Ini Akibat Merahasiakan Nomor PIN!

Love Story

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

1. Tak Terbuka

Saling terbuka merupakan merupakan unsur terpenting untuk pasangan suami istri. Tanpa itu, maka keharmonisan berumah tangga akan rapuh. Seperti halnya yang terjadi pada rumah tangga Siti dan Topik, keduanya nama samaran. Gara-gara Topik (29) tidak ingin terbuka dengan penghasilannya per bulan, membuat pernikahannya dengan Siti (25) tidak langgeng.

Usia pernikahan mereka hanya mampu bertahan selama satu tahun. Selama jangka tersebut, jalinan rumah tangga mereka penuh dengan pertengkaran. “Mas Topik seperti ketakutan kalau saya tahu penghasilannya setiap bulan. Ia tidak mau terbuka sama sekali,” ujar Siti.

Jangankan tentang penghasilan per bulan, nomor pin Ajungan Tunai Mandiri (ATM) Topik pun Siti tidak pernah tahu. Sebab, Topik menolak untuk memberitahukan nomornya kepada sang istri. “Mas Topik tidak hanya pelit, tapi dia juga seperti ketakutan kalau saya mau minta uangnya. Padahal dia kan kepala keluarga, seharusnya dia bersikap sebagai tulang punggung keluarga,” kata Siti.

Gara-gara hal itu, Siti kerap kesal ketika uang Topik selalu kehabisan di akhir bulan. Lebih kesalnya lagi, uang Topik sering kali digunakan untuk kepentingan keluarganya sendiri. “Kalau keluarganya membutuhkan bantuan, dia selalu jor-joran. Tapi ketika saya butuh sesuatu, Mas Topik perhitungan banget. Bahkan setiap hari tua, uangnya selalu ludes,” ujarnya.

Sifat buruk Topik sudah diperlihatkan sejak awal mereka menikah, Januari 2012 lalu. Ini ketika Siti menanyakan tentang penghasilan suaminya yang bekerja di sebuah pabrik. “Saya tanya berapa penghasilan per bulan, dia bilang tidak tentu. Kadang lebih dari cukup, kadang pas-pasan,” katanya.

Selain itu, Topik tidak ingin isi rekening banknya diketahui istri. Alasannya pun tidak jelas, untuk kebaikan Siti. “Dia bilang yang penting segala kebutuhan rumah tangga tercukupi. Enggak perlu sampai tahu isi rekening tabungan segala,” jelas Siti.

Awalnya Siti berusaha mengerti tentang keinginan suaminya. Namun sayangnya janji mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga diabaikan. “Katanya kebutuhan dapur siap dipenuhi, ternyata tidak,” kesalnya.

Ketika Siti meminta uang untuk memenuhi stok beras, Topik hanya memberikan uang untuk satu liter. Bahkan untuk membeli minyak goreng, Topik menyuruhnya berhutang ke warung di sekitar rumah.

2. Beda Perlakuan

Beda urusannya jika ibu mertua yang meminta, Topik akan selalu berupaya memenuhinya. Sejumlah barang seperti sofa, televisi, atau lainnya pasti dipenuhi Topik. “Ia bahkan rela kredit demi menyenangkan ibunya,” jelasnya.

Kondisi ini semakin parah ketika Siti mulai mengandung anak pertama. Saat kandungan menginjak tiga bulan, Siti mulai ngidam ini dan itu. “Mulut ingin ngunyam terus, lalu sering mual-mual. Dalam pikiran kadang ingin belimbing, nanas, atau buah-buahan lain,” terangnya.

Namun sayangnya, Topik jarang memenuhi keinginan Siti. Lantaran hal itu, Siti sering marah-marah kepada suaminya. “Bawaan hamil Mas, kalau ada yang tidak dipenuhi inginnya marah-marah terus. Nah waktu itu saya sering marahi Mas Topik, masalahnya minta dibelikan rujak di depan kantornya saja ia tidak mau,” terangnya.

Saat itulah Siti mulai berpikir bahwa Topik tidak berlaku adil. Ia terlalu mementingkan keluarganya dibandingkan istrinya sendiri. “Saya tidak keberatan kalau Mas Topik mau bantu ibunya. Tapi kalau sampai menelantarkan istrinya, saya tidak mau,” ujarnya.

Saat itulah, pertengkaran demi pertengkaran terjadi. Setiap kali bertengkar, Topik selalu pergi dan tinggal di rumah orangtuanya. “Setiap kali pergi, tiga hari atau bahkan seminggu enggak pulang-pulang. Kemudian saya datang ke rumah orangtuanya untuk menjemput. Baru dia mau kembali lagi,” terangnya.

Ketika pertengkaran sering terjadi, Topik sempat memperlihatkan perilaku tidak sopan kepada mertuanya. Ia tidak mempedulikan kedua orangtua Siti ketika berkunjung ke rumahnya. “Dia hanya nyelonong kesana dan kesini. Tidak menyapa orangtua saya sekali pun. Saat itulah saya marah besar,” jelasnya.

Hal tersebut ketika usia kehamilan Siti mencapai delapan bulan. Siti marah besar dan mengaku sangat kecewa dengan Topik.

Sang suami merasa tersinggung dengan kata-kata Siti, ia kembali kabur ke rumah orangtuanya. Namun kali ini Siti tidak menjemput Topik, malahan ia ikut-ikutan pergi meninggalkan rumah dan tinggal dengan orangtuanya. “Setiap bertengkar dia memang suka pergi. Saya sampai jengah, makanya saya pun ikut pergi dari rumah,” jelasnya.

Saat melahirkan, Siti diurus kedua orangtua. Ia tidak memberitahukan tentang kelahirannya itu kepada Topik. Suaminya pun tidak pernah menanyakan kabar Siti, atau menjenguknya di rumah mertua.

Lantaran hal itu, Siti melayangkan gugatan cerai ke Pengadilan Agama satu bulan kemudian. Alasannya, Topik sudah tidak memberikan nafkah lahir batin selama dua bulan. “Suami saya terlalu egois, mungkin dia belum siap berumah tangga. Karenanya lebih baik saya bercerai, lalu mencari suami yang mau serius berumah tangga,” jelasnya. (RB/quy/zee)