Oleh : Dr H Nurul H Maarif, MA, Pengelola Pondok Pesantren Qothrotul Falah Lebak dan Penerima Apresiasi Pendidikan Madrasah Kemenag Banten 2017 Kategori Guru Madrasah Produktif

DALAM riwayat, al-Bukhari dan Muslim, ‘Aisyah ra menceritakan perilaku beribadah Rasulullah Saw pada sepuluh hari terakhir Ramadan. Pada hari-hari terakhir inilah suaminya menguatkan ikatan tali sarungnya (syadda mi’zarah), sebagai simbol keseriusan dan kesungguhannya beribadah. Beliau menghidupkan malamnya dan membangunkan sanak familinya. Di sepuluh hari terakhir ini, beliau lebih giat beribadah dibandingkan hari-hari biasa (HR Imam Muslim).

Itulah perilaku ibadah Ramadan Rasulullah. Sejak awal Ramadan, beliau telah menata niat semata iman dan mencari rida-Nya. Ibadah malamnya dilakukan sungguh-sungguh. Di luar Ramadan, beliau paling banyak beribadah, hingga kakinya bengkak-bengkak, padahal dosa-dosanya telah diampuni dan dijamin surga. “Tidakkah sepatutnya aku menjadi hamba yang bersyukur?” jawabnya ketika ditanya (HR. al-Bukhari).

Melihat ibadahnya, Rasulullah Saw ibarat pelari. Dari start awal, beliau telah berlari kencang dan lebih kencang lagi jelang garis finis. Detik, menit, jam, begitu berarti, terutama sepuluh hari terakhir yang sangat strategis. Inilah momen terpenting sebelum perpisahan dengan Ramadan.

Selain itu berdasarkan riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id al- Khudri, Rasulullah Saw menyatakan, Lailatul Qadar juga hadir di sepuluh hari terakhir. Tak heran, semua berburu malam yang lebih baik dari seribu bulan ini (Qs. al-Qadr: 3) karena pada malam inilah Alquran diturunkan (ayat 1) dan malaikat ramai-ramai turun ke bumi (ayat 4).

Bahkan, al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan, Rasulullah bersabda: “Siapa yang menghidupkan Lailatul Qadar dengan salat malam karena iman dan mengharap rida Allah maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.

Untuk mengisi sepuluh hari terakhir Ramadan, kita pun mendadak meniru perilaku ibadah Rasulullah. Di banyak tempat, kita berduyun-duyun ke masjid tengah malam. Qiyam al-lail, i’tikaf atau sekedar daras Alquran tiba-tiba dilakukan penuh antusias, dengan harapan ibadahnya dilipatgandakan. Semua ingin mendapat door prize ibadah yang bisa menutupi keburukan sebelum dan setelahnya.

Apa perbedaan perilaku ibadah Rasulullah dengan kita di hari jelang perpisahan ini? Pertama, Rasulullah Saw meniatkannya murni karena Allah Swt, bukan karena mengejar door prize. Ibadah yang dilakukannya sebagai luapan syukur atas segala karunia-Nya. Pada umumnya, kita mengejar malam qadar itu sebagai upaya meraih kebaikan sebanyak-banyaknya secara instan. Ada nilai kemanjaan pada diri kita karena ingin melakukan perbuatan simpel dengan nilai besar.

Kedua, ibarat pelari, Rasulullah Saw telah berlari kencang dari awal untuk mencapai finis. Lebih kencang lagi ketika garis finis itu telah tampak di depan mata. Ini berbeda dengan kita, yang justru sering menyalip di tikungan, dengan langsung mendekati garis finis, tanpa berlari dari start awal. Tak heran, di luar Ramadan, ibadah Rasulullah begitu hebatnya, sementara ibadah kita hanya seperlunya. Sebatas mengejar ketuntasan formal.

Ketiga, Rasulullah juga ingin mendapatkan ampunan pada malam seribu bulan itu. Bonus ampunan memang Allah Swt tebarkan. Namun lihatlah! Setiap hari, setidaknya beliau meminta ampunan pada Allah Swt sebanyak 70 kali, padahal beliau terjaga dari dosa dan telah digaransi surga. Kita lagi-lagi berbeda. Di luar Ramadan, kita lebih sering melupakan permohonan ampun, padahal betapa banyak dan mengaratnya dosa-dosa yang kita lakukan.

Jika diibaratkan pemburu, Rasulullah Saw telah jauh-jauh hari menyiapkan senapan berikut pelurunya. Pada sepuluh hari terakhir Ramadan itulah beliau siap menekan pelatuk untuk menembak sasaran. Sebaliknya, kita hanya menyiapkan senapan tanpa menyediakan peluru. Ibarat berburu tanpa peluru. Kendati malam kadar itu nyata ada, kita tak bisa menembaknya. Tak mampu memanfaatkan nilai strategisnya. Tugas kita, karenanya, memperbaiki diri dan visi beribadah sehingga kita mendapatkan reward terbaik pada Ramadan ini. (*)