HM Musa, Mantan Kades yang Jadi Pengusaha Dodol

H Muhamad Musa mantan Kepala Desa Serdang Kulon yang kini menjadi pengusaha dodol. Dari bisnisnya, ia bisa meraup keuntungan hingga Rp100 juta per tahun.

Buka Rahasia Lembut dan Gurih, Pakai Air Kelapa

Dodol enak bukan cuma dijumpai di Garut. Di Kabupaten Tangerang ada dodol yang tak kalah cita rasanya. Ya, bisnis dodol ini digeluti mantan Kepala Desa Serdang Kulon Muhamad Musa. Dia bisa meraup keuntungan hingga Rp100 juta dalam setahun.

WIVY HIKMATULLAH – PANONGAN

MUSA sebelumnya menjabat kades periode 1982-1984. Dia memilih dodol sebagai peluang usaha. Soalnya memang suka dodol. ”Dulu waktu jadi Kades, ada orang Cina yang usaha dodol. Rasanya enak. Nah, waktu mau pergi haji juga saya sengaja beli banyak untuk bekal di Makkah. Di sana, ternyata banyak temen-temen pada coba. Termasuk jamaah haji lain yang enggak saya kenal. Dari situ, kemudian muncul niat, sepulang haji pengen buka usaha dodol,” katanya bercerita.

Untuk mewujudkan niatnya tersebut, Musa pun mulai belajar membuat dodol di tempat produksi dodol yang biasa ia beli. Mulai dari bahan baku hingga cara pengolahan secara tradisional. Lalu dipraktikan secara tekun dan teliti. ”Tetapi setelah belajar buat dodol, saya kepikiran untuk menambahkan satu bahan baku yang tidak digunakan pengusaha dodol lain yakni, air kelapa. Air kelapa yang dimasukkan ke dalam adonan membuat dodol jadi lebih lembut dan gurih,” tuturnya.

Ternyata, dodol buatannya yang juga dinamakan seperti namanya Dodol H Musa itu, banyak diminati para pembeli karena lembut dan gurih. ”Banyak orang berpikir, air kelapa itu enggak bagus untuk bikin dodol. Katanya membuat dodol cepat asem. Tetapi, setelah saya praktikan, justru dodolnya jadi lebih lembut dan gurih. Bahkan lebih tahan lama. Bisa kuat sampai dua minggu,” jelas Musa.

Musa menjelaskan, proses pembuatannya. Pertama, adonan yang sudah disiapkan dipanaskan di atas tungku dan diaduk selama tujuh jam di kuali besi. Untuk pengapiannya Musa masih mengandalkan kayu bakar. ”Setelah matang, lalu didinginkan semalaman. Setelah itu langsung dicetak. Ada yang ukuran kecil sekali suap, ada juga yang gulungan takaran seperempat sampai satu kilogram,” beber Musa sambil mempraktikkan cara pembuatannya.

Usaha dodol yang ia tekuni hingga saat ini dimulai dengan modal Rp 500 ribu dan menghasilkan 100 kilogram dodol dalam produksi pertamanya. Setiap tahun, usahanya makin meningkat. Kini, Musa bisa memproduksi dodol hingga dua ton dalam satu minggu. ”Apalagi kalau musim Lebaran, bisa sampai 5 ton dodol yang kami produksi. Bahkan dari dodol, saya bisa nyekolahin anak sampai jadi sarjana.” tutup Musa. (*)