Indah dan Bersih dengan Rp500 per Hari

KRAGILAN – Kesan kumuh tidak lagi terlihat di RT 16 RW 08, Perumahan Ciujung Damai, Desa Kendayakan, Kecamatan Kragilan. Lingkungan itu, kini rapi, indah, dan bersih. Warga swadaya melakukannya.

Warga tidak merasa berat menanggung biaya penataan lingkungan mereka. Karena, cuma Rp500 per hari.

Keindahan lingkungan RT 16 karena telah dilengkapi banyak tanaman hias. Warga juga telah bergotong royong membersihkan lingkungan mereka. Pagar bambu menghiasi jalan Lingkungan Ciujung Damai. Jalan dicat hijau dan diberi lis warna kuning.

Tim 6 tim Lomba Kampung Bersih dan Aman (LKBA) Kabupaten Serang 2019 menyaksikannya saat penilaian tahap kedua, Kamis (12/12). “Kami awalnya pesimis. Tapi, setelah lihat hasilnya, terkejut juga. Ternyata lingkungannya sudah ditata rapi,” kata Dendi Supriyadi, anggota tim 6 juri LKBA, di Perumahan Ciujung Damai.

Dendi menilai, warga Ciujung Damai sebenarnya sudah memiliki kesadaran akan kebersihan lingkungan sebelum LKBA 2019 digelar. Namun, belum kompak sehingga pada penilaian tahap pertama masih ditemukan sampah di saluran drainase. “Waktu itu, bersihnya belum maksimal,” tandasnya.

Ciujung Damai tidak kumuh lagi, lanjut Dendi, juga karena kelompok sadar lingkungan telah terbentuk. Kelompok ini aktif menangani sampah. Mereka yang mengumpulkan dan mengangkut sampah ke tempat pembuangan sampah. “Sebelumnya mah warga masih buang sampah sendiri-sendiri ke kebun di belakang perumahan,” katanya.

Biaya pengangkutan sampah itu ditanggung warga Ciujung Damai. Warga tidak keberatan membayarnya. Sebab, menggunakan sistem jimpitan. Setiap kepala keluarga menyisihkan Rp500 per hari. Uang koin itu diletakkan di kotak kecil yang ada di setiap rumah warga. Oleh pengurus RW, satu minggu sekali, uang iuran itu diambil dan dikumpulkan. “Jadinya per rumah, dalam sebulan menyumbang Rp15 ribu untuk menata lingkungan,” jelas Ketua RT 16 Purwanto. 

Camat Kragilan Epon Anih Ratnasih mengimbau agar warga Ciujung Damai bisa mempertahankan dan meningkatkan pencapaian penataan lingkungannya. “Jangan setelah lomba selesai, kekompakannya hilang. Harus dipertahankan. Dimulai dari hal terkecil dulu,” ujarnya. (mg06/don/ira)