Ibu Rumah Tangga Dihukum 8 Bulan Gara-gara Over Kredit Mobil

0
369

SERANG – Siti Sohaeni (42) dihukum delapan bulan penjara oleh majelis hakim
Pengadilan Negeri (PN) Serang, Selasa (27/8). Ibu rumah tangga (IRT)
asal Kelurahan Bendungan, Kecamatan
Cilegon, Kota Cilegon tersebut terbukti bersalah mengalihkan (over) kredit kendaraan secara ilegal.

“Menghukum terdakwa dengan pidana penjara selama delapan bulan, dan denda
10 juta. Apabila tidak dibayar maka diganti dengan pidana penjara
selama satu bulan kurungan dengan perintah tetap ditahan,” kata Ketua
Mejelis Hakim Chairil Anwar dalam amar putusannya.

Majelis menilai perbuatan Siti telah terbukti bersalah melanggar
Pasal 36 Undang-Undang RI Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia.
Dalam pertimbangannya, Siti dinilai telah menikmati hasil over kendaraan tersebut sebagai hal yang memberatkan. “Hal-hal yang meringankan terdakwa berterus terang, mengakui perbuatannay dan belum
pernah dihukum,” kata Chairil dalam sidang yang dihadiri JPU Kejati
Banten Puji Yati.

Perkara fidusia tersebut bermula saat terdakwa melakukan pembelian 1
unit kendaraan minibus tahun 2016 berplat nomor A 1011 S di PT Astra Internasional Cabang Serang dengan uang muka sebesar Rp21,230 juta. Untuk pelunasan kendaraan terdakwa mengajukan kredit pembiayaan kepada PT Astra Sedaya Finace (ASF) Cabang Serang. Pengajuan itu disetujui dengan ketentuan PT ASF Cabang Serang
melakukan pembayaran mobil yang dipesan terdakwa sebesar Rp205,400
juta.

Selanjutnya, terdakwa diharuskan membayar cicilan Rp 4,816 juta
setiap bulannya selama 60 bulan. Namun baru melakukan pembayaran
sebanyak 4 kali, terdakwa malah mengalihkan kredit kepada saksi,
Dumiyati, Sanun dan Herman, sebesar Rp25 juta tanpa persetujuan dari PT
ASF Cabang Serang. Akibatnya PT ASF Cabang Serang mengalami kerugian
sebesar Rp269,696 juta.

Menanggapi putusan tersebut, terdakwa yang didampingi kuasa hukumnya
Suwadi menyatakan menerima putusan. Sikap yang sama diambil JPU Kejati
Banten kendati vonis lebih ringan dua bulan dari tuntutan. “Kami
menerima yang mulia (menyebut hakim-red),” tutur JPU Kejati Banten
Puji Yati. (Fahmi Sai)