Hoax versus Media Mainstream

0
1.732 views

Oleh Arief Rachman

Kandidat Doktor Administrasi dan Kebijakan Publik dan Ketua Komunitas Wakaf Uang Provinsi Banten

Timbulnya hoax di medsos karena beberapa hal. Pertama, media mainstream tertentu cenderung kurang netral atau hanya berpihak kepada pemilik perusahaan dan kurang menerapkan prinsip dan kode etik jurnalistik bahkan lebih suka menjual berita sensasional yang mempunyai nilai jual tinggi.

Kedua, informasi yang ditayangkan cenderung standard dan kadang kala dikendalikan oleh invisible hand sesuai keinginannya sehingga hal ini membuat masyarakat kurang percaya kepada media mainstream; ketiga jurnalisme yang lemah juga ikut membikin berita hoaks terus berkembang subur karena tidak terbiasa dengan proses verifikasi, cek dan recheck; keempat, faktor ekonomi yang lemah membuat peredaran hoaks terus ada.

Kelima, kemunculan internet semakin memperparah sirkulasi hoax di dunia maya; keenam, siapapun bisa membuat berita/opini yang kemudian disebar di medsos. Mengutip pendapat Dwi Agustina (2018), munculnya globalisasi menunjukkan eksistensi dari dua sisi yaitu dari sisi terang ke sisi gelap. Meningkatnya teknologi informasi digital menjadi salah satu yang memperjelas tentang sisi terang globalisasi. Namun, globalisasi ternyata juga memberikan sisi gelap pada era teknologi yang semakin maju ini. Salah satunya adalah munculnya berita hoax.

Medsos telah menjadi ruang baru bagi orang untuk mengekspresikan pendapat mereka tanpa batasan sosial. Antara realita dan bukan fakta menjadi tidak terbatas. Berita hoax yang semakin membanjiri dunia maya kini menjadi budaya produk yang dikonsumsi oleh masyarakat luas. Dengan hanya satu klik, hoax bisa menyebar ke seluruh penjuru dunia. Sehingga dunia maya menjadi ruang publik baru yang dikonsumsi oleh masyarakat untuk menyebarkan konten yang tidak benar. Agak sulit membedakan antara berita hoax dan bukan hoax manakala tidak melakukan check and recheck.

Menurut Dwi Agustina (2018), globalisasi menjadi salah satu titik masuk dari perkembangan teknologi. Perkembangan teknologi telah membawa manusia ke dalam peradaban yang serba digital. Hal ini merupakan salah satu sisi terang dari globalisasi. Dengan adanya teknologi digital yang canggih, masyarakat dapat bertukar informasi yang berkaitan dengan segala aspek kehidupan tanpa harus mengantre, berdesak-desakan bahkan bertatap muka. Sementara itu, sisi gelap globalisasi justru semakin menunjukkan ketimpangannya secara terus menerus. Dalam ranah teknologi informasi digital, kemunculan berita hoax menjadi konsekuensi nyata yang ditunjukkan sebagai sisi gelap dari globalisasi.

Kemunculan berita hoax tidak dapat dilepaskan dari perkembangan teknologi digital. Era digital membawa masyarakat pada belenggu teknologi yang memanfaatkan jaringan internet. Masyarakat saat ini seolah menjadi budak dari teknologi yang berbau internet. Smartphone menjadi simbol yang mendominasi media internet. Smartphone juga banyak menawarkan berbagai fitur atau aplikasi yang memanfaatkan jaringan internet sebagai ruang baru bagi masyarakat untuk berinteraksi dan membangun relasi sosial mereka. Akan tetapi, perkembangan smartphone yang semakin hari semakin canggih, tampaknya tidak diimbangi dengan pola pikir masyarakat.

Berbagai kalangan masyarakat dengan sangat mudah dapat mengakses informasi melalui medsos yang telah disediakan oleh smartphone tanpa ada batasan dan kendali. Medsos kemudian menjadi ruang baru bagi masyarakat dalam menjalin interaksi dan relasi sosial. Melalui medsos, jarak menjadi tiada arti. Individu dapat menjalin interaksi dengan individu lain kapanpun dan dimanapun mereka berada, tanpa harus memikirkan jarak dan waktu. Media sosial dijadikan individu sebagai ajang untuk mengekspresikan diri mereka sekaligus arena untuk mengemukakan pendapat mereka.

BERITA PALSU KONSUMSI MASYARAKAT VIRTUAL

Nurdin (2017) menjelaskan bahwa melalui media sosial setiap orang bisa dengan mudah membuat tulisan dan mengemukakan pendapatnya. Namun, seiring intimnya interaksi yang dilakukan oleh individu dalam media sosial, penyebaran informasi justru banyak mengarah pada berita-berita hoax yang hanya menguntungkan segelintir orang saja (Nurdin, n.d., 19).

Fenomena hoax kini semakin merajalela di jagat medsos. Masyarakat semakin populer dengan berita-berita hoax. Hoax diartikan sebagai upaya memutarbalikkan fakta menggunakan informasi yang meyakinkan namun kebenarannya tidak dapat dibuktikan. Dengan kata lain hoax juga dapat diartikan sebagai berita bohong, tidak benar dan palsu (Nafi 2018, 161).

Berita hoax yang menyebar melalui medsos dapat menimbulkan beragam opini masyarakat. Penyebaran berita hoax juga mampu membawa pada kerancuan informasi, kebingungan dan kehebohan public, bahkan hoax juga dapat berakibat pada perpecahan dan mengancam persatuan bangsa. Seluruh berita yang terposting melalui media sosial juga kian terkaburkan. Masyarakat semakin sulit mendeteksi berita yang nyata dan yang hoax.

Melalui rekayasa dari segelintir orang atau kelompok tertentu hanya dengan satu kali klik seluruh berita dapat tersebar ke seluruh penjuru dunia. Penyebaran berita hoax pun tidak memandang pada status dan peran mereka di masyarakat. Hampir semua kalangan menjadi incaran dan sasaran berita hoax.

Sebagaimana, Budiman (2017) menyatakan bahwa hoax tidak hanya ditujukan kepada individu, melainkan juga kepada institusi. Berita palsu dan bohong yang viral justru semakin menjadi budaya konsumsi masyarakat virtual. Masyarakat tidak lagi mengecek sumber kebenaran dari informasi tersebut. Namun lebih berupaya untuk langsung menyebarkannya kepada masyarakat umum. Sehingga, dalam hitungan detik informasi yang belum jelas kebenarannya telah tersebar ke-juta-an umat manusia. Perkembangan teknologi digital yang tidak diimbangi dengan sifat kritis dari masyarakat membawa mereka terjerumus ke dalam provokasi dan ujaran kebencian yang disampaikan oleh si pembuat berita hoax. Dengan lemahnya sifat kritis masyarakat dalam menyikapi informasi yang menyebar melalui media sosial turut membawa mereka pada jalur untuk terus mengkonsumsi berita tersebut sebagai konsekuensi negatif dari teknologi digital akibat globalisasi.

Menurut Werme (2016) dalam Ireton, Julie Posetti. 2018, fake news adalah berita palsu yang mengandung informasi yang sengaja menyesatkan orang dan memiliki agenda politik tertentu. Sedangkan Allcott, Hunt & Gentzkow, Matthew (2017) mengemukakan hoax bukan sekedar misleading, informasi fake news juga tidak memiliki landasan faktual namun disajikan seolah sebagai serangkaian fakta. Hoax bertujuan untuk membuat dan menggiring opini publik, membentuk persepsi yang menguji kecermatan pengguna medsos. Tujuan penyebaran hoax beragam tapi pada umumnya hoax disebarkan sekedar iseng, black campaign, penipuan promosi, atau ajakan untuk berbuat amalan baik yang sebenarnya belum ada dalil yang jelas di dalamnya.

PERUBAHAN BUDAYA MILENIAL
Mengkaitkan masalah hoax di media sosial dengan teori perubahan budaya maka kita dapat merujuk kepada pendapat Bahtiar Alam (2014), yang menyatakan bahwa teori budaya kontemporer dapat membantu kita memahami konsep-konsep seperti budaya dan identitas nasional bukan sebagai entitas esensialis yang statis, melainkan sebagai konstruksi sosial dinamis yang terus direproduksi dan diinovasi oleh subjek individu.

Proses globalisasi bukanlah suatu proses yang baru mulai akhir akhir ini, yang disebabkan oleh lonjakan perkembangan sistem teknologi dan komunikasi, tapi sejak masa lalu setiap masyarakat di muka bumi ini merupakan suatu “masyarakat global” (Sahlins 1994: 387). Begitu juga, kemajemukan kebudayaan terwujud bukan karena terisolasinya kelompok kelompok sosial, melainkan justeru karena adanya kontak secara terus menerus antara kelompok-kelompok tersebut (Lévi-Strauss, dikutip dalam Sahlins 1994: 387).

Bahtiar Alam (2014), temuan-temuan demikian mengajarkan kita bahwa proses “Globalisasi dan Perubahan Budaya” tidak perlu dihadapi dengan sikap menutup diri yang ekstrim. Sebaliknya, dengan memahami bagaimana kebudayaan itu dikonstruksi melalui wacana dan praksis, misalnya, kita juga dapat memanfaatkan proses globalisasi sebagai sarana utnuk memperkaya kemajemukan budaya kita. Dengan semakin sadar akan karakteristik dinamika kebudayaan yang demikian, kita pun akan menjadi sadar bahwa proses globalisasi dan perubahan budaya tak pernah absen dari kehidupan sosial manusia. Seperti dikatakan Lévi-Strauss, identitas atau jatidiri para pendukung kebudayaan menjadi kuat bukan karena isolasi tetapi justeru karena adanya interaksi antara budaya. Maka kewaspadaan akan hilangnya jati diri dalam proses globalisasi tak perlu menjadi kekhawatiran berlebihan yang menjurus pada xenophobia. Karena kontinuitas budaya, seperti dikemukakan oleh Sahlins (1994:389) justeru terwujud sebagai modus perubahan budaya.

Selanjutnya, seperti kita ketahui budaya medsos sekarang menjadi trend remaja. Remaja memanfaatkan medos sebagai sarana dalam mencari jati diri. Remaja yang menggunakan medsos, memanfaatkan berbagai macam fasilitas yang dimiliki oleh medsos untuk mengkontruksi identitas dirinya, dan sebagai wadah untuk unjuk diri. Pembentukan identitas diri dalam medsos tersebut dipengaruhi oleh pikiran dan pengalaman. Berdasarkan hal tersebut, disarankan dalam memanfaatkan medsos dapat dimanfaatkan dengan bijak dan sesuai dengan norma budaya yang ada di Indonesia. Remaja dapat menggali lebih dalam potensi dirinya, dan mencari berbagai macam informasi dalam medsos untuk menambah pengetahuan dan memperluas wawasan dalam hal positif.

Terakhir, solusinya cara mencegah penyebaran berita hoax adalah dengan cara : (1) Hati-hati dengan judul provokatif, (2) Cermati alamat websitenya, utamakan website yang secure, (3) Hindari domain blog, (4) Periksa fakta, (5) Cek keaslian foto, (6) Jangan langsung share berita, (7) Jangan langsung percaya begitu saja sebelum cek dan recek, (8) Ikut grup Anti-Hoax/turnbackhoax.id, (9) Jadilah generasi bijak dalam memilah dan memilih informasi. Wallahu a’lam bisshowab. (*)