Ingin Kaya Instan, Malah Terjebak Investasi Bodong

0
597 views

SERANG – Investasi ilegal atau bodong seperti tidak pernah ada habisnya. Meskipun ratusan entitas sudah dihentikan Satgas Waspada Investasi, namun investasi ilegal muncul lagi dan lagi. Tidak tanggung-tanggung, jumlah korbannya juga mencapai ratusan ribu orang.

MeMiles merupakan investasi bodong terbaru yang dinyatakan ilegal oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Jumlah korbannya mencapai 240.000 anggota. Investasi tersebut mampu mengumpulkan sekira Rp750 miliar dari para korbannya. Saat ini, empat pelaku telah ditangkap kepolisian.

Bagi hasil yang menggiurkan menjadi daya tarik bagi masyarakat dan berani menginventasikan sejumlah dana ke perusahaan. Tidak heran, investasi ilegal bukan hanya diminati kaum awam, tetapi juga masyarakat berpendidikan tinggi dari berbagai profesi.

Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam L Tobing memaparkan, ada beberapa faktor seseorang melakukan investasi ilegal karena masyarakat mudah tergiur dengan penawaran suku bunga yang tinggi. Selain itu, rendahnya literasi keuangan juga menyebabkan banyak masyarakat yang terjebak investasi bodong. “Pelaku investasi ilegal juga menggunakan tokoh agama, tokoh masyarakat, dan selebriti agar memberikan kepercayaan kepada masyarakat,” katanya.

Banyak yang beranggapan lewat investasi ilegal bisa mendapatkan banyak uang dengan cara yang mudah dan cepat tanpa harus berlelah-lelah. Ingin kaya dan mendapatkan barang dengan mudah dan cepat atau instan, salah satu cara yang dipilih yakni melakukan investasi. Investasi ilegal bukan hanya dilirik kaum awam, tetapi juga berpendidikan. “Para korban investasi bodong ini karena ingin sesuatu yang instan,” katanya.

Ia menilai, banyaknya korban dari kalangan berpendidikan juga karena sifat serakah dan selalu merasa kurang menjadi faktor utama maraknya masyarakat yang terjebak investasi ilegal.  “Rendahnya literasi keuangan membuat masyarakat tidak begitu mengenal produk-produk keuangan secara baik sebelum berinvestasi,” nilainya.

Ia meminta, masyarakat harus waspada ketika ada penawaran investasi terutama yang memberikan bagi hasil besar. Misalnya ada bagi hasil satu persen per hari atau 10 persen dari uang disetorkan. “Masyarakat harus mengecek apakah investasi tersebut legal atau ilegal,” katanya.

Ia mengungkapkan, sebelum melakukan investasi harus dicek dua L yakni legal dan logis. Apakah investasi yang ditawarkan memiliki legalitas dan logis tidak penawaran tersebut terutama berkaitan dengan bagi hasil.  “Jika kedua L ini tidak terpenuhi, jangan ikuti investasi tersebut,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, penawaran investasi ilegal cukup beragam mulai forex, money game, perkebunan, dan lainnya. Masyarakat harus bisa mengenali berbagai penawaran investasi yang bisa merugikan masyarakat. Investasi yang menawarkan imbalan hasil besar biasanya penipuan yang berkedok investasi secara ilegal. “Masyarakat harus meningkatkan edukasi mengenai investasi,” katanya.

Satgas Waspada Investasi terus menghentikan entitas tanpa izin atau ilegal yang bisa merugikan masyarakat. Total ada 183 entitas yang dihentikan. Para pelaku investasi bodong tersebut ingin memanfaatkan masyarakat yang tidak paham untuk menipu dan mencari keuntungan. “Tentu bukan hanya yang tidak paham, tapi juga masyarakat yang mudah tergiur,” katanya.

Menurutnya, meskipun dalam iklannya investasi ilegal tersebut dibilang tanpa risiko, padahal nyatanya merugikan masyarakat dan berisiko tinggi. “Investasi dengan imbal hasil yang tinggi salah satu bentuk penipuan,” tuturnya.

Psikolog Sake Pramawisakti mengungkapkan, banyaknya masyarakat berpendidikan yang menjadi korban investasi ilegal karena adanya perilaku yang ingin mengejar atau mendapatkan sesuatu tanpa harus lelah bekerja. Dengan investasi ini, masyarakat tidak perlu capek bekerja karena mendapatkan hasilnya mudah dan cepat. “Ini merupakan perilaku masyarakat yang tidak bisa menahan ketika ada dorongan untuk memiliki sesuatu,” katanya.

Ia menilai, masyarakat awam biasanya mengikuti investasi karena ada penawaran yang menggiurkan dan terpengaruhi. Apalagi yang dicontohkan oleh orang-orang berpendidikan dan pejabat. Sementara orang berpendidikan yang mengikuti investasi umumnya dipertimbangkan dan sudah memahami risiko yang didapatkan. “Orang berpendidikan lebih berpikir bahwa hal tersebut mudah untuk didapatkan dan tidak perlu tanpa bersusah,” nilainya.

Ia mengungkapkan, sebelum melakukan investasi sebaiknya masyarakat mencari informasi di lembaga yang kredibel agar tidak terjebak. “Sebaiknya lebih selektif dalam memilih produk investasi,” ungkapnya.

Sementara bagi yang sudah menjadi korban agar tidak terpuruk dan fokus untuk bangkit. Apa yang terjadi dianggap sebagai musibah. “Jangan tidak fokus pada kegagalan sehingga bisa menjadi pelajaran untuk masa yang akan datang,” katanya. (skn/alt/ags)