Ini Curhat Terpidana Bebas Kasus Korupsi Dana Bantuan Koperasi

Net. ILUSTRASI
Net. ILUSTRASI

SERANG – Sidang kasus dugaan korupsi dana bantuan bergulir dari Kementerian Koperasi dan UKM tahun 2004-2009 sebesar Rp17,15 miliar dengan terdakwa Supendi alias Pendi. Dalam sidang yang dipimpin hakim Epiyanto, jaksa penuntut umum (JPU) Kejati Banten dan Kejari Serang menghadirkan saksi mantan Kasi Pembinaan Usaha Disperindagkop Kabupaten Serang Dadang Maskun Basuki, yang merupakan terpidana bebas dalam kasus ini.

Dalam kesempatan itu, Dadang sempat mencurahkan isi hatinya di persidangan mengenai penananganan kasus ini terhadap dirinya. Dadang mengaku bahwa dirinya tidak menerima uang dari proyek ini. “Ya (tidak terima uang). Batin saya, dari tiga seksi (yang ada di Disperindagkop), hanya saya saja,” ungkapnya, selasa (29/12/2015).

Dadang ditanya mengenai perasaannya yang tidak menerima uang namun harus menerima pil pahit harus ditahan, walaupun akhirnya bebas.
Dadang juga mengatakan bahwa dirinya hanya disuruh atasannya membuat surat pengantar proposal Koperasi Harapan Maju, yang diajukan terdakwa saat itu.

Dadang juga mengaku bahwa proposal pengajuan dana dari kementerian itu langsung kepada kepala dinas dan kepala bidang.
“Saya hanya disuruh buat surat pengantar, ada surat disposisi buatkan surat pengantar,” jelasnya kepada jaksa seraya menambahkan bahwa surat disposisi yang ditujukan kepada dirinya itu isinya biasanya minta untuk ditelaah.

Namun begitu, Dadang mengakui bahwa dari sebanyak 300 koperasi yang menjadi binaannya, Koperasi Harapan Maju tergolong baru. “Taunya, saat pengajuan, ke kabid,” terangnya.

Terkait apakah koperasi itu sudah berbadan hukum, Dadang menngatakan bahwa hal itu sudah diperiksa oleh seksi lembaga di dinasnya. “Badan hukum, sudah diperiksa seksi kelembagaan,” akunya.

Kasus ini terungkap berawal dari penyelidikan yang dilakukan oleh Polda Banten terhadap bantuan penguatan modal koperasi senilai Rp 4,8 miliar yang diberikan oleh Kementerian Koperasi dan UKM kepada sebuah koperasi fiktif bernama Koperasi Harapan Maju di Desa Keboncau, Kecamatan Pamarayan, Kabupaten Serang, pada 2004 lalu.

Dana bantuan untuk penguatan modal koperasi tersebut diberikan kepada 10 kelompok tani/UKM di 3 provinsi, yakni Banten, Lampung, dan Sulawesi Tengah.

Penetapan kelompok tani/UKM itu tertuang dalam surat keputusan Kementerian Koperasi dan UKM Nomor 79/Kep/M.KUKM/VIII/2004 tertanggal 25 Agustus 2004.

Pelanggaran hukum yang dilakukan, antara lain, Disperindagkop Kabupaten Serang memberikan rekomendasi koperasi penerima bantuan sebelum juknis dikeluarkan. Rekomendasi itu dilayangkan ke Kementerian Koperasi dan UKM untuk dijadikan dasar pemberian dana bantuan.

Terdakwa Supendi diduga terlibat dalam kasus penyelewengan dana bantuan bergulir yang dikeluarkan oleh Kementerian Koperasi dan UKM melalui Koperasi Harapan Maju dengan kerugian mencapai Rp 4,8 miliar.

Koperasi yang beralamat di Desa Kebon Cau, Kecamatan Pamarayan, Kabupaten Serang yang diberikan dana untuk membiayai budidaya rumput laut di daerah Pulau Panjang pada 2004 lalu, tidak menjalankan kegiatanya alias fiktif.

Supendi juga diduga terlibat dalam kasus proyek penanaman pohon jarak pagar di Kabupaten Lebak senilai Rp4,2 miliar dan pembuatan pabrik percetakan briket batu bara di Kabupaten Lebak Rp4,55 miliar pada 2006 lalu.

Koperasi fiktif yang juga dibuat oleh Supendi ini telah menerima dana dari Kementerian Koperasi dan UKM senilai Rp3,6 miliar untuk budidaya rumput laut. Kasus ini juga telah melibatkan mantan Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kabupaten Serang Endang Rahmat, mantan Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Hedi Tahap, dan mantan Kasi Koperasi Disperindagkop Kabupaten Serang Dadang Maskun Basuki.

Di Pengadilan Negeri (PN) Serang, Endang Rahmat divonis dua tahun penjara dan denda Rp 50 juta oleh majelis hakim. Sementara Hedi Tahap dan Dadang Maskun Basuki divonis masing-masing satu tahun penjara dan denda Rp 50 juta.

Hedi Tahap melakukan upaya hukum peninjauan kembali (PK) dan dikabulkan. Empat terdakwa lainnya adalah pengurus Koperasi Harapan Maju yang fiktif itu, Yadi Supriadi alias Hatami, Sapudin alias M Dodi, Ijim alias Jasmani, dan M Yusuf alias Sukriya masing-masing divonis tiga tahun penjara oleh majelis hakim PN Serang.

Dalam kasus yang sama, dua pejabat Kementerian Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yakni mantan Asisten Deputi Ketenagalistrikan dan Aneka Usaha (Asdep Lisau) pada Saputra, dan mantan Kabid Lisau Ramal Sihombing turut diseret ke meja hijau, namun divonis bebas oleh majelis hakim di PN Serang. (Wahyudin)