Inflasi Kota Serang Tertinggi

SERANG – Inflasi Kota Serang pada Maret 2020 paling tinggi dibandingkan dua kota lain di Provinsi Banten. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten mencatat inflasi di Kota Serang sebesar 0,22 persen dengan indeks harga konsumen (IHK) sebesar 106,48.

Disusul Kota Cilegon dengan tingkat inflasi sebesar 0,11 dengan IHK sebesar 105,56. Sedangkan Kota Tangerang justru mengalami deflasi sebesar 0,01 persen dengan IHK sebesar 104,40.

Kepala BPS Provinsi Banten Adhi Wiriana mengatakan, inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran. “Yaitu kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar -0,34 persen,” ujar Adhi, Rabu (1/4).

Lalu, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,22 persen; kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar lainnya sebesar -0,04 persen; kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga 0,47 persen. Kemudian kelompok kesehatan sebesar 0,02 persen; kelompok transportasi sebesar 0,16 persen; kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar -0,11 persen. Selanjutnya, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,19 persen; kelompok pendidikan sebesar 0,00 persen; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,09 persen; dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 1,51 persen.

Kata Adhi, tingkat inflasi tahun kalender Maret 2020 sebesar 0,70 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Maret 2020 terhadap Maret 2019) sebesar 2,99 persen. “Perkembangan harga berbagai komoditas pada Maret tahun ini secara umum menunjukkan adanya kenaikan,” terangnya.

Hasil pemantauan BPS Provinsi Banten di tiga kota tersebut pada Maret lalu, terjadi inflasi sebesar 0,04 persen atau terjadi kenaikan IHK dari 104,78 pada Februari menjadi 104,82 pada Maret. Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga pada Maret, antara lain melon, emas perhiasan, bawang merah, telur ayam ras, tarif kendaraan roda dua online, buah naga, kol putih/kubis, bubur, terong, mesin cuci, dan sawi hijau. Sementara komoditas cabai merah, cabai rawit, besi beton, santan jadi, televisi berwarna, ikan nila, ikan teri, petai, kentang, dan ikan bawal mengalami penurunan harga.

Adhi mengungkapkan, pada Maret kemarin, dari 11 kelompok pengeluaran, lima kelompok memberikan andil atau sumbangan inflasi diatas 0,01 persen, dua kelompok memberikan andil atau sumbangan deflasi diatas 0,01 persen, dan sisanya empat kelompok memberikan andil atau sumbangan inflasi/deflasi dibawah 0,01 persen.

Di Kota Serang, andil inflasi terbesar di Kota Serang adalah komoditas emas perhiasan sebesar 0,08 persen, telur ayam ras sebesar 0,06 persen, daging ayam ras dan kopi bubuk masing-masing sebesar 0,04 persen, serta bawang merah sebesar 0,03 persen.

Kemudian air kemasan, melon, minyak goreng, dan bawang putih masing-masing sebesar 0,02 persen serta anggur sebesar 0,01 persen.

Untuk komoditas yang memberikan andil deflasi di antaranya adalah cabai merah sebesar 0,07 persen, cabai rawit sebesar 0,04 persen, beras sebesar 0,02 persen, ikan kembung, ayam hidup, petai, ikan bawal, dan santan jadi masing-masing sebesar 0,01 persen. “Sementara jengkol dan daging sapi masing-masing memberikan andil deflasi sebesar kurang dari 0,01 persen,” ujarnya. (nna/nda/ags)