Mungkin karena masih labil dan belum puas menikmati pengembaraan cinta, pasangan muda Jujun (26) dan Wati (24), keduanya nama samaran, diterjang gelombang besar problematika rumah tangga. Sama-sama tak bisa mengontrol diri, mereka saling meninggikan emosi. Aih-aih.

Entah karena bosan atau mungkin tak lagi cinta, keberadaan sang buah hati tak mampu menjadi benteng bagi Wati menahan godaan saat status sebagai istri orang. Berjalan dua tahun usia pernikahan, bukannya semakin kuat malah jadi penuh karat.

“Saya enggak nyangka bisa ngalamin hal rumit ini sama dia. Ini benar-benar bikin saya drop, enggak kuat, Kang!” curhat Jujun kepada Radar Banten.

Padahal, seperti diceritakan Jujun, hubungan asmara dengan Wati sudah terjalin sejak SMP. Mereka bertemu ketika masih sama-sama bau kencur. Belum mengerti arti cinta sesungguhnya, bahkan pacaran pun masih dalam tahap senang-senang saja.

Hebatnya, waktu itu mereka mampu bertahan tiga tahun lamanya. Di tengah godaan teman wanita yang jauh lebih cantik dan lelaki tampan, baik Jujun maupun Wati mampu mempertahankan hubungan. Kisah asmara mereka menyita banyak perhatian.

Namun, yang namanya cinta, terkadang mereka saling bertengkar dan marah satu sama laun. Tapi ibarat magnet yang saling tarik-menarik, Jujun seolah tak rela Wati menghilang begitu saja. Setelah lulus SMA, ya mungkin sama-sama khilaf, Jujun tak ingin menceritakan detail bagaimana peristiwa itu terjadi. Yang jelas, ia dan Wati sudah melakukan perbuatan yang seharusnya tidak dilakukan. Astaga.

“Waktu itu saya benar-benar menyesal. Sudah bikin kecewa orangtua dan keluarga. Untungnya kakak tertua mau menemani, jadi saya datang tiba-tiba dan langsung melamar. Ya, meski persiapan seadanya, tapi alhamdulillah bisa terlaksana,” tuturnya.

Meski terkesan memaksakan, ditambah raut orangtua Wati yang penuh amarah, acara lamaran malam itu berjalan tanpa ada kendala. Setidaknya, ketakutan Jujun akan kehilangan sang kekasih tercinta bisa teratasi karena sudah ada ikatan. Tak lama berselang, hanya dalam waktu seminggu mereka menuju jenjang pernikahan.

Dengan pesta sederhana, hanya mengundang tetangga dan orang terdekat, hari bahagia itu menjadi hari bersejarah bagi Jujun dan Wati. Mengikat janji sehidup semati, keduanya resmi menjadi sepasang suami istri. Dengan usia yang sebenarnya terbilang muda, mereka siap membangun bahtera rumah tangga.

Di awal pernikahan, Jujun menjadi suami yang baik dan perhatian, baik kepada istri maupun mertua. Setiap gajian, pasti membawa makanan. Biasalah, hitung-hitung cari perhatian dan beradaptasi dengan lingkungan. Perlakuan serupa tak jauh berbeda dilakukan Wati kepada keluarga suami.

Senang mengirimi makanan ke rumah mertua, Wati juga mencoba beradaptasi agar mendapat kesan baik di mata keluarga. Hasilnya, baik Jujun maupun Wati sama-sama disayang mertua. Rumah tangga mereka berjalan sempurna, pokoknya, mereka hidup bahagia.

Memasuki tahun pertama, lahirlah bayi lelaki lucu kebanggaan pasangan muda itu. Hubungan dengan kedua keluarga pun semakin harmonis. Namun, terkadang kebahagiaan memang tak selaras dengan keabadian. Menginjak tahun kedua pernikahan, sikap Wati tak lagi harmonis saat awal berumah tangga. Lah, kok gitu Kang?

“Saya juga merasa aneh. Bukan cuma istri, tapi sikap keluarga dia juga beda. Setiap hari kayak dipojokin gitu,” curhatnya.

Tak ada lagi tegur sapa, tak ada obrolan hangat menjelang senja. Keberadaan Jujun bagai patung yang tak bernyawa. Pokoknya, apa yang ia lakukan tak pernah dipandang baik istri dan keluarga. Sampai suatu ketika, selayaknya kepala keluarga, Jujun bertanya baik-baik pada Wati.

Dibawanya sang istri ke kamar dan berbicara empat mata. Tapi apesnya, bukannya mendapat jawaban yang jelas, Jujun justru dimarahi habis-habisan tanpa alasan. Bodohnya, waktu itu ia mengira kalau apa yang terjadi pada Wati hanya efek datang bulan. Waduh, kok datang bulan sih, Kang?

“Iya, biasanya dia gitu. Kalau lagi datang bulan suka emosian. Wah, pokoknya semua yang saya lakuin pasti dianggap salah. Jadi, saya sih tenang-tenag aja,” ungkapnya.

Sampai suatu hari, mungkin tak tahan dengan sikap sang istri, Jujun dengan sikap tegasnya kembali meminta kejelasan Wati. Tapi lagi-lagi, sang istri membentak, keributan pun terjadi. Seolah tak peduli pada keberadaan orangtua, Jujun berani adu mulut sambil berteriak.

Tak disangka, di puncak tingkat amarahnya, Wati mengatakan sesuatu yang ditakuti setiap pasangan. Perceraian. Saat itu juga, ia berhasil membungkam mulut sang suami yang tak henti berceloteh banyak hal. Wati keluar kamar, mencari ibunya dan memeluk erat sambil menangis histeris.

Parahnya, seolah tak ingin ikut campur pada masalah anaknya, ayah Wati cenderung diam dan tak peduli. Mungkin lantaran malu, ditambah perasaan yang tak dapat dikendalikan, Jujun pergi begitu saja, pulang ke rumah orangtua. Sejak saat itu, hubungan keduanya tak lagi menemukan arah.

“Awalnya orangtua saya enggak tahu kalau saya lagi ribut bahkan sampai ada kata cerai, jujur saya enggak sanggup bilangnya. Tapi ya semua sudah terjadi,” tutur Jujun pasrah.

Sampai seminggu kemudian, tak disangka, Wati serius mengurus perceraian. Melewati proses persidangan yang cukup menguras tenaga, waktu dan biaya. Mereka berpisah untuk selama-lamanya. Ya ampun, sabar ya, Kang!

“Sabar banget, Kang. Bahkan setelah dua bulan dia langsung nikah sama duda kaya juga saya mah sabar, sudah ikhlas,” tukas Jujun. Ya ampun kok bisa, Kang?

“Saya juga awalnya enggak nyangka, tapi kata orang-orang sih, bapaknya dia memang sudah merencanakan kalau anaknya bakal dinikahkan sama duda itu,” terang Jujun menutup perbincangan.

Ya ampun, semoga Kang Jujun diberi jodoh yang lebih baik ya, Kang. Amin. (daru-zetizen/zee/ags)