Industri Batik Lokal Berkembang

SERANG – Industri batik di Banten secara perlahan mendapat respons positif dari masyarakat, seperti Batik Banten, Batik Krakatoa, Batik Cikadu, Batik Kaserangan, dan Batik Keraton.

Asep Pramudya, pemilik toko Balada Batik Banten, mengatakan, saat ini batik asal Banten semakin dikenal masyarakat luas. Apalagi dijual secara online. “Batik asal Banten bukan hanya dipasarkan di Banten, tetapi juga di Jakarta seperti Thamrin City dan lainnya,” katanya.

Menurut Asep, keberadaan perkumpulan orang Banten di beberapa daerah memberikan pengaruh terhadap perkembangan batik khas Banten. Mereka di daerah rantau membuat seragam sebagai ciri identitas daerah.

Asep melanjutkan, batik daerah sudah masuk ranah pendidikan. “Saat ini motif batik khas Banten mencapai ratusan yang tersebar di berbagai daerah. Lewat karya batik ini, masyarakat bisa mempelajari berbagai sejarah atau budaya Banten.

Ia mengungkapkan, penjualan batik semakin meningkat sejak 2014 lalu hingga saat ini. Penjualan batik semakin direspons positif saat perayaaan HUT RI dan HUT Banten karena ada instansi, lembaga, dan perusahaan yang mewajibkan menggunakan batik daerah.

Hal yang sama dikatakan Marketing Batik Cikadu Pandeglang Rizal Fauzi.  Ia mengatakan, Batik Cikadu Pandeglang kini memiliki 40 motif lebih sejak awal kehadirannya pada 21 April 2015. Beberapa motif yang ditawarkan antara lain bunga tanjung, badak bercula satu, kembang honje, dan lainnya.

Menurutnya, kehadiran Batik Cikadu Pandeglang memberikan manfaat karena ikut memberdayakan masyarakat sekitar Pandeglang. Dengan begini, masyarakat memiliki keterampilan. “Keberadaan Batik Cikadu juga semakin dikenal masyarakat dengan berbagai motif yang ada,” katanya.

Industri batik di dalam negeri selama ini telah berperan besar dalam mendorong perekonomian nasional. Hal ini terlihat dari kontribusinya melalui capaian nilai ekspor dan serapan tenaga kerja yang cukup banyak.

Kementerian Perindustrian mencatat, nilai ekspor dari industri batik nasional pada semester I tahun 2019 mencapai 17,99 juta dolar AS. Sementara itu, sepanjang tahun 2018, tembus hingga 52,44 juta dolar AS. Negara tujuan utama pengapalannya, antara lain ke Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa.

Selanjutnya, industri batik yang didominasi oleh industri kecil dan menengah (IKM) ini tersebar di 101 sentra di Indonesia, dengan jumlah sebanyak 47 ribu unit usaha dan telah menyerap tenaga kerja lebih dari 200 ribu orang.

“Oleh karena itu, sesuai yang disampaikan Bapak Presiden Joko Widodo, kita harus berani mengenalkan batik kepada masyarakat dunia, dan menjadikan batik sebagai duta budaya Indonesia pada acara-acara internasional,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada puncak peringatan Hari Batik Nasional di Istana Mangkunegaran Solo, Rabu (2/10), dikutip dari siaran pers.

Menurut Menperin, upaya tersebut akan memacu semangat para perajin dan pelaku industrinya untuk terus mengembangkan batik Nusantara, sehingga bisa lebih kreatif dan inovatif. “Batik merupakan high fashion yang nilai tambahnya tinggi, bukan lagi sebagai komoditas. Maka itu, ekspor dari industri ini terus kami dorong. Apalagi, sekarang Wastra Nusantara semakin beragam dan telah diminati konsumen global,” paparnya.

Batik merupakan warisan budaya tak benda asli Indonesia, yang dikukuhkan oleh UNESCO dalam Representative List of The Intangible Cultural Heritage of Humanity di Abu Dhabi pada 2 Oktober 2009 lalu. Sejak saat itu, tanggal 2 Oktober ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional.(skn/aas/ags)