Iman Ariyadi Akui Minta Uang ke PT KIEC

Walikota Cilegon nonaktif Iman Ariyadi menjadi saksi sekaligus terdakwa pada sidang lanjutan kasus suap proyek pembangunan Mal Transmart di Pengadilan Tipikor Serang, Kota Serang, Rabu (18/4).

SERANG – Walikota Cilegon nonaktif Tubagus Iman Ariyadi mengakui meminta uang kepada PT Krakatau Industrial Estate Cilegon (KIEC) sebesar Rp1,5 miliar. Permintaan itu disampaikan Iman secara langsung kepada Dirut PT KIEC Tubagus Dony Sugihmukti. “Nilai Rp1,5 miliar itu inisiatif saya. Saya sampaikan saat bertemu langsung dengan Pak Dony,” kata Iman saat diperiksa sebagai saksi sekaligus terdakwa kasus suap rekomendasi analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) pembangunan Mal Transmart Kota Cilegon di Pengadilan Tipikor Serang, Rabu (18/4).

Iman menuturkan. permintaan uang itu disampaikan ketika Dony bertandang di kediamannya pada September 2017. Nominal itu sempat ditawar Dony sebesar Rp800 juta. “Mau kasih Rp 800 juta, saya bilang kasian CU-nya (Cilegon United), utangnya banyak, belum lagi masih ada sisa laga,” kata Iman di hadapan majelis hakim yang diketuai Efiyanto.

Dia membantah permintaan uang sponsorship itu sebagai kompensasi dari pengurusan perizinan pembangunan Mal Transmart. “Tidak ada kaitan. Kebetulan sebelumnya saya pernah undang seluruh perusahaan termasuk KIEC. Jadi, itu kelanjutannya,” kata Iman.

Dia mengaku tiga kali bertemu Dony. Pertemuan itu tidak pernah membahas keterlambatan pembangunan lantaran perizinan belum terbit. “Seingat saya, tidak ada (keluhan terlambat pembangunan-red). Pak Dony menyampaikan bagaimana soal izin, saya sampaikan silakan proses sesuai peraturan perundang-undangan dan di dinas teknis terkait,” kata Iman.

Iman juga membantah soal rencana penerbitan rekomendasi jaminan kepada PT KIEC dan PT Brantas Abipraya (BA) untuk membangun Mal Tranmasrt hingga perizinan terbit. “Tidak pernah saya mengeluarkan jaminan apa pun dalam proyek. Pak Dita kemarin baru sampai wacana. Tapi kalau benar (konsultasi-red), pasti saya tolak karena tidak sesuai dengan perundang-undangan,” ucap Iman.

Saat persidangan, diketahui selain PT KIEC, CU pernah menerima bantuan dana dari beberapa perusahaan di Kota Cilegon. Dana itu dialihkan ke rekening PT CPM milik CEO CU Yudhi Aprianto. “Perusahaan Pelindo, Dinkes, dan beberapa perusahaan berkali-kali (menyetorkan dana). Setiap masuk, satu hari dua hari selesai (uang dipindahkan ke rekening PT CPM),” tanya Efiyanto.

Terkait pengalihan dana itu, Iman mengaku tidak tahu. Soalnya, pengeluaran dana CU dikendalikan Yudhi. “Enggak tahu itu, manajemen yang paham,” kata Iman.

Dia menegaskan, tidak pernah menikmati dana sponsorship ke CU. “Kalau saya punya niat, kalimatnya mungkin sisanya antarkan ke saya (bukan di-keep-red). Kalau saya mau ambil, mungkin sudah saya simpan (dana sponsorship CU-red),” kata Iman menanggapi rekaman yang diputar jaksa KPK.

Atas keterangan Iman, kedua terdakwa Kepala DPMPTSP  Kota Cilegon nonaktif Ahmad Dita Prawira dan politikus Partai Golkar Kota Cilegon Hendri tidak keberatan. (Merwanda/RBG)