Ini Gambaran Kekuatan Tim-tim MotoGP 2016/2017

MotoGP
Dani Pedrosa

GAMBARAN kekuatan tim-tim kandidat juara MotoGP akan semakin nyata pekan ini. Tepatnya ketika mereka datang ke Sirkuit Losail, Qatar, untuk menjalani uji coba pramusim terakhir mulai Rabu nanti (2/3/2016). Momen itu menjadi kesempatan terakhir kontestan untuk menemukan setting terbaik sebelum musim balap benar-benar dibuka 20 Maret mendatang.

Dari dua uji coba sebelumnya, baik Sepang maupun Phillip Island, potensi kekuatan tim papan atas masih sangat cair. Yamaha begitu dominan di Sepang. Bikin Honda mati-matian mengejar ketertinggalan 1,3 detik dari Jorge Lorenzo. Jarak yang sama sekali tidak diprediksi oleh siapa pun terjadi di sesi uji coba perdana.

”Kerja keras kami adalah mengejar defisit dari Lorenzo. Sebab, dengan Valentino (Rossi), kami tidak terlalu jauh,” terang Vice President Honda Racing Corporation (HRC) Shuhei Nakamoto saat kunjungannya ke Jakarta awal bulan ini. Dari Sepang, Honda pulang sambil terheran-heran atas ketangguhan Lorenzo.

Dua pekan kemudian, uji coba kedua di Phillip Island, Australia, digelar. Pelan tapi pasti, bintang Repsol Honda Marc Marquez menemukan kenyamanan di atas motornya. Pembalap 23 tahun tersebut memuncaki daftar rider tercepat dengan konsistensi yang meningkat.

Apa yang akan terjadi di Qatar? Sirkuit ini berbeda dengan dua trek sebelumnya. Bahkan sangat berbeda. Di sana nanti, gambaran kekuatan tim-tim besar akan lebih jelas bila dibandingkan dengan Sepang atau Australia. Setidaknya jika menilik seri pertama nanti digelar di Losail pada malam, night race.

Sepang memang punya variasi tikungan cepat dan lambat yang menantang. Namun, suhu panas akan lebih membebani pembalap daripada ban. Sementara itu, Losail tidak memiliki tikung-an cepat dengan karakter seperti Sepang. Tapi, suhu udara yang lebih rendah membuat permukaan trek di sana lebih licin. Pasir dari gurun di sekitarnya bisa saja mengotori permukaan trek.

So, semua pembalap akan kembali dipaksa beradaptasi dengan ban Michelin di atas trek yang karakternya sangat berbeda. Kecelakaan rawan terjadi karena mayoritas rider masih terus mencari feeling pada roda depan mereka.

Lalu, siapa yang akan diuntungkan dengan kondisi tersebut? Lorenzo. Sejauh ini, hanya rider Majorca itu yang mengaku puas dengan performa Michelin.

Gaya membalap Lorenzo cocok dengan karakter Michelin yang cengkeraman roda depannya minim. Style dia adalah mengerem cukup jauh sebelum masuk tikungan, lalu keluar dengan cepat. Terlihat garis balap juara bertahan itu agak lebih lebar bila dibandingkan dengan para rivalnya.

Berbeda dengan Marquez dan Rossi yang gaya balapnya agresif. Mengerem selambat-lambatnya dengan menekan tuas rem sedalam-dalamnya, dan mengimbanginya dengan menurunkan kaki saat memasuki tikungan. Dengan karakter Michelin, riskan bagi mereka mempertahankan gaya balap tersebut. ”Aku rasa uji coba Qatar sangat krusial untuk mengetahui potensi kami secara keseluruhan. Karena karakternya berbeda dengan Sepang dan Phillip Island,” terangnya sebagaimana dikutip Crash. (cak/c19/na)