Muhriji (kanan) mengikat daun pisang batu.

Muhriji (52), warga Kampung Cakung Tarikolot, Desa Bojong Pandan, Kecamatan Tunjung Teja, Kabupaten Serang, termasuk jeli melihat potensi usaha di kampung halamannya. Sejak 15 tahun lalu ia menekuni usaha jual beli daun pisang batu.

“Kualitas daun pisang batu di Bojong Pandan terkenal baik, ukurannya besar-besar, tidak cepat rusak dan sobek. Para pengusaha di Cilegon dan daerah lain memburu daun pisang dari daerah kami,” kata Muhriji kepada Radar Banten Online di rumahnya, Minggu (5/6).

Daun pisang batu, yang disebut di kampung itu dengan nama dau cau kulutuk, diperoleh dari hasil kebun miliknya dan sebagian besar didapat dari petani pisang. Biasanya, setiap 20 hari pisang batu sudah dapat diambil daunnya kembali. Harganya per pelapah, ada dua lembar daun pisang, Rp250. Jika empat lembar daun pisang disebut (sepapah). Setiap satu ikatan besar atau per bal 800 lembar pelapah, harganya Rp150.000.

Daun pisang yang sudah dipisahkan dari pelepahnya kemudian dikemas dengan cara diikat. Satu ikatan membutuhkan 400 pelapah daun. Setelah dikemas dijual ke beberapa daerah di Banten menggunakan mobil pick up. Biaya sekali angkut ke daerah tujuan Rp250.000.

Setiap hari sehari, Muhriji rutin mengirimkan 25 ikat daun pisang. Awal merintis usaha, setiap hari bisa mengirim dua kali atau lebih dari 25 ikat
“Sekarang hanya 1 kali ngirim. Kendalanya, lahan kebun pisang banyak dibangun rumah,” ungkapnya.

Pasokan daun pisang dari petani berkurang, lanjut dia, pasar-pasar yang biasa ia pasok juga berkurang. Dulu mengirim ke Kebayoran, Tanah Abang, Serpong, Cilegon, dan Serang. “Saat ini hanya bisa mengirim ke Cilegon saja,” paparnya.

Untuk menjalankan bisnisnya, Muhriji dibantu lima pekerja. Sehari, penghasilan bersih pekerja kurang lebih Rp50.000. Sedangkan penghasilan dia bisa mencapai Rp 250.000 ribu. “Penghasilan kotor,” imbuhnya.

Berkat usahanya, dia sudah bisa membangun rumah dan membeli tanah di beberapa daerah.

Sumitra, rekan usaha Muhriji, juga dapat membeli kendaraan roda dua dan menyekolahkan anaknya hingga SLTA. “Saat ini, memang baru SLTA, tapi saya ingin menyekolahkan anak saya lebih tinggi lagi,” kata Sumitra.

Sementara Jarmani, tengkulak daun pisang batu, tidak memiliki modal besar untuk mengembangkan usahanya. Modal sedikit, untung pun tipis. Kadang-kadang modalnya pun habis. (Sodik)