Sejak kecil, Totong (34), bukan nama sebenarnya, sering diajak menonton kompetisi burung hias oleh pamannya yang kini telah tiada. Tak disangka, kebiasaannya itu terbawa sampai dewasa. Mulai dari mengoleksi burung berbagai jenis, ia juga menghiasi ruang belakang rumahnya dengan kandang burung berbagai rupa. Widih.

Parahnya, seakan rela mengorbankan apa pun demi memuaskan hobi mengoleksi burung, selain meminta uang pada orangtua, katanya, Totong juga nekad menjual barang-barang pribadi miliknya. Radio, konsol game, sampai telepon genggam ludes dijualnya. Astaga.

Hingga suatu hari, lantaran mulai jengah dengan kelakuan anaknya, sang ayah berniat menjodohkan Totong dengan wanita anak teman dekat. Perempuan muda yang masih menempa diri di pesantren, sengaja disiapkan sang ayah agar anak lelakinya bisa mengubah perilaku menjadi lebih baik.

Apalah daya, yah namanya juga anak muda zaman now. Sudah capek-capek dicarikan jodoh, tak ada hujan tidak ada badai, Totong justru membawa perempuan pilihan hatinya ke rumah. Wanita itu ialah Nining (29), nama samaran, kekasih hati yang sudah lama dirahasiakan dari orangtua dan keluarga. Entah mengapa, Nining pun tak bisa menjelaskan alasan Totong memilih dirinya. Padahal banyak perempuan lain yang lebih cantik dan menarik.

“Ya, namanya juga jodoh, Kang. Enggak lihat mana cantik mana jelek!” akunya.

Seperti diceritakan Nining, kisah cintanya bersama sang suami berawal ketika ia tertarik dengan penampilan Totong yang nyentrik. Lelaki yang dulu sering buat onar di sekolah itu mampu menarik perhatian kaum hawa. Dengan rambut lurus belah tengahnya, ia menjadi magnet bagi cewek-cewek remaja kampung.

Katanya nih ya, dulu, saking banyaknya wanita yang mengantre, Nining bahkan rela menjadi pacar kedua Totong. Penampilan keren dengan isi kantong tebal membuat masa muda Totong dikelilingi wanita cantik. Maklumlah, Totong terlahir sebagai anak seorang pengusaha sukses.

Kehidupan serba berkecukupan membuat Totong lupa kalau masa depan tidak selamanya ditanggung orangtua. Anak kedua dari empat bersaudara itu banyak menghamburkan uang untuk memuaskan hobinya. Padahal, adik-adiknya masih bersekolah, adik ketiga di pesantren, sedangkan adik keempat masih SMP.

Parahnya, ketika usia beranjak dewasa, Totong masih meminta uang pada orangtua. Oalah. Tak hanya kaya, keluarganya juga memiliki latar belakang keagamaan yang kuat. Namun lantaran Totong menolak dipondokkan saat remaja, ia sering mengabaikan nasihat saudara terkait perilaku keseharian yang bagi mereka dianggap membuang-buang waktu.

Bahkan, saking kecanduannya pada burung, tak jarang, jika setiap ada perlombaan burung tingkat kota maupun antarkampung sekalipun, tak peduli seberapa jauh jarak dan waktu yang ditempuh, demi menyalurkan hobi, Totong akan menempuhnya. Weleh-weleh.

Singkat cerita, menikahlah Totong dan Nining. Dengan pesta yang digelar meriah, mereka tampak berbahagia. Mengikat janji sehidup semati, keduanya resmi menjadi sepasang suami istri. Totong yang tampan bersanding dengan Nining nan cantik, pasangan baru itu terlihat serasi.

Di awal pernikahan, Totong termasuk suami yang bertanggung jawab. Meski masih tinggal satu atap bersama orangtua, ia selalu bisa mengambil hati ayah dan ibunya dengan sikap dewasa yang ia tunjukkan. Bersama Nining, ia membangun bahtera rumah tangga keluarga kecilnya.

Mengetahui perubahan sikap sang anak yang perlahan mulai menemukan jati diri, tentu sang ayah turut berbahagia. Meski begitu, berdasarkan cerita Nining, sang suami masih belum bisa hidup mandiri lantaran kerap diam-diam meminta uang ke ibunya. Waduh.

“Dia susah mandirinya karena ibunya sendiri perlakukan dia begitu, dimanjakan banget. Tapi bapaknya bakal marah besar kalau sampai ketahuan,” aku Nining.

Parahnya, hal semacam itu sudah sering terjadi. Meski cuma tiga ratus sampai lima ratus ribu rupiah, tapi Nining pun sadar, itu akan menjadi masalah besar jika dilakukan terus-menerus.

Mengetahui akan hal itu, sebagai istri tentu Nining tak bisa berbuat banyak. Bukan sekali dua kali ia mengingatkan suaminya agar mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, tetapi lagi-lagi Totong tak mau mendengarkan nasihatnya.

Tak tahan dengan kondisi perekonomian yang masih bergantung pada orangtua, Nining geram juga. Keseharian Totong dihabiskan hanya untuk kegiatan yang tidak produktif. Pagi memandikan burung, siang kasih makan burung, sorenya asyik bermain dengan burung sampai larut menjelang magrib. Begitu terus setiap hari.

Apa mau dikata, pertengkaran pun terjadi bak perang dunia kedua. Nining pulang ke rumah orangtua. Sedangkan Totong masih menjalani kehidupannya seperti biasa. Jika sudah begini, lagi-lagi keluarga yang kena batunya. Tak mau menanggung malu atas konflik yang terjadi antara Totong dan Nining. Akhirnya, sang ayah kembali menyatukan keluarga kecil Totong dengan mengadakan musyawarah dua keluarga. Beruntungnya, baik keluarga Nining dan Totong bisa saling merendahkan hati, mereka saling berjibaku memberi modal untuk membuka usaha. Totong pun kembali membujuk sang istri untuk pulang. Dengan modal yang diberikan ayahnya, ia berjanji akan membuka usaha.

Berjalan tiga bulan, belum ada pergerakan dari Totong mau membuka bisnis apa. Padahal, uang sudah ada di tangan. Meski begitu, Nining tetap barsabar dan melayani sang suami. Baginya, usaha sekecil apa pun yang dilakukan suaminya, merupakan awal dari sesuatu yang besar yang akan bermanfaat bagi masa depan keluarga.

Tapi, lagi-lagi seolah menabuh genderang perang, bukannya membuka usaha, Totong justru malah membeli banyak burung berbagai jenis lengkap dengan pakan dan kandangnya. Sontak Nining marah untuk kedua kalinya. Tak hanya itu, keluarga mereka pun tak tinggal diam, dimarahinya Totong habis-habisan.

Tapi anehnya, seolah masuk kuping kiri, keluar kuping kanan, semua omongan tak enak tidak didengarnya. Sampai berjalan dua minggu kemudian, barulah terlihat jelas apa maksud dari tingkahnya membeli banyak burung. Ternyata, di pinggir jalan yang tak jauh dari rumah, Totong membuka usaha berjualan burung hias bersama dua temannya. Waduh, ini sih namanya dari burung balik ke burung. Hehe.

“Ya begitulah, Kang. Memang susah sih kalau sudah hobi mah. Keluarga juga akhirnya ya enggak bisa apa-apa selain mendukung dia,” curhat Nining

Ya ampun, ya mungkin sudah begitu jalannya Teh. Semoga rumah tangga Teh Nining dan Kang Totong sejahtera selamanya. Amin. (daru-zetizen/zee/ira/RBG)