Hore! Cikolelet Resmi Jadi Desa Wisata

Google Street

SERANG – Desa Cikolelet, Kecamatan Cinangka, resmi ditetapkan sebagai desa wisata oleh Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah. Sesuai surat keputusan (SK) bupati, Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) dan organisasi perangkat daerah (OPD) lainnya diperintahkan untuk menindaklanjuti pengembangan wisata di desa kawasan wisata Anyar-Cinangka tersebut.

Kepala Desa Cikolelet Ojat Darojat mengaku sudah menerima SK dari Bupati Serang perihal penetapan desa wisata pekan lalu. Seiring terbitnya SK, kata Ojat, Pemkab sudah menyusun program untuk penataan dan pengembangan desa wisata. Mulai dari peningkatan jalan kabupaten menuju akes desa wisata, pembangunan jaringan listrik di objek wisata, pembangunan sarana mandi, cuci, dan kakus (MCK), sarana jalan akses wisata, pembinaan ekonomi kreatif masyarakat, penataan landskap di objek wisata, program agrowisata, hingga peningkatan capacity building unit pengelola wisata.

Alhamdulillah, SK desa wisata sudah kita terima. Sesuai SK, Ibu Bupati memerintahkan kepada Disporapar dan OPD menindaklanjuti pengembangan desa Cikolelet,” ungkap Ojat melalui WhatsApp, Sabtu (5/5).

Menurut Ojat, penetapan desa wisata lantaran beragamnya destinasi wisata alam di desanya. Saat ini pihaknya sedang disibukkan persiapan rencana Pemkab mengadakan kegiatan tradisi ngagurah dano sebagai rangkaian dari kegiatan tahunan Anyer Krakatau Culture Festival (AKCF). Ngagurah dano, yaitu tradisi mencari ikan massal di aliran Sungai Cidanau yang dilakukan setiap musim kemarau masyarakat di wilayah Kecamatan Cinangka, Mancak, dan Padarincang. “Ngagurah dano ini pesta rakyat seperti bedol Pamarayan. Bedanya ngagurah dano airnya tidak dikuras,” jelasnya.

Tak hanya itu, kata Ojat, di wilayahnya juga akan dibangun landmark dan penataan kawasan obyek wisata perkemahan di puncak Cibaja bantuan dari Dinas Pariwisata Provinsi Banten. “Akan berjalan tahun ini (pembangunan landmark dan penataan objek wisata-red). Program lainnya menyusul tahun depan. Kita juga sudah kerja sama dengan Universitas Trisakti untuk pengembangan desa wisata,” ujarnya.

Kata Ojat, wilayahnya yang sudah dijadikan tempat wisata sering dikunjungi wisatawan. Di antaranya puncak Gunung Pilar, puncak Cibaja, air terjun Curug Lawang, dan Curug Kembar. Selain itu juga, terdapat kegiatan ekonomi kreatif seperti pembuat emping melinjo, penyulingan minyak sereh wangi, serta peternakan kambing etawa atau susu kambing etawa. Ada pula kesenian dan budaya masyarakat seperti rudat, rampak kasidah, calung, kendang pencak silat, dan debus. Pada bidang kebudayaannya, ada tradisi nukuh, ngagurah dano, ngiring panganten, prah prahan, mamaca atau maca syeh, dan ngayun. “Setiap minggunya sekitar 500 wisatawan yang datang,” ucapnya bangga.

Sementara itu, Kepala Disporapar Kabupaten Serang Tahyudin membenarkan penetapan Desa Cikolelet sebagai desa wisata. Ia mengaku, sudah menyusun program untuk pengembangan wisata di desa tersebut. Menurutnya, harus ada program pengembangan amenitas dan aksesibilitas di Cikolelet seperti jalan dan pedestrian lingkungan. Tahyudin memastikan, desa wisata Kabupaten Serang baru ditetapkan di Desa Cikolelet. Ke depan ia berencana untuk menyusun penetapan daerah kepulauan sebagai desa wisata. “Seperti Pulau Tunda akan kita tetapkan sebagai desa wisata,” katanya. (Rozak/RBG)