Ilustrasi (pixabay).

Ini hak saya, itu hak kamu. Punya saya segini, punya kamu segitu. Eh, tapi istri saya mau tanah yang di sana, tolong itu jangan diapa-apakan, ya. Eh, istri kamu tanah yang di sini saja, semua yang di kebun itu punya istri saya. Begitulah kiranya omongan adik-adiknya sebulan sepeninggal ayah tercinta.

Sebagai anak tertua, Dodi (49) nama samaran, tak berdaya lantaran tinggal jauh dari rumah keluarga. Menikahi gadis cantik asli ibukota, sebut saja Mona (46), Dodi hidup bahagia dengan dua anak menamani hidupnya. Sesekali menengok orangtua ke Serang, ia menjadi kebanggaan keluarga.

Namun, kebahagiaan itu sirna semenjak meninggalnya sang ayah. Ketiga adiknya yang sudah berkeluarga ribut memperebutkan harta warisan. Parahnya, seakan tidak menghargai keberadaan sang ibu tercinta, mereka seenaknya mengatur harta yang akan diambil sebagai haknya.

Oalah, ini kok rusuh amat.

Apa mau dikata, diteleponlah Dodi untuk datang ke rumah oleh saudara. Anehnya, ketika ditanya, mereka diam-diam saja, seolah tak ada masalah yang terjadi. Hingga Dodi mengeluarkan amarahnya, barulah adik-adiknya satu per satu mengaku.

“Ya awalnya mah pada diem-diem bae kayak orang belum ngopi. Pas saya bentak, baru pada bilang minta jatah warisan,” curhatnya.

Atas saran sang ibu tercinta, berlangsunglah musyawarah bersama seluruh keluarga. Setelah semua menyampaikan pendapatnya, Dodi pun memutuskan agar harta keluarga tidak dibagi-bagikan selama sang ibu tercinta masih hidup. Semua tanah ayahnya dikelola paman yang hasilnya diserahkan kepada sang ibu.

Hebatnya, semua sepakat dan mau menuruti perintah Dodi. Keributan pun teratasi tanpa merugikan pihak mana pun. Lagi-lagi, Dodi mendapat pelukan hangat dari sang ibu berkat kebijaksanaannya. Ia memilih kepentingan bersama dan mampu menyelesaikan masalah.

Namun, apa mau dikata, membanggakan di mata keluarga tak lantas membuatnya dipuja sang istri tercinta. Sepulangnya dari Serang, Mona mengamuk menyampaikan kekecewaannya. Tak peduli lelah dan letih yang mendera, sang istri marah-marah membuat Dodi emosi tingkat tinggi. Keributan pun terjadi.

Aih, memang kenapa sih Teh Monanya, Kang?

“Masa dia pengin saya ngambil harta warisan orangtua. Katanya saya sebagai anak tertua punya hak yang lebih besar, benar sih, tapi kan keputusannya enggak begitu,” terang Dodi.

Dodi bercerita, Mona sebenarnya wanita baik. Terlahir dari keluarga berada, ia tumbuh menjadi perempuan yang berpendidikan. Anak kedua dari tiga bersaudara itu memiliki wajah nan cantik dengan kulit putih dan tubuh besar tapi tidak gemuk. Ya, maklumlah, dengan pekerjaan Dodi sebagai karyawan di salah satu perusahaan negara, pasti membuat rumah tangga sejahtera.

Dodi sendiri bukanlah lelaki biasa. Selain tampan, ia juga termasuk lelaki yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Ia mengaku selalu juara pertama sejak SD sampai SMA. Sewaktu kuliah pun ia selalu mendapat nilai tertinggi di kelas. Alumni salah satu perguruan tinggi di Bandung itu sosok yang hangat dan santai.

Hebatnya, setelah lulus kuliah ia langsung bekerja. Hingga akhirnya bertemu dengan Mona di salah satu tempat makan di Jakarta, ia langsung memiliki keyakinan telah dipertemukan dengan jodohnya oleh Tuhan. Seolah tak ada keraguan, saat itu juga ia memberanikan diri berkenalan.

Widih, hebat amat sih Kang!

“Ya saya juga sekarang mikirnya aneh saja, waktu itu tuh kayak ada yang gerakin sendiri. Tiba-tiba langsung yakin gitu,” curhatnya.

Dan yang lebih ajaibnya lagi, seperti diceritakan Dodi, hari itu juga, ia berkesempatan mengantarkan Mona pulang ke rumah. Layaknya pasangan yang sudah lama menjalin hubungan, bahkan ia sampai mengobrol dengan kedua orangtua sang wanita.

Aih-aih, seriusan, Kang?

“Serius, saya juga aneh. Ceritanya tuh pas kenalan langsung tukar nomor telepon, nah sorenya saya iseng SMS, eh ternyata dia lagi ada di depan jalan enggak jauh dari kantor saya, ya sudah deh sekalian jalan,” katanya.

Seiring berjalannya waktu, kedekatan Dodi dan Mona semakin intens. Tiga bulan menjalani masa pacaran, keduanya pun sepakat menuju jenjang pernikahan. Menggelar pesta besar-besaran, baik Mona mau pun Mona terlihat bahagia di atas pelaminan. Mona yang cantik bersanding dengan Dodi yang tampan, mereka pasangan serasi.

Hingga 13 tahun usia pernikahan, keduanya dikaruniai dua anak yang mulai beranjak remaja. Suka duka berumah tangga dilalui dengan lapang dada, Mona dan Dodi saling memahami satu sama lain. Hingga musibah itu datang, sang ayah meninggal dan menciptakan permasalahan dalam keluarga besarnya.

Berhasil menenangkan adiknya untuk tidak memperebutkan harta warisan, masalah baru justru muncul dari istrinya sendiri. Entah karena nafsu sesaat atau memang sudah mengincar sejak lama, Mona menuntut agar suaminya mengambil jatah warisannya.

Namun, Dodi keukeuh memegang teguh perndirian untuk tidak mengambil harta keluarga. Di tengah malam sepulang dari rumah keluarga, Mona mengamuk, dibantingnya pintu kamar sampai membangunkan kedua anaknya yang sudah terlelap.

Menyaksikan kedua orangtuanya ribut di tengah malam, kedua bocah yang tak bersalah itu menangis histeris. Membuat suasana rumah tangga semakin tak terkendali. Apa mau dikata, tak bisa mengontrol emosinya, Dodi pun pergi dari rumah.

Sejak kejadian itu, Dodi lebih banyak menghabiskan waktu bersama sang ibu tercinta. Ajaibnya, seminggu setelah keributan itu, Mona datang menemui sang suami ke rumah sang mertua. Ia meminta maaf dan mengaku salah. Mona dan Dodi kembali hidup bersama dengan bahagia. (daru/zee/ags/RBG)