Hutang Hilang, Istri Melayang

Love Story

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

1. Sisy Tinggalkan Dimas

Sisy (32), nama samaran, tersenyum semringah. Ia melambaikan tangan ke arah Dimas (37), juga nama samaran, sambil mengucapkan selamat tinggal. Setelah agak lama berdiri di depan rumah, Sisy membalikkan badan melangkah ke luar gerbang rumah. Di sana telah menunggu Gultom, calon suami baru Sisy. Ow ow ow, ada apa ini?

Dimas hanya diam terpaku, dia tidak bisa berbuat apa-apa ketika sang istri direbut Gultom. Hatinya bergejolak, ada rasa marah, sedih, tapi ada pula rasa lega. Hah, lega? “Waktu itu saya tidak tahu harus merasa seperti apa. Sebab mau marah tidak bisa, merasa lega pun sepertinya salah,” kata Dimas.

Kok ada rasa lega ya, bukannya kalau istri direbut hanya ada rasa marah dan sedih? Menurut Dimas, lepasnya Sisy dari kehidupannya membuat hutang tak terbayarkan kepada Gultom juga ikut hilang. “Kalau bukan karena Sisy menikah dengannya, utang saya tidak mungkin terbayarkan,” tutur Dimas.

Sepintas, kalimat yang diucapkan Dimas seolah-olah dirinya telah menjual Sisy kepada rentenir karena terhimpit utang. Namun itu tidak benar, sebab kisah ini berawal dari sebuah perselingkuhan. “Sepayah-payahnya saya sebagai kepala rumah tangga, tidak mungkin saya menjual istri sendiri kepada rentenir. Ini semua gara-gara Sisy yang selingkuh dengan rentenir itu,” aku Dimas.

Gara-gara kesandung utang kepada si Gultom sang rentenir, hak Dimas untuk merasa marah atas perselingkuhan yang terjadi menjadi hilang. Ia pun seolah-olah tidak lagi memiliki hak untuk bisa mempertahankan Sisy sebagai istri. Sampai begitunya ya kalau berhutang kepada rentenir?

“Mau menangis malu, mau marah tidak bisa, dilema pokoknya Mas. Makanya waktu Sisy menggugat cerai saya agar bisa menikah dengan Gultom, saya juga hanya bisa diam,” terang Dimas.

Aih aih aih, jangan sampai deh kejebak hutang dengan rentenir. Apalagi utangnya sampai ratusan juta seperti yang terjadi kepada Dimas. Padahal saat meminjam uang, Dimas hanya mengambil puluhan juta. Namun bunga yang diberikan Gultom aduhay besar, sampai 80 persen. “Tadinya saya hanya ingin pinjam sebentar, itu untuk bisnis konveksi milik saya. Karena potensi profit sangat besar, saya kira bisa cukup untuk tutupi uang pinjaman termasuk bunga yang 80 persen itu,” jelasnya.

2. Terlilit Hutang

Dimas lalu bercerita panjang lebar. Ini bermula ketika ia mendapatkan kontrak pengadaan atribut calon kandidat kepala daerah saat musim pilkada di Lebak. Pesanan salah satu calon itu sangat banyak. Sampai-sampai stok bahan baku konveksi yang ia miliki tidak cukup untuk memenuhi pesanan si calon.

Padahal Dimas bisa saja join dengan pengusaha konveksi lain. Namun dia terlalu takabur, Dimas ingin merasakan proyek tersebut sendirian. Karenanya dia memberanikan diri meminjam uang kepada Gultom sang rentenir. Hitung-hitungan Dimas, bunga 80 persen sangat terjangkau jika dibandingkan keuntungan yang akan dia terima. “Saya kira waktu itu, bunga 80 persen kecil. Dibandingkan dengan keuntungan yang bisa saya dapatkan, bunga itu kira-kira hanya 10 persennya saja,” kata Dimas

Namun sayangnya, ada persoalan yang muncul ketika Dimas telah selesai memenuhi pesanan. Persoalan pertama, si pemesan barang yang datang kepada Dimas ternyata bukan orang suruhan langsung si calon kepala daerah. Kedua, jumlah pesanan atribut calon terlalu banyak. Terakhir, model pesanan atribut tidak disukai si calon kepala daerah. Intinya, tidak ada pihak yang ingin membayar atribut-atribut tersebut. Dimas pun mengkasuskan hal tersebut ke pihak berwajib, sayangnya hal tersebut tidak membuatnya mendapatkan ganti rugi.

Gara-gara itu, Dimas mendadak bangkrut. Meskipun si pemesan tertangkap polisi dengan tudingan penipuan, namun uang modal serta pinjaman rentenir tidak bisa kembali. Ya salam.

Di situlah Dimas mulai berurusan dengan Gultom. Sang rentenir tidak mau tahu tentang kejadian yang menimpa Dimas. “Gultom tidak mendengar alasan. Ia hanya mau uangnya kembali beserta bunga 80 persen. Jika tidak, entah apa yang akan dia lakukan kepada saya dan keluarga. Gultom itu lumayan kejam kalau sudah marah, apalagi kepada yang berhutang banyak kepadanya,” tuturnya.

Lantaran dikejar utang rentenir, Dimas terpaksa harus menjual tanah dan aset-aset miliknya. Hanya saja menjual tanah tidak bisa dilakukan secara instan, membutuhkan waktu lama. Selagi menjual tanah ia juga menjual beberapa barang lainnya. “Jualan tanah kan bukan seperti jualan bakwan. Ada prosesnya,” jelas Dimas.

Lamanya proses penjualan membuat bunga pinjaman terus berlipat. Tidak hanya bunga, namun kesabaran Gultom pun menipis dengan cepat. Nah, karena terjepit situasi, Dimas beberapa kali mengirim Sisy yang cantik untuk merayu Gultom agar lebih bersabar. Beberapa kali upaya tersebut berhasil, Gultom bersedia memberikan waktu lebih lama untuk Dimas.

Namun gara-gara terlalu lama, uang hasil penjualan tidak cukup untuk membayar semua piutang Dimas kepada Gultom. Lantaran tidak cukup, Dimas kembali meminta Sisy melobi Gultom untuk memberikan Dimas waktu kembali untuk mencari uang tambahan.

3. Sisy Terpikat Gultom

Dimas memang sering meminta Sisy menemui Gultom. Namun di luar sepengetahuan Dimas, Sisy jadi sering bertemu Gultom meskipun tidak disuruh. Ternyata, serentetan pertemuan Sisy dan Gultom membuat benih-benih cinta perselingkuhan tumbuh. Sisy yang tadinya berniat membantu suami, berubah jadi ketagihan untuk bertemu Gultom.

Nyatanya, Gultom beberapa kali menggoda Sisy dengan harta. Pada pertemuan pertama, Sisy diberi uang jajan jutaan rupiah. Pertemuan berikutnya, Sisy dibawa jalan-jalan ke mal dan dibelikan peralatan kosmetik.

Awalnya sih, Sisy menurut saja dibawa kesana dan kemari oleh Gultom. Karena niatannya membuat Gultom senang sehingga bisa memberikan keringanan waktu untuk sang suami. Namun karena Gultom sangat royal, Sisy jadi jatuh hati kepadanya.

Dimas mulai mencium aroma perselingkuhan setelah melihat barang-barang baru yang dimiliki Sisy. Khususnya sebuah kalung emas yang harganya sangat mahal. “Awalnya Sisy bilang dibelikan orangtua. Tapi saya tahu orang tuanya tidak mungkin bisa membelikan emas semahal itu. Setelah didesak, Sisy mengaku juga. Barulah di situ saya tahu dia selingkuh,” terangnya.

Dimas marah besar setelah mengetahui ada perselingkuhan. Namun amarah Dimas tidak bisa berlanjut ketika Sisy menghubungi Gultom jika suaminya marah-marah. Tidak lama kemudian Gultom menghubungi Dimas. Dia memarahi Dimas untuk tidak memarahi Sisy. “Gultom ancam saya, kalau sampai marah dia akan datang dengan anak buahnya,” aku Dimas.

Nyali Dimas langsung menciut, dia batal marah kepada Sisy. Saat itulah Sisy mengaku, jika dia ingin cerai dan menikah dengan Gultom. “Kata Sisy, kalau permintaan itu dikabulkan maka Sisy akan meminta semua piutang saya dengan Gultom dihapuskan,” terang Dimas.

Tidak lama kemudian Sisy melayangkan gugatan cerai. Alasan Sisy, tidak kuat dengan utang suami yang menumpuk. Proses perceraian berjalan verstek, atau tanpa kehadiran tergugat alias Dimas. Karenanya keputusan pengadilan agama cukup cepat, kira-kira hanya dalam satu bulan lebih. “Saya juga dilarang memenuhi panggilan dari Pengadilan Agama. Makanya saya hanya bisa diam,” terangnya. (RB/quy/zee)