Idul Fitri Lebaran Kita

Oleh H.M. Ali Mustofa

Idul Fitri identik dengan hari lebaran yang merupakan salah satu hari raya umat Islam, dirayakan oleh seluruh lapisan masyarakat muslim (tua-muda, laki-laki-perempuan, kaya maupun miskin) sesudah umat Islam menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Secara bahasa kata Id berarti kembali  yang berasal dari akar kata aada – yauudu sedangkan fitri memiliki makna buka puasa untuk makan dan minum juga memiliki makna suci.

 Adapun fitri yang berarti buka puasa merujuk pada hadis Rasulullah SAW di antaranya dari Anas r.a. yang meriwayatkan bahwa pada waktu Idul Fitri Rasulullah SAW tidak berangkat ke tempat shalat sebelum beliau memakan beberapa biji kurma dalam jumlah ganjil.” (HR Bukhari). Juga hadis dari Said bin Musayyab yang meriwayatkan di dalam kitab al Muaththa bahwa orang-orang diperintahkan makan terlebih dahulu sebelum pergi shalat Idul Fitri.

 Berdasarkan nash-nash tersebut maka Idul Fitri adalah hari raya di mana umat Islam dianjurkan untuk kembali berbuka dengan makan dan minum serta diharamkan berpuasa. Sedangkan kata Fitri yang berarti suci dan bersih dari segala dosa merujuk pada hadis Rasulullah SAW yang artinya “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan didasari iman dan semata-mata karena mengharap ridha Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq ‘alaih). Juga hadist yang menyatakan “Barangsiapa yang shalat malam di bulan Ramadhan dengan didasari iman dan semata-mata karena mengharap ridha Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq ‘alaih). 

Jika merujuk pada nash-nash tersebut maka  Idul Fitri berarti kembali kepada asal kejadian manusia  yakni suci dan mengikuti petunjuk Islam sebagai agama yang hanif. “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepda agama (Islam); (sesuai) firah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia  menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. 30 : 30). 

Bagi kita (umat Islam) yang selama Bulan Ramadhan diwajibkan untuk melaksanakan shaum sebulan penuh itu bagaikan berada dalam suasana pendidikan dan pelatihan (diklat). Tidak saja didiklat dari sisi fisik (lahiriyah) dengan tidak makan dan minum tetapi juga didiklat dari sisi bathiniyahnya dengan menjaga lisan, seluruh indera, pikiran dan hatinya yang dapat membatalkan atau setidaknya mengurangi pahala puasanya. Jika lulus dari proses diklat ini maka wajar bila kita yang berpuasa diibaratkan seperti bayi yang lahir dari rahim ibunya yang suci dan bersih  sesuai Sabda Nabi SAW yang artinya “Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah.” Fitrah dalam arti suci dan bersih lantaran telah diampuni dosanya yang telah lalu sebagai balasan atas keikhlasannya dalam melaksanakan Shaum Ramadhan dengan penuh pengharapan atas ridha Allah SWT semata.

Atas balasan Allah SWT yang telah mengantarkan kita sebagai kaum beriman kembali menjadi suci itu maka wajar jika kita bertakbir mengakui keagungan Allah SWT yang telah berkuasa menjadikan kita mampu melaksanakan puasa dengan mengharap ridha Allah SWT semata kembali menjadi suci. Bertahlil mengakui dan mengesakan Allah SWT sebagai dzat tunggal yang memiliki kasih sayang dengan menjadikan Ramadhan bulan diklat jasmaniyah dan rohaniyah dan bertahmid memuji Allah SWT yang telah menjadikan kita lulus diklat dan meraih predikat takwa sehingga terjaga dari perbuatan dosa dan konsisten pada ajaran agama yang hanif.   

Atas ungkapan rasa syukurnya itu kita merayakanya dengan memakai pakaian terbaik, melaksanakan shalat id, memakan makanan terbaik dan bersalam-salaman. Simbol makanan terbaik di hari raya Idul Fitri adalah ketupat bersegi lima yang secara filosofis memiliki makna bahwa Allah SWT yang esa dan maha kuasa itu menguasai empat penjuru mata angin. Tidak ada raja di muka bumi ini yang mampu menguasai empat penjuru mata angin kecuali gusti Allah SWT yang pada malam hari raya dan pada saat melaksanakan shalat Id asmanya diagungkan secara berulang-ulang sebagai bukti ketundukan kita kepada Allah SWT.  Sebutan lain dari Ketupat adalah Kupat singkatan dari Ku (mengaku) dan Pat (Lepat) yang secara sosiologis dan antopologis istilah Kupat telah mewakili lapisan masyarakat Banten Utara yang berdialek Jawa Cirebonan dan Banten Selatan yang berdialek Sunda Pajajaran. 

Sebelum atau sesudah makan ketupat kita biasanya bersalam-salaman, meskipun pada situasi pandemi Covid-19 ini bersalam-salaman dengan berjabat tangan telah dibatasi. Namun makna simbolik dari berjabat tangan adalah saling memaafkan manakala selama 11 bulan berinteraksi dan satu bulan berada pada kondisi diklat ada tutur kata dan perbuatan yang tidak berkenan. Bersalaman menunjukan bahwa dosa-dosa itu menjadi lebur seiring dengan persentuhan antar hati dan tangan antara manusia yang telah sadar akan khilaf dan dosanya itu. Karena itu bisa dipahami jika Idul Fitri tidak saja disebut sebagai hari lebaran, juga bisa disebut hari lebur dan tentu saja yang diharapkan adalah hari raya luber penuh dengan kue dan penuh dengan keberkahan.

 Lebar dari segenap pantangan dan kesulitan, lebur dari dosa termasuk dari tekanan pandemi Covid-19 dan luber dengan pahala dan keberkahan. Itulah yang kita harapkan dari perayaan hari raya Idul Fitri tahun ini.  Hari Raya Idul Fitri ini diharapkan menjadi hari raya lebaran milik kita tanpa membedakan kelas social. Hari raya yang mampu mendekatkan jarak antara yang kaya dengan yang miskin dengan jalinan silaturrahimnya. Dengan jalinan kasih sayang yang disimbolkan dengan infak dan shadaqoh, zakat mal dan zakat fitrah bukan dengan konser music yang berkonotasi hambur dan mubazir. Tetapi dengan amalan social yang menggugah kepedulian dan mampu menggembirakan kaum fakir miskin, anak-anak yatim dan kaum mustad’afin melebur dalam suasana kebatinan yang diliputi oleh kasih sayang Allah SWT. Amalan itu mewujud dalam bentuk silaturrahim. 

Silaturahim inilah yang menjadi motivasi utama mengapa para pemudik berbondong-bondong mengunjungi sanak familinya di kampung halaman dengan biaya dan segala resikonya pada setiap hari raya lebaran tiba. Sebelum pandemi Covid-19 terjadi yang berakibat mudik dilarang, sejatinya aktivitas mudik memiliki makna spiritual dan material. Bagi pemudik yakin dengan bersilaturrahim akan menambah umur dan rezeki, di samping dapat melepas rasa rindu dengan sanak keluarga, teman-teman lama, tetangga dan sebagainya. Pada sisi ini mudik memiliki makna spiritual (membawa berkah) dan aktivitas horizontal yang mentransformasikan dari rasa keakuan (egoisme) kepada rasa kekitaan (berbaur) dalam suasana yang diliputi kegembiraan, cair dan mengalir. 

Secara material mudik juga membantu aliran materi (barang, jasa dan uang) dari kota ke kampung dan dari yang berpunya ke yang papa dalam bentuk derma dan hadiah. Ada pengurangan jarak yang semula senjang menjadi rapat dan dari yang semula individualis (aku) menjadi berinteraksi (kita). Pendeknya secara materi aktivitas mudik cukup signifikan dalam membantu menggerakan perekonomian di kampung halaman. Meski demikian akibat pandemi Covid-19, sisi material dan juga mungkin sisi spiritual mudik akan berkurang lantaran silaturahim yang semula mampu mendekatkan jasad wadag dalam jabat tangan akan berganti dengan hanya mendekatkan jasad halus karena jabat tangannya diganti dengan jabat tangan online. Itulah fenomena lebaran pada masa pandemi Covid-19 di tahun 2020.  

Kita berharap Idul Fitri tahun ini tetap semarak dan semangat ditandai dengan berbondong-bondongnya masyarakat muslim tua-muda, kaya-miskin, laki-laki dan perempuan melaksanakan Shalat Idul Fitri di lapangan karena  pandemic Covid-19 telah lebur dibakar oleh atmosfir Ramadhan 1441 H. Umat Islam berbondong-bondong dan berbaur menggambarkan bahwa Idul Fitri ini milik kita bersama memenuhi apa yang diperintahkan Allah dan Rasul Nya sebagaimana diriwayatkan oleh Ummu Athiyah bahwa “Kami diperintahkan agar Memerintahkan para gadis dan wanita yang haid pada kedua hari raya agar mereka dapat menyaksikan kebaikan pada hari itu dan juga do’a dari kaum muslimin. Hanya saja, hendaknya wanita-wanita yang haid menjauhi tempat shalat.” 

Ya Idul Fitri tahun 2020 akan menjadi simbol kemenangan, simbol kelulusan dari ujian Allah SWT, simbol syiar Islam yang dirayakan dengan mengagungkan asma Allah, bertahlil dan bertahmid menghaturkan syukur kepada gusti Allah SWT seraya mengguncang jagad raya dengan doa yang dipanjatkan untuk mengakhiri bala dan mencegah bencana terutama mengakhiri pandemic Covid-19 ini yang telah sempat memporak-porandakan dunia. Semoga. Selamat Idul Fitri 1441 H. Taqabalallah Minna Wamingkum Shiyamana Washiyamakum. Kullu Aam Wantum Bikhair. (*)


Penulis adalah Sekretaris Gugus Tugas Covid-19 MUI Provinsi Banten dan Sekretaris Dewan Pertimbangan FSPP Provinsi Banten.