Shinji Kagawa mengeksekusi penalti saat Jepang melawan Kolombia. Foto: FIFA
Oleh: Ken Supriyono, Jurnalis Radar Banten dan Pegiat Komunitas BantenFuture

SHINJI Kagawa. Ia sukses memapangkan namanya di papan skor. Eksekusi pinaltinya merobek jala gawang Kolombia, saat pertandingan fase grup H, di Mordovia Arena, Selasa 9 Juni 2018. 
Gol menit awal laga ini, teramat penting. Bukan saja membuat unggul, juga melejit semangat pasukan Samurai Biru. Memang, Juan Quintero sempat menyamakan kedudukan lewat free kick mendatar, tujuh menit jelang turun minum. Namun, diusirnya Carlos Sanchez di awal laga,–penyebab pinalti– membuat strategi anak asuh Jose Pakermen, buyar. Permainan mereka di bawah anak asuh Akira Nishino.
Jelang bubaran, Yuya Osako pun menunjukan ketajamannya. Penyerang Wender Bremen, Jerman, ini memastikan kemenangan Jepang. Headingnya dari sepak pojok bersarang ke gawang Kolombia.
Anak-anak Negeri Sakura pun bersorak. Kemenangan sejarah, untuk tim Asia pertama yang mengalahkan tim asal Amerika Latin. Juga, pembuktian atas kekalahan 1-4, empat tahun silam di Piala Dunia Jerman.
Tim Jepang memang sedang tumbuh kembang. Sejak kali pertama melenggang di putaran Piala Dunia 1998, Perancis, hampir tak pernah absen pada gelaran akbar sepak bola empat tahunan. Jepang, juga termasuk negara Asia pemasok talenta di club-club Eropa.
Hidetosi Nakata, yang paling gemilang. Bukan orang pertama, tapi dia salah satu yang paling berpengaruh. Lewat gelaran Piala Dunia, namanya melejit. Ia merumput ke Serie A, liga yang masa itu bisa dibilang terbaik, dan banyak dimimpimkan pemain sepak bola dari penjuru dunia. Perugia, Parma, AS Roma, Bologna, dan Fiorentina, adalah nama-nama club yang pernah dibelanya. Termasuk tim Bolton Wenderes-Inggris, sebelum Nakata memutuskan gantung sepatu.
Gelandang Negeri Sakura ini tak sendiri. Puluhan lebih pemain Jepang lain mengikutinya, merumput di klub-klub Eropa. Sebut saja, Takayuki Moprimoto (Catania-Italia), Shunsuke Nakamura (Espanyol-Spanyol, dan Reggina-Italia), Yuki Abe (Leicester City-Inggris), dan  Ryo Miyaichi (Arsenal-Inggris). Tak ketinggalan, pemain kawakan Keisuke Honda yang pernah merumput di AC Milan (sekarang Pochuca).
Selain itu, 14 dari 23 nama skuat Jepang yang dibawa ke Rusia, tercatat sebagai pemain tim-tim liga Eropa. Yang paling familiar, Shinji Kagawa. Namanya pernah tercatat sebagai gelandang Manchester United. Sekarang, kembali ke club eropa pertamanya, Borossia Dortmond. Ada juga bek tanggung Galatasaray, Yugo Nagatomo, yang sebelumnya di Inter Milan. Maya Yoshida di Southamton, Hiroki Sakai di Marseile, dan Goku Shibasaki di Getafe.
Bertaburnya anak-anak Samurai Blue di klub Eropa, mengingatkan kita pada film imajinatif “Captain Tsubasa”. Anime film sepakbola, yang kali pertama narasinya diterbitkan Weekly Shonen Jump, pada 1981. Film itu, menggambarkan fiksi anak-anak Jepang merengkuh mimpi menjadi pemain sepakbola sekaligus juara dunia.
Tsubasa Ozora adalah tokoh utamanya. Mimpinya menjadi pemain sepakbola profesional dimulai dari tim Nankatsu, kota tempatnya sekolah. Bersama Roberto Hungo, bakatnya tumbuh kembang sejalan dengan masa remajanya. Tsubasa pun bergabung bersama club Sao Paolo, Brasil.
Di saat yang sama, sahabat Tsubasa, Misaki Taro memilih hijrah ke Perancis. Disusul kiper Tsubasa, Genzo Wakabayasi yang bergabung di club Hamburg, Jerman. Tak hanya teman satu club, rival Tsubasa, Kojiro Hyuga juga menyusul ke Eropa. Pemilik teknik tiger shot ini, tergabung di club serie A Italia.
Pemain Jepang tumbuh, layaknya imajinasi “Captain Tsubasa”. Satu per satu, nama mereka dikenal sebagai pesepakbola hebat yang merumput di kutup sepakbola dunia. Layaknya seruan ibu Tsubasa–dalam satu adegan–. “Dia tumbuh bersama sepak bola. Benar-benar sebuah keajaiban.”
Tidak hanya talenta-talenta Jepang yang banyak hiasi skuat tim-tim Eropa, negara mereka juga tak pernah absen di Piala Dunia, sejak 1998. Bukan tidak mungkin, jika karakter gigih, pekerja keras, pantang menyerah, dan sabar berproses yang ditampilkan Tsubasa Ozora menjadi spirit skuat Jepang bisa merengkuh tahta juara.
Tak ada yang mustahil. Buktinya, tim sepakbola wanita Jepang pernah melakukannya di gelaran Piala Dunia sepakbola wanita 2011. Homare Sawa cs, yang terseok-seok di babak penyisihan, dan hanya lolos sebagai runner up. Mereka bangkit. Di babak gugur, satu per satu tim besar, seperti Jerman dan Swedia mereka tumbangkan. Puncaknya, saat babak final, Jepang menang dramatis, lewat adu pinalti atas Amerika Serikat.
Sawa, disebut-sebut terilhami dari karakter Tsubasa. Perjalanannya dramatis. Mereka Juara dunia dengan mengalahkan skuat Amerika Serikat. Namun, mereka lebih dahulu babak belur melawan pasukan negeri Paman Sam itu. Jepang dihujami sembilan gol tanpa balas.
Perjalanan Jepang di Piala Dunia 2018, sudah diawali dengan launching kostum Captain Tsubasa. Mereka sedang berjuang di fase grup. Melaju ke 16 besar, sudah pernah dicapai. Kini, mereka harus membuktikan diri lewat kerja keras, dan semangat pantang menyerah, sebagaimana narasi fiksi yang diimajinasikan pada Captain Tsubasa.
Tim Nasional Indonesia, kiranya belajar dari semangat anak-anak Negeri Sakura. Sebab, sepakbola bukan sekadar olahraga dan mengolah si kulit bundar. Di dalamnya tersemat kehormatan negara. Masyarakat Indonesia, sudah terlalu lama menjadi penonton. Kita menanti (juara) sepakbola di Piala Dunia.
Imajinasi (juara) sepakbola, sudah banyak dinarasikan pada film-film Indonesia. Iklan lebaran tahun ini, juga dinarasikan lewat imajinasi sepakbola. Tapi, imajinasi saja tidak cukup. Sebagaimana komponen yang melekat pada manusia, imajinasi harus bersanding dengan komponen mendasar yang tak kalah penting. Yakni: kehendak, pilihan, dan tanggung jawab.
Akhirnya, kita mengharap, PSII punya kehendak dan pilihan, serta tanggungjawab untuk memperbaiki persepakbolaan Indonesia. Semoga.