteliti, dan didiskusikan oleh para pembacanya. Alquran tidak pernah takut menutupi dirinya dari siapa saja yang ingin menggali autentisitas atau kebenaran Alquran.

Dari sikapnya yang berani dan terbuka, Alquran telah mencetak banyak para ilmuwan (ulama) jenius yang berlatar belakang keilmuan berbeda. Mulai dari ilmuwan bidang tafsir, fikih, kalam, filsafat, hingga ilmuwan bidang sains. Bahkan, Alquran membiarkan para pembacanya untuk berpikir dan berargumentasi berbeda menyangkut keahliannya yang digali dari hasil memahami Alquran.

Lebih hebat lagi, pada abad modern, Alquran berani dengan tenang menghadapi ilmuwan Barat yang berlatar belakang sekuler untuk mencurigai Alquran dengan nada menghina dan menjulukinya sebagai kitab yang tidak sejalan dengan logika dan pengetahuan modern. Tak sekadar menghina dengan tulisan, lebih sadis sebagian dari mereka menginjak-injak, mencabik, dan merobek-robek dengan senjata tajam.

Namun, berkat keberanian dan keterbukaan pula, Alquran mendapat perhatian dan penilaian yang amat spektakuler dari ilmuwan (pemikir) Barat setelah mereka dengan serius meneliti kandungan (isi) Alquran. Para ilmuwan Barat kemudian mengakui dengan objektif kebenaran Alquran sebagai kitab yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip kehidupan modern seperti penegakan demokrasi dan kebangsaan. Mereka memilih jalan kebenaran Islam seperti Marcel A Boisard. Ia ilmuwan berkebangsaan Perancis yang tertarik kepada agama Islam setelah membaca dan meneliti surah al-Hujurat yang menurut dia mengandung prinsip demokrasi dan kebangsaan (QS [14]: 13).

Kini, lebih banyak lagi ilmuwan Barat yang mengagumi Alquran. Misalnya, Arnold Toynbe yang memuja kesuksesan Nabi menerapkan cara-cara dakwah Alquran, Michel Hart yang memuji bukti petunjuk Alquran melalui pengaruh dakwah Nabi, Montgemory Watt yang membuktikan akhlak Alquran melekat pada cara kesuksesan Nabi membangun peradaban umat, serta Issa J Boullata yang mengagumi Alquran dari sisi keistimewaan dan keindahan bahasanya.

Keunikan inilah yang belum dan tidak pernah terjadi dalam kitab suci lainnya kapan dan di mana pun. Karena itu, Alquran harus turun di bumi ini karena ia memang benar-benar terbuka. (*)