Ini Cerita Mistis Bendung Pamarayan

0
8.434 views

SERANG – Bendung Pamarayan di Kabupaten Serang hingga kini masih menyimpan cerita mistis di masyarakat.

Bendung itu, katanya, ada penunggunya. Bahkan ada yang meyakini keberadaan mahluk gaib di dalam Sungai Ciujung. Mereka pun punya larangan-larangan dan pantangan yang harus dihindari.

Rasim, warga Pamarayan, membeberkan kisah mistis yang terjadi di Bendung Pamarayan. Ia mengetahui cerita itu dari orang sepuh asli Pamarayan. Kini, sesepuh itu sudah tiada.

“Penunggunya orang sini (Pamarayan-red), masih buyut, jangga, wareng,” katanya di Kampung Baru, Desa Baru, Kecamatan Pamarayan, Kabupaten Serang, Sabtu (14/10).

Penunggu Sungai Ciujung itu, Rasim menyebut Nyai Mujibah. Nyai dipercaya sebagai leluhur orang Pamarayan.

Nyai Mujibah memiliki dua orang anak, Si Buntung dan Si Koneng. Ceritanya, Si Buntung pernah merebut gadis penganten di Karangantu. Sedangkan, Si Koneng paling neuheur (nakal).

“Suka narikan jalema di kali. Kalau tengah hari di tengah aja kaya orok. Baretomah nembongan bae,” ungkapnya.

Ia mengaku bisa memanggil leluhur mereka, Nyai Mujibah. Biasanya, Nyai senang meminta sesajen sebelas jenis merek rokok.

“Dulu mah manggih Nyai tereh datang, keur jamana rokok Gentong. Ayeunamah gati,” ujarnya.

Meskipun susah dipanggil, kata Bapak tua yang pernah tinggal di Baduy ini, Nyai Mujimah akan datang sendiri, kalau ada tamu dari dalam sungai semacam buaya milik Nyai. Bila para tamu datang, Nyai akan meminta wadal sebagai tumbal.

“Nanti bakal dikejar sama Nyai, buat wadal,” katanya.

Bahkan salah seorang teman Rasim, yakni Haji Sukanta pernah menemukan buaya yang sedang bertelur. Oleh Sukanta diambil telur itu. Kemudian, Nyai Mujimah marah.

“Saya di Jakarta. Ada perasaan pengen pulang. Pas pulang, ternyata Nyai merasa terganggu. Saya datang hadir bawa beras sama ayam dibawa ke kali untuk memohon maaf,” ceritanya.

Een, warga Pamarayan, mengatakan setiap tahun sering menemui dan mendengar orang meninggal akibat terseret arus maupun tenggelam di Sungai Ciujung.

Ia meyakini di dalam sungai tersebut ada lang-lang atau mahluk yang mengawasi. Menurutnya, mahluk tersebut akan meminta wadal untuk dijadikan tumbal.

“Ada keukeuk juga, rambutnya panjang, suka nongol di kali, kadang ada aja yang tenggelam tiap tahun,” katanya.

Tak cuma itu, kata Een, di sungai sering ditemui mahluk jejadian serupa kuda, wanita cantik, dan masih banyak lagi.

Warga Pamarayan sudah tak aneh lagi mendengar cerita mitos itu. Secara nalar memang susah direka. Tetapi Een percaya. Een mewanti-wanti bagi warga luar Pamarayan agar jangan mendekat kali.

“Jangan deket kali. Jangan mandi. Apa-apa harus permisi. Semua ada tata kramanya. Orang asing harus ditemani warga asli Pamarayan. Orang Pamarayannya aja kena, apalagi yang bukan warga asli,” kata Een lagi.

Dikatakan Een, warga Pamarayan masih menjaga tradisi leluhur seperti ruwatan, sesajen dan lainnya. “Sesajen itu nanti dibawa ke kali, buat Nyai,” tukasnya. (Anton Sutompul/antonsutompul1504@gmail.com).