IBI Banten Punya Tanggung Jawab Kurangi Kematian Ibu dan Anak

0
649 views
Peletakan batu pertama pembangunan Sekretariat IBI Provinsi Banten di Jalan Syekh Nawawi Al Bantani, Banjaragung, Cipocokjaya, Kota Serang, Sabtu (9/2).

SERANG – Tingginya angka kematian ibu dan anak di Banten harus menjadi perhatian para bidan. Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Provinsi Banten secara kelembagaan punya tanggung jawab untuk ikut mengatasi persoalan tersebut.

Apalagi Rancangan Undang-undang (RUU) Kebidanan telah disahkan pemeritnah bersama DPR sebagai undang-undang (UU). Dengan regulasi tersebut, para bidan memiliki payung hukum yang jelas untuk menjalankan kinerja dalam pelayanan kesehatan.

Ketua Komisi IX DPR RI Irgan Chairil Mahfiz menjelaskan, UU Kebidanan memuat penjelasan mengenai pendidikan, registrasi, dan izin praktik bidan. Lalu, hak dan kewajiban bidan, organisasi profesi bidan, pendayagunaan bidan serta pembinaan juga pengawasan.

“Jadi untuk kerja-kerja IBI sekarang diakui,” katanya di sela-sela peletakan batu pertama pembangunan kantor Sekretariat IBI Provinsi Banten di Jalan Syekh Nawawi Al Bantani, Banjaragung, Cipocokjaya, Kota Serang, Sabtu (9/2).

Adanya UU Kebidanan, Irgan meminta para bidan dapat meningkatkan kapasitas diri untuk meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Khususnya pada penurunan angka kematian ibu dan anak di Banten yang masih cukup tinggi.

“Para bidan bisa lebih konsen lagi dalam menurunkan kematian ibu dan anak agar kita bisa menyiapkan generasi yang akan datang lebih baik lagi,” cetus politisi PPP ini.

Hasil riset United States Agency for International Development (USAID) Jalin, di Provinsi Banten setiap minggu dirata-ratakan ada 5 orang ibu dan 27 bayi baru lahir yang meninggal dunia. Pada tahun 2016, total kematian ibu mencapai 240 orang, dengan asumsi lima ibu meninggal setiap minggu. Jumlah kematian ibu tertinggi berada di Kabupaten Serang dengan 59 kasus.

Sensus kematian ibu tahun 2015-2017 di Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang dan Kota Serang menemukan jumlah kematian ibu yang lebih besar, yaitu 324 kematian. Pada 2015, sebanyak 138 anak meninggal pada usia 0-28 hari. Jumlah kematian anak tertinggi terdapat di Kabupaten Lebak dengan 371 kasus dan Kabupaten Tangerang dengan 322 kasus.

Ketua IBI Provinsi Banten Yani Purwasih membenarkan jika angka kematian ibu dan anak masih tinggi. Meski tidak menyebut detail angkanya, kematian ibu dan anak di Banten melebihi kasus secara nasional. “Untuk angka perlu dicek secara pasti, tapi di Banten masih posisinya di atas nasional,” cetusnya.

Yani mengatakan, bersama Dinkes Provinsi Banten dan Dinkes kabupaten/kota di Banten akan terus  melakukan sinergi dalam meningkatkan pelayanan kesehatan. “Bersama Dinkes kita terus berkontribusi untuk menentukan angka kematian ibu dan anak, juga keluarga berencana,” katanya. 

Disahkannya UU Kebidanan, kata Yani, juga membuat para bidan lebih optimistis. Terlebih, regulasi itu dapat membuat para bidan punya kejelasan dalam menjalankan tugas pelayanan kesehatan. “Jadi kita lebih punya kepastian dalam melaksanakan tugas,” ujarnya. (Supriyono/Aas)