Inflasi Banten Kalahkan Nasional

0
1201
INFLASI: Sejumlah warga mengunjungi Mall of Serang, Kota Serang, Senin (1/2). Tingkat inflasi di Banten naik 0,34 persen yang menandakan terjadi pemulihan daya beli masyarakat Banten. QODRAT/RADAR BANTEN

SERANG-Pada Januari 2021 ini, tingkat inflasi di Banten mengalahkan angka nasional. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten, inflasi Banten lebih tinggi dari nasional. Tingkat inflasi di Banten naik 0,34 persen sedangkan nasional hanya 0,26 persen.

Kepala BPS Provinsi Banten Adhi Wiriana mengatakan, tingginya angka inflasi Banten menandakan terjadi pemulihan daya beli masyarakat Banten yang lebih tinggi jika dibandingkan penduduk Indonesia secara umum. “Hal ini juga bisa jadi mengindikasikan bahwa penanganan Covid-19 di Banten lebih baik daripada di Jakarta atau Bandung,” ujar Adhi usai membacakan rilis BPS Provinsi Banten, Senin (1/2).

Adhi menerangkan, inflasi di Jakarta hanya 0,14 persen dan Bandung hanya 0,10 persen. Rendahnya inflasi di kota itu karena masyarakat masih takut untuk berbelanja ke pasar atau mal. Sedangkan di Banten yang tingkat inflasinya sebesar 0,34 persen menandakan aktivitas produksi atau konsumsi masyarakat sudah lebih baik, walau belum sebaik kondisi pra Covid-19.

Pada kesempatan itu, ia juga mengatakan, ketiga kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Provinsi Banten mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Serang sebesar 0,46 persen dengan IHK sebesar 107,91. Kemudian Kota Cilegon sebesar 0,34 persen dengan IHK sebesar 107,44 dan Kota Tangerang sebesar 0,32 persen dengan IHK sebesar 105,38.

Bahkan, berdasarkan data BPS, inflasi di Kota Serang merupakan tertinggi keempat dari 26 kota-kota di Pulau Jawa setelah Kota Surakarta, Kota Madiun, dan Kota Yogyakarta. “Bahkan, IHK Kota Serang tertinggi kedua setelah Bekasi,” tuturnya.

Untuk sementara, ia mengatakan, kenaikan harga komoditas belum perlu diwaspadai pemerintah. Namun, menjelang Ramadan dan Idul Fitri pada April sampai dengan Mei nanti tentu perlu diantisipasi. “Dari sekarang, pelaku usaha harus sudah punya ancang-ancang,” ujarnya.

Adhi menerangkan, dari 416 jenis barang dan jasa yang dipantau BPS, sebanyak 212 komoditas mengalami perubahan harga. Rinciannya adalah 144 komoditas mengalami kenaikan harga dan sisanya sebanyak 68 komoditas mengalami penurunan harga. Akibatnya, pada Januari 2021 terjadi inflasi sebesar 0,34 persen dengan IHK sebesar 105,97.

Kata dia, inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,09 persen. “Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga di bulan Januari 2021 antara lain cabai rawit, kol putih/kubis, tahu mentah, dan cabai merah,” tuturnya.

Sementara, lanjut Adhi, beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga antara lain tomat, telur ayam ras, pensil warna, daun bawang, bawang merah, ikan kakap merah, buah naga, kayu balokan, hingga daun jendela. Sedangkan, beberapa komoditas yang dominan menyumbang inflasi pada bulan Januari ini adalah komoditas cabai rawit, tahu mentah, cabai merah, tempe, daging sapi, angkutan udara, jeruk, melon, susu bubuk untuk balita, dan sabun detergent bubuk/cair.

“Pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, Kota Serang mengalami inflasi tertinggi yaitu sebesar 1,30 persen dengan nilai IHK di bulan ini sebesar 109,67 persen,” terangnya.

Kota Tangerang pada kelompok ini juga mengalami inflasi sebesar 1,11 persen dengan nilai IHK sebesar 107,37 persen. Sama halnya dengan dua kota lainnya, pada kelompok ini Kota Cilegon juga mengalami inflasi sebesar 0,71 persen dengan nilai IHK sebesar 108,48 persen.

Sebelumnya, Kepala BPS RI Suhariyanto melaporkan pergerakan inflasi pada Januari 2021 tercatat mengalami perlambatan jika dibandingkan dengan Desember 2020 yang saat itu tercatat sebesar 0,45 persen. BPS mencatat, pada Januari 2021 tingkat nasional mengalami inflasi sebesar 0,26 persen secara bulanan (month-to-month). “Angka inflasi pada periode ini tercatat lebih rendah jika dibandingkan dengan Januari 2020 yang saat itu sebesar 0,39 persen,” terangnya saat rilis data BPS secara virtual, kemarin.

Apabila melihat pergerakan ini, Suhariyanto mengatakan, memasuki tahun 2021 ini, dampak Covid-19 masih belum reda dan membayang-bayangi perekonomian di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Kata dia, pandemi Covid-19 menyebabkan mobilitas masyarakat berkurang dan roda ekonomi bergerak lambat, sehingga berpengaruh ke pendapatan masyarakat. (nna/alt)