Home Industri Madu Palsu Digerebek

0
325 views
Kapolda Banten Irjen Pol Fiandar (empat dari kiri) mengangkat botol madu palsu saat ekspos di Mapolda Banten, Selasa (10/11)

SERANG – Industri rumahan madu palsu di daerah Joglo Kembangan, Jakarta Barat, digerebek polisi, Rabu (4/10). Madu palsu itu dipasarkan dengan embel-embel khas Banten.  

Peredaran madu palsu itu terbongkar usai AS (24) disergap di depan minimarket di Jalan Leuwidamar, Desa Kalanganyar, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Rabu (4/10). Petani Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak itu tengah membawa 20 botol madu palsu dan satu buah jeriken ukuran 30 liter berisi cairan madu palsu.

AS mengakui madu palsu itu berasal dari daerah Joglo Kembangan, Jakarta Barat. Oleh AS, madu palsu itu dijual kepada warga sekitar dengan embel-embel madu khas Banten. Tidak heran, madu palsu tersebut diminati hingga luar Banten. “Seolah-olah ini madu dari Banten. Hasil pemeriksaan tidak ada mengandung madu sama sekali. Ini (madu-red) diproduksi di Jakarta lalu dipasarkan ke beberapa wilayah termasuk Banten. Dari Banten dijual keluar lagi ke Jakarta,” kata Kapolda Banten Irjen Pol Fiandar saat ekspose di Mapolda Banten, Selasa (10/11).

Berbekal informasi tersebut, polisi mendatangi lokasi yang disebutkan AS. Saat di lokasi, pembuat madu palsu berinisial TM (35) diamankan. “Hasil pemeriksaan terhadap TM ini diperoleh keterangan bahwa dia diperintahkan oleh saudara MS (47) selaku pemilik (industri rumahan madu palsu-red),” kata Fiandar.

Saat penyergapan, MS tidak berada di lokasi. Polisi kemudian menunggu kedatangan MS ke lokasi. MS yang baru datang ke lokasi langsung disergap polisi dan dibawa ke Mapolda Banten.  

“Barang bukti yang diamankan, lima drum glukosa, 45 jiriken berisi cairan fruktosa dan brotowali. Kemudian empat drum madu palsu siap jual, 16 jeriken madu palsu siap jual, uang tunai Rp66 juta dan barang bukti lainnya,” kata Fiandar.

Cairan glukosa, tetes tebu dan fruktosa itu digunakan sebagai bahan baku pembuatan madu palsu. Bahan-bahan itu dimasak dan diaduk menggunakan tongkat kayu hingga menghasilkan cairan seperti madu. “Nanti terbentuk tekstur kental dan warna kuning sehingga menghasilkan pangan olahan cair sangat mirip dengan madu,” ujar Fiandar.

Industri rumahan ilegal itu dalam sehari mampu memproduksi satu ton cairan madu palsu. Cairan madu palsu itu dikemas menggunakan botol dan dijual secara eceran seharga Rp70 ribu per botol. Sementara pengecer kembali menjual setiap botol madu palsu itu seharga Rp150 ribu hingga Rp200 ribu. “Selama satu tahun telah memproduksi ratusan ton dengan omset penjualan madu palsu Rp8 miliar lebih,” kata Fiandar.

Sementara Direktur Reskrimsus Polda Banten Komisaris Besar (Kombes) Pol Nunung Syaifuddin menegaskan produsen madu palsu itu tidak menggunakan standar keamanan pangan. Sehingga berpotensi menimbulkan penyakit diabetes.

Madu palsu dengan embel-embel khas Banten ini semakin laku di pasar lantaran kondisi pandemi Covid-19. Sebab, madu khas Banten itu dipercaya dapat menjaga kekebalan tubuh.

“Sejak pandemi Covid-19, mengonsumsi madu bermanfaat untuk meningkatkan daya tahan tubuh sehingga marak penjualan madu,” kata Nunung didampingi Kasubdit I Indag Ditreskrimsus Polda Banten Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Doffie Fahlevi Sanjaya.

Lantaran perbuatannya, polisi menjerat ketiga pelaku itu dengan pasal berbeda sesuai peranannya. MS disangka melanggar Pasal 140 jo Pasal 86 ayat (2), Pasal 142 jo Pasal 91 ayat (1) UU Nomor 18 tentang Pangan. Pemilik home industri madu palsu itu terancam pidana dua tahun penjara dan denda Rp4 miliar.

Sementara TM dan AS disangka melanggar Pasal 198 jo Pasal 108 UU Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan dan Pasal 62 ayat (1) jo Pasal 8 ayat (1) huruf f Nomor 9 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. “Ancaman pidananya paling lama lima tahun dan denda Rp2 miliar,” tutur Nunung. (mg05/nda)