Oleh Prof Dr H Fauzul Iman MA, Rektor UIN Sultan Mulana Hasanuddin Banten

Kalimat-kalimat motivatif mengenai Ramadan seperti kalimat Ramadan bulan penuh rahmat, Ramadan bulan pendidikan moral, Ramadan bulan pembebasan dosa dan lain-lain. Kalimat-kalimat itu telah didengar oleh seluruh umat Islam, bahkan mungkin oleh umat nonmuslim. Dari sisi subtansi, kalimat itu sebenarnya berasal dari hadis Nabi, walaupun secara implisit dalam hadis tidak dinyatakaan demikian. Dari sisi misinya, kalimat itu amat dinamis karena mengandung pesan edukatif yang mendorong pelaku puasa untuk mengisi Ramadan dengan kegiatan-kegiatan produktif dan positif.

Dalam kondisi tertentu, sepertinya umat Islam terpengaruh oleh kalimat mulia itu karena pada tahap permukaan umat Islam secara masif berdatangan salat berjamaah di masjid. Di sanalah mereka secara kompak mengamalkan aneka ritus berupa kalimah istighfar, tahlil, tasbih, tahmid, dan amalan-amalan lainnya. Bahkan, jamaah dengan intens mendengarkan tausiyah profetik dari para penceramah yang menggugah umat untuk melakukan kegiatan amaliyah yang lebih baik dalam kehidupan. Namun, kegiatan tersebut telah berhenti di batas ritual sesaat tanpa imajinasi kreatif yang dirasakan secara aplikatif oleh umat.

Padahal, kalimat inovatif Ramadan pada level implisitnya berasal dari sabda Nabi Muhammad saw yang mengandung imajinasi Ramadan yang berdaya kreatif tinggi. Sebut saja, misanya, kata i’tqu min an-nar (bulan bebas dari api neraka). Secara semantik, kata bebas dari api neraka memiliki makna dan imajinasi yang dalam. Tidak boleh dipahami secara simbolik sehingga menyikapinya hanya sebatas amal ritual permohonan ampun pada Allah yang signifikansi praksisnya juga sangat terbatas. Kata itu harus dipahami secara luas ke arah makna penginsafan dosa dari segala dimensi kehidupan sosial ekonomi dan politik.

Pemahaman yang terakhir di atas itulah yang mengandung implikasi luas ke arah imajinasi pembebasan dosa dari segala aktivitas peradaban yang cela. Dengan amalan Ramadan kita berarti harus melakukan pembebasan dosa, antara lain dari dosa terhadap negara, prilaku aroganisme, kebodohan, kemiskinan, intoleransi, kebakhilan, dosa etos kerja, dan pembebasan dari dosa penataan lingkungan hidup. Selama ini pengetahuan sebagian umat tentang hukuman dosa hanya pada mereka yang meninggalkan kewajiban ibadah mahdah seperti salat, puasa, zakat, dan haji. Sementara, mereka yang tidak peduli dengan kemiskinan dan kebodohan, melanggar disiplin, perilaku sektarianisme, radikalisme, dan terorusme tidak suka melakukan penelitian (tidak cinta ilmu), merusak lingkungan, dan melanggar undang-undang negara, jarang dikecam sebagai perbuatan dosa.

Itu sebabnya setiap kali momentum ibadah Ramadan muncul, selalu saja berhenti pada kegiatan ritual monoton. Ironisnya, kegiatan ritual yang pada awalnya terlihat masif semakin hari semakin menyusut. Pada akhirnya, ibadah Ramadan hanya terlihat beberapa orang saja yang melaksankan salat Tarawih berjamaah. Dampaknya hingga kini amalan Ramadan belum memiliki imajinasi kreatif yang berupaya memperbaiki realitas sosial dan citra peradaban umat dengan konkret.

Fakta yang terjadi malah masih banyak pasca-Ramadan, orang-orang yang tidak merasa berdosa ketika bersikap masa bodoh atau tidak peduli dengan masalah sosial (kemanusiaan) moral, pendidikan, dan perdamaian lingkungan. Di bidang kemanusiaan, misalnya masih didapati orang yang membiarkan umat yang telantar tidak mendapatkan bantuan pendidikan, padahal mereka tergolong anak cerdas. Di bidang etos kerja dan moral, didapati para pegawai negara yang tidak disiplin dalam bekerja tepat waktu dan mengelola keuangan negara. Di bidang ilmu masih didapati plagiator ilmiah dan malas melakukan penelitian. Di bidang ketertiban dan penataan lingkungan masih didapati orang yang membuang sampah seenaknya dan melanggar ketertiban lalu lintas. Bahkan, hidup saling menghormati dan toleransi antara sesama umat nyaris tercabik-cabik oleh aroganisme kelompok. (*)