Hutan Jati Raya Destinasi Wisata di Sindangpanon

0
1581
Kepala Desa Sindangpanon Didik Darmadi bersama mahasiswa UMT yang KKN. Mereka berada di Hutan Jati Raya, destinasi wisata di Desa Sindangpanon, Senin (4/2) lalu.



TANGERANG – Destinasi wisata. Ya, hal inilah yang tengah dikembangkan oleh Pemerintah Desa Sindangpanon di Kecamatan Sindangjaya, Kabupaten Tangerang. Kebun pohon jati yang semula tidak terurus, diubah menjadi destinasi wisata yang cukup menarik. Menggali potensi desa untuk kesejahteraan masyarakatnya.

Menyulap kebun pohon menjadi destinasi wisata, -Hutan Jati Raya namanya-, menurut Kepala Desa Sindangpanon Didik Darmadi, merupakan terobosan pemerintah desa yang ia pimpin selama dua periode. Terobosan ini didukung oleh pemuda Desa Sindangpanon.

Hutan Jati Raya telah disulap menjadi destinasi wisata kekinian khas milenial. Tempat wisata yang cocok untuk generasi milenial ini, salah satu fasilitasnya adalah hammock atau tempat tidur gantung, telah menghasilkan tambahan pundi-pundi rupiah untuk kesejahteraan masyarakat Desa Sindangpanon, khususnya warga sekitar Hutan Jati Raya.

Didik menjelaskan, Hutan Jati Raya merupakan salah satu potensi desanya yang masih dikembangkan oleh pemerintah dan masyarakat Desa Sindangpanon. ”Kegiatan pariwisata ini digerakkan oleh para pemuda di Sindangpanon. Mereka diajarkan bagaimana mengelola keuangan, bagaimana mereka berinovasi untuk meraih keuntungan dari parkirannya, tiket masuknya, lalu pedagang yang ada di dalamnya,” ujarnya kepada Radar Banten pada Senin (4/2) lalu.

    Potensi desa yang juga tengah dikembangkan, lanjut Didik, adalah usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Saat ini, telah ada pengrajin topi bambu untuk Pramuka dan topi berbahan dasar bambu untuk kepentingan lainnya. ”Ada juga UMKM kue kering. Dulu, saya iseng memberikan modal Rp1,5 juta. Ternyata, keisengan saya itu berbuah hasil dan berjalan hingga sekarang. Dan pembukuannya ternyata rapi. Modal ini ternyata berkembang, dan mereka sekarang punya tambahan karyawan,” papar Didik.

Ia berharap, Desa Sindangpanon bisa lebih maju dan lebih berkembang lagi. Masyarakatnya juga diharapkan bisa hidup mandiri dengan berwirausaha. ”Harapannya, insfratrukturnya lebih bagus lagi, lebih berkualitas, lebih terjaga lagi. Dan yang menjadi harapan kami adalah, masyarakat Sindangpanon ini bisa lebih mandiri, punya usaha sendiri untuk menghidupi keluarganya,” tutur Didik yang menjabat sejak 2013. 

Pengelola Hutan Jati Raya, Muhammad Abdul Kholid, menceritakan bahwa jumlah hammock di hutan wisata yang dikelolanya cukup banyak. Hammock di Hutan Jati Raya digunakan oleh banyak wisatawan untuk tempat santai dan berswafoto. Makanya, tema yang diambil adalah ”Hammock-kan Bareng”. 

”Awalnya, kami para pencinta alam memasang hammock di kebun pohon jati ini untuk bersantai saja, tetapi mendapatkan respons positif dari masyarakat. Jadi, kita buka untuk umum pada Maret 2018 lalu. Sampai sekarang, responsnya positif. Alhamdulillah, banyak pengunjungnya. Untuk HTM (harga tiket masuk-red), kita dikenakan biaya Rp5 ribu saja,” terang Kholid. 

Silmiyatul Millah, mahasiswi Jurusan Perbankan Syariah, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Tangerang, mengaku memiliki kesan tersendiri berada di Desa Sindangpanon. Silmiyatul tengah melaksanakan tugas KKN dari kampusnya. ”Senang, tempatnya masih sejuk, jauh dari kebisingan kota. Terus, wisata Hutan Jati Raya dengan hammock-nya juga sangat inovatif. Cocok buat jadi tempat foto karena sangat Instagramable,” pungkasnya. (pem/rb/sub) 


PROFIL DESA:

Desa Sindangpanon berdiri tahun 1963 dan masuk wilayah Kecamatan Pasarkemis.

Tahun 2007, Kecamatan Pasarkemis dimekarkan. Desa Sindangpanon menjadi bagian dari wilayah Kecamatan Sindangjaya.

Kondisi sosial masyarakatnya heterogen.

Jumlah penduduknya 13.210 jiwa. Laki-laki 6.820 jiwa dan perempuan 6.390 jiwa.

Mayoritas penduduknya buruh swasta, ada 4.786 orang. Kemudian, aparatur sipil negara 26 orang, pengrajin 200 orang, pedagang 1.924 orang, penjahit 15 orang, tukang kayu sembilan orang, peternak 170 orang, sopir 128 orang, dan lain-lain.

Luas wilayah 453,25 hektare. Terdiri dari, permukiman 268,68 hektare, pertanian 159,57 hektare, prasarana umum 15 hektare, dan lahan pemakaman 10 hektare.

BATAS WILAYAH:

Sebelah Utara    : Kelurahan Sukatani, Kecamatan Rajeg.
Sebelah Selatan    : Desa Sukaharja, Kecamatan Sindangjaya.
Sebelah barat    : Desa/Kecamatan Sindangjaya.
Sebelah Timur    : Desa/Kecamatan Pasarkemis.