Oleh Nurul H. Maarif

Ritual puasa tidak hanya dijalankan oleh umat Islam. Umat-umat agama lain, seumpama Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu, dan Yahudi, juga memiliki ritual puasa, dengan cara dan aturannya sendiri. Tak heran jika Allah Swt menyebutkan kewajiban puasa bagi orang-orang beriman dengan ungkapan “sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu.” (Qs. al-Baqarah [2]: 183).

Secara umum, tujuan puasa yang dijalani umat-umat beragama itu sama, yakni self control atau kontrol diri. Dalam Islam, tujuannya jelas untuk menciptakan insan-insan bertakwa, yakni mereka yang mampu menjalankan perintah Tuhan dan meninggalkan larangan-Nya. Pengendalian diri ini menjadi komponen utama bagi terwujudnya jiwa yang sehat. Tanpanya, seseorang akan mengalami problem serius pada kesehatan jiwanya.

Dalam teori psikoanalisa, ritual puasa bahkan dinilai sangat penting bagi perkembangan kejiwaan pelakunya, karena meniscayakan proses al-imsak atau menahan. Sesuai definisi dasarnya, puasa itu ‘menahan’ diri dari makan dan minum, sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Juga menahan kebutuhan biologis lainnya. Tanpa ritual ‘menahan’, puasa menjadi tidak ada nilainya. Karenanya, proses ‘menahan’ ini menempati posisi urgen dalam keseluruhan ritual puasa.

Menurut teori ini, ‘menahan’ diri dari makan dan minum, juga hubungan biologis, menyebabkan superego lebih kuat dalam diri seseorang untuk tidak menuruti kemauan-kemauan biologis yang lebih menekankan aspek kepuasan dan kenikmatan fisik. Dalam kondisi kejiwaan seperti ini, kehidupan psikis seseorang secara umum akan lebih baik dan terus meningkat.

Dikatakan, perkembangan superego sebagai kekuatan moral dan etika telah dimulai sejak proses ‘menahan’ pada anak kecil dalam teori ‘toilet training’. Teori ini mengajarkan anak untuk mampu ‘menahan’ diri dari buang air kecil atau air besar di sembarang tempat. Ia harus membuangnya di tempat terhormat dan semestinya, yakni toilet.

Kendati harus ‘menahan’ dengan segala resikonya, sejatinya ia tengah belajar membuang kotorannya di tempat yang bermoral, tersembunyi dan aman. Dari proses ‘menahan’ inilah anak memahami mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang bermoral dan mana yang tak bermoral, mana yang pantas dan mana yang tak pantas. Merekapun mulai mengerti etika.

Dalam puasa, proses ‘menahan’ makan, minum dan hubungan biologis, ini akan melejitkan potensi spiritual diri. Misalnya, pelakunya mengalami quantum atau lonjakan spiritualitas yang berlipat dalam pengabdian pada Allah Swt. Orientasinya lebih banyak pada ibadah; orientasi tertinggi dalam diri seorang hamba. Shalat kian tekun. Tadarus Alquran kian kontinyu. Sedekah kian meningkat. Ucapan dan perilaku kian tertata. Dan, bukankan Allah Swt tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Nya (Qs. al-Dzariyat: 56)?

Selain itu, tanpa ‘menahan’, kejiwaan manusia akan sakit. Hati dan akalnya tidak akan berfungsi optimal. Dalam situasi ini, ia tidak akan mampu mengontrol nafsu ammarah-nya yang senantiasa mendorong pada tindak keburukan. Dalam ajaran Islam, kurang berfungsinya hati dan akal ini terjadi lantaran perut yang terlalu penuh oleh makanan dan minuman.  

Luqman Hakim, seorang bijak bestari, menasihati puteranya: “Wahai anakku! Apabila perut besarmu terlalu penuh, maka pikiran menjadi beku, hikmah akan membisu dan anggota badan akan malas mengerjakan ibadah”. Jelas sekali, untuk menjaga fungsi hati dan akal, kemampuan ‘menahan’ diri dari makan dan minum juga kebutuhan biologis lainnya, seperti anak kecil menahan hasratnya buang air kecil atau air besar, itu menjadi ritual sangat penting.  

Karena itu, jika ada sebagian orang yang beranggapan bahwa umat Islam yang menjalankan puasa adalah masochist (orang yang menyakiti dirinya sendiri), sesunggunya ia tengah mengigau. Anggapannya sangat keliru dan salah kaprah. Kaum muslim bukan menyakiti diri, melainkan tengah menaikkan level kekuatan hati dan akalnya. Tak heran, para nabi dan orang-orang saleh, terus mendawamkan berbagai ritual puasa, termasuk yang sunnah. Berbahagialah orang-orang yang menjalani puasa dengan penuh kekhusyuan![]

Dr. H. Nurul H. Maarif, M.A, Pengelola Pondok Pesantren Qothrotul Falah Lebak dan Penerima Apresiasi Pendidikan Madrasah Kemenag Banten 2017 Kategori Guru Madrasah Produktif