Indonesia Peringkat Pertama di Dunia untuk Penderita Kanker Serviks

0
557 views
Ilustrasi (Dite Surendra/jawa pos/jawapos.com)

MENGUTIP data Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada 2015, kanker mulut rahim atau serviks tercatat sebagai kanker paling berisiko kematian pada perempuan. Mirisnya, Indonesia berada di peringkat pertama dalam urusan jumlah penderita kanker tersebut. Tercatat 8 ribu kematian di antara 15 ribu kasus dalam setahun.

Sebagian besar penderita kanker serviks datang ke dokter dalam keadaan parah. Pada stadium awal, umumnya mereka tidak merasakan gejala ataupun keluhan sakit. ”Keberadaan lesi prakanker hanya bisa dideteksi lewat pap smear atau IVA (inspeksi visual dengan asam asetat),” papar dr Sunjoto SpOG (K), dilansir JawaPos.com.

Dokter yang berpraktik di RS Siloam Surabaya itu pun mewajibkan tes tersebut kepada perempuan yang telah aktif secara seksual. ’’Jika ketahuan cepat, kans untuk sembuh sangat besar. Apalagi, sel tersebut butuh sekitar 10–20 tahun untuk menjadi kanker,’’ kata Sunjoto.

Sayang, karena gejala yang tidak terasa, pasien cenderung mengabaikan tes. Keberadaannya di area yang terbilang cukup tersembunyi kerap membuat pasien enggan atau malu mengunjungi dokter. ’’Baru datang saat ada keluhan atau pas parah. Kalau seperti itu, jelas sudah telat,’’ imbuh alumnus Universitas Airlangga Surabaya itu.

Bila diketahui pada stadium dini, kanker akan ditangani lewat operasi. Sunjoto menyatakan, jenis operasinya terbilang besar. ’’Ada juga yang sudah pakai laparoskopi, teknik noninvasif. Lukanya kecil. Jadi, pasien bisa pulih cepat,’’ lanjutnya.

Dokter yang tergabung di Indonesia Society of Gynecology Oncology (INASGO) itu menuturkan, operasi hanya bisa dilakukan pada stadium awal, yakni stadium 1 hingga 2A. Di atas stadium tersebut, pengobatan dilakukan lewat kemoterapi, penyinaran radiasi, dan obat. ’’Pemahaman masyarakat mungkin terbalik. Kalau parah sekali, baru operasi. Padahal, kalau kanker sudah menyebar dan besar, justru nggak mungkin operasi,’’ tegasnya.

Sunjoto menyatakan, risiko komplikasi maupun insiden lain semakin besar jika operasi dilakukan di atas stadium 2. Namun, jika dibandingkan dengan jenis kanker lain, penyebab kanker serviks terbilang paling jelas.

Merujuk studi American Cancer Society dan beberapa lembaga pemerhati kanker di beberapa negara, kanker serviks dipicu oleh human papilloma virus (HPV). Virus itu menginfeksi sel kulit dan membran mukosa. Salah satunya kelamin. Untuk menangkal persebaran virus tersebut, telah tersedia vaksin HPV.

Sunjoto menjelaskan, vaksin tersebut idealnya diberikan kepada para perempuan yang memasuki usia remaja hingga 26 tahun atau belum pernah melakukan hubungan seksual. ’’Intinya mirip imunisasi. Yakni, sebagai upaya preventif. Jadi, kalau imunnya sedang drop, virus tersebut tidak sampai menyebar di tubuh,’’ ucapnya.

Meski demikian, dokter yang juga merupakan staf pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya itu menjelaskan, tidak semua daerah –bahkan rumah sakit– menyediakan layanan vaksin HPV. ’’Penyuntikannya dilakukan tiga kali. Harga vaksinnya masih mahal, bisa sampai Rp800 ribu, bahkan lebih, untuk sekali suntik,’’ papar Sunjoto.

Upaya pencegahan tidak hanya bisa dilakukan lewat vaksin. Konsultan onkologi kandungan tersebut menjelaskan, para perempuan semestinya menjaga kebersihan area intim. Selain itu, hindari hubungan seksual pada usia terlalu muda serta berganti-ganti pasangan. Sunjoto juga menekankan perencanaan kehamilan yang baik. ’’Terlalu sering melahirkan, apalagi dengan jarak berdekatan, bisa memicu trauma di mulut rahim. Risiko kanker pun bisa naik,’’ tegasnya. (fam/c6/ayi/tia/JPG)