Ikut Aksi 22 Mei, Warga Batuceper Tewas

Suasana rumah duka Bachtiar Alamsyah, salah satu korban meninggal dunia dalam aksi 22 Mei, Rabu (22/5). Beberapa keluarga dan warga sekitar mulai melayat ke rumah korban.

TANGERANG – Bachtiar Alamsyah, pemuda berusia 23 tahun yang tinggal di RT 02, RW 04, Kelurahan Poris Gaga Baru, Kecamatan Batuceper menjadi salah satu korban meninggal dunia pada aksi 22 Mei di Jakarta. Pemuda yang sehari-hari bekerja di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) itu menghembuskan napas terakhir di RS Pelni, Jakarta, lantaran diduga tewas tertembak di bagian leher saat beristirahat di salah satu masjid di wilayah Tanah Abang.

Selain Alamsyah, terdapat dua korban lainnya yang mengalami luka di bagian tangan lantaran diduga menerima tembakan timah panas petugas. Kedua korban tersebut yakni, Kiki mengalami luka diduga akibat terserempet peluru dan saat ini korban sudah pulang ke rumah. Sedangkan Yoga Alaska yang mengalami patah tulang bagian kanan mesti dilarikan ke RSUD Tangerang.

Pantauan wartawan koran ini, Rabu (22/5) di rumah duka sudah dipenuhi oleh kerabat dan tetangga yang hendak melayat serta menyampaikan bela sungkawa. Terlihat bangku-bangku plastik telah disiapkan keluarga untuk para tamu.

Salah satu warga sekitar Nursin yang dimintakan keterangan mengatakan, kabar meninggalnya Alamsyah didapatkan dari Yoga Alaska yang juga ikut berangkat ke Jakarta. ”Awalnya tahu dari temannya yang berangkat juga, katanya Alamsyah meninggal karena tembakan,” ungkapnya.

Kata Nursin, Alamsyah berangkat ke Gedung Bawaslu RI usai pulang kerja pada Selasa (21/5) malam di Bandara Soetta dan tiba sekira pukul 22.30 di wilayah Petamburan, Jakarta Barat. ”Almarhum berangkat ke Jakarta karena kemauannya sendiri untuk pergi ikut aksi tersebut. Dia diketahui boncengan dengan temannya yang juga jadi korban luka,” ujarnya.

Sedangkan Paman dari Alamsyah yakni Usman HS mengatakan, Alamsyah merupakan pemuda yang aktif di lingkungan sekitar. ”Dia juga sangat agamis, aktivis masjid, dan pelatih sanggar Padepokan Mang Ulung,” ungkap pria yang juga menjabat sebagai Ketua RT 04, RW 02, Kelurahan Poris Gaga Baru, Kecamatan Batuceper ini.

Menurutnya sebelum berangkat menuju Jakarta, korban sempat meminta izin ke pimpinan Padepokan Mang Ulung. Ia berangkat menuju Jakarta usai salat tarawih dengan konvoi bersama rekan-rekannya. ”Waktu di Jakarta saat istirahat di salah satu masjid di Wilayah Tanah Abang kabarnya Alamsyah diduga terkena tembakan, padahal sudah jelas Alamsyah niatnya untuk demostrasi damai. Apa lagi mereka juga datang aksi tanpa membawa senjata atau apapun yang membahayakan,” tutur Usman dengan mata berkaca-kaca lantaran sedih meratapi kepergian Alamsyah.

Lebih lanjut, Usman meminta oknum yang diduga menembak ponakannya tersebut bisa ditindak tegas oleh petugas. ”Kami berharap si penembak diselidiki hingga tuntas, setiap pembunuhan kan sudah ada hukumannya,” pungkas pria yang juga berprofesi sebagai guru agama ini.

Sementara itu, keluarga almarhum lainnya, Lela menuturkan, keponakannya merupakan pemuda yang dekat dengan warga sekitar. Setiap melintas Alamsyah selalu menyapa orang-orang yang ia temui. ”Alamsyah juga dekat dengan anak-anak di sini karena dia ngajar silat Padepokan Mang Ulung,” tutur perempuan yang merupakan Uwa dari Alamsyah ini.

Kata Lela, Alamsyah juga terbilang menjadi salah seorang pemuda yang terbilang rajin beribadah. ”Kalau subuh juga dia salat ke masjid, acara-acara keagamaan juga suka ikut dia,” ungkapnya. (one/adm/sub)