Ikhlas Melayani Peserta JKN-KIS Hingga Pelosok Desa

0
617 views

LEBAK – Klinik Tanti Kirana selaku mitra BPJS Kesehatan menjadi kepercayaan masyarakat sekitar untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, bahkan bukan hanya di Kecamatan Muncang, tapi juga empat kecamatan lain seperti Kecamatan Sobang, Kecamatan Sajira, Kecamatan Leuwi Damar, dan Kecamatan Cipanas.

Tidak ada pikiran lain di benak Nurlaela selain ikhlas dan membantu masyarakat yang berada di sekitar Klinik Tanti Kirana miliknya di Kampung Ciminyak, Desa Ciminyak, Kecamatan Muncang, Kabupaten Lebak, Banten. Namun tidak disangka, hal itu berbuah manis untuk klinik dan dirinya sendiri.

Secara pribadi, perempuan yang akrab disapa Ibu Haji Ela tersebut mendapatkan kepercayaan BPJS Kesehatan Kedeputian Wilayah Banten, Kalimantan Barat dan Lampung untuk mengikuti Jambore Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) tingkat nasional.

“Saya tidak tahu ada penilaian atau tidak, saya menjalani rutinitas saja. Saya tidak berharap menjadi terbaik dan ikut jambore, karena saya tinggal di pelosok. Intinya saya melaksanakan kegiatan, mungkin karena kepuasaan masyarakat,” papar Ela saat dijumpai di kliniknya, Rabu (24/1).

Ela menuturkan, dirinya sempat mendengar akan ada penilaian, namun dirinya tidak menyangka jika penilaian itu dilakukan melalui angka kontak terhadap peserta JKN-KIS.

“Tahu-tahu saya dapat informasi ikut jambore. Temen-temen saya yang lain (pemilik faskes) bilang hebat, saya merasanya mungkin ini berkah bagi saya,” tutur Ela.

Ela yang mempunyai klinik sejak tahun 2009 tersebut mengaku merasakan dampak yang sangat signifikan sejak adanya program JKN-KIS yang dikelola oleh BPJS Kesehatan. Yang paling menonjol adalah sibuknya pelayanan kesehatan.

“Sebelum era JKN masih santai, sekarang lebih banyak lebih sibuk. Sebab, di sini itu yang ditanyai ada Ibu Haji, mungkin karena sugesti, pernah ada yang diperiksa dokter tapi ingin diperiksa lagi oleh saya. Kadang saya kalau keluar saya merasa tidak tenang, kunjungan merosot,” kata Ela.

Ela yang asli dari kecamatan tersebut dan menjadi bidan, membuat masyarakat sekitar merasa lebih percaya dan nyaman saat berobat maupun memeriksa kesehatan dan konsultasi.

Selain itu, Ela yang kerap jemput bola dengan mendatangi langsung masyarakat yang tidak mengikuti program menjadi alasan lain kepercayaan masyarakat terhadap Ela. “Kelompok Prolanis yang kita bina, satu kali tidak datang kita telepon, kita jemput bola, kenapa tidak datang,” katanya.

Terkait program JKN-KIS, selain Prolanis, Klinik Tanti Kirana pun menyelenggarakan Prosalin, Pelayanan USG gratis, laboratorium gratis. Selain itu, kliniknya pun menerima rawat inap. “Ruangannya di sini (klinik) ada barak yang menampung lima pasien, lalu di paviliun (klinik milik Ela yang berada tak jauh dari klinik utama) ada lima kamar,” katanya.

Saat ini ada 6.000 orang yang terdaftar sebagai peserta JKN-KIS di kliniknya. Setiap bulannya lebih dari 2.000 peserta yang berobat baik rawat jalan, rawat inap dan kunjungan sehat.

“Rawat jalan 1.200 orang per bulan, per hari rata-rata 45 orang, kunjungan sehat kita kasih konseling per hari rata-rata 35-40 orang, home visit kadang seminggu empat kali, kadang tiga kali, rawat inap 60 sampai 65 orang setiap bulan,” tutur Ela.

Dijelaskan Ela banyak peserta JKN-KIS yang terdaftar di faskes lain ingin pindah ke faskes miliknya, namun karena jarak ke kantor BPJS Kesehatan yang jauh membuat masyarakat menahan keinginannya.

“Di sini banyaknya yang dibiayai pemerintah / Penerima Bantuan Iuran dari Pemerintah, karena kalau mau pindah faskes harus pindah ke sana (kantor BPJS Kesehatan), karena jauh kan jadi masyarakat juga jadi enggan,” katanya.

Karena itu, Ela berharap petugas BPJS Kesehatan bisa datang ke faskes miliknya agar masyarakat bisa mengurusi perpindahan faskes di faskes miliknya. “Kalo untuk program BPJS Kesehatan cukup bagus. Kalau ditiadakan kecewa ke masyarakatnya,” tuturnya.

Salah satu peserta JKN-KIS, Aisyah mengaku sangat tertolong dengan adanya JKN-KIS, selain tidak pusing saat akan berobat, dirinya pun bisa menjalankan pola hidup sehat dengan ikut program prolanis.

“Habis pangaosan (pengajian) ke sini, olahraga dan sosialisasi prolanis,” katanya.

Warga Kampung Coo, Desa Coo, Kecamatan Muncang, itu berharap agar program JKN-KIS tetap ada karena sangat menjawab kebutuhan masyarakat yang keterbatasan secara ekonomi seperti dirinya.

“Saya kan dibayarin,” ujar perempuan yang sudah setahun jadi peserta JKN-KIS tersebut.

Hal senada dituturkan peserta JKN-KIS lainnya, Asiyah. Perempuan yang juga sekampung dengan Aisyah itu mengaku hidupnya terasa lebih sehat setelah ikut program prolanis. “Saya sakitnya darah tinggi. Ikut prolanis setiap minggu, badan enak dan lebih sehat,” tutupnya. (ADVERTORIAL/BPJS KESEHATAN)