Widodo Hadi
Widodo Hadi

SERANG – Mantan Kepala Dinas Bina Marga dan Tata Ruang (DBMTR) Provinsi Banten Widodo Hadi yang lengser kemarin sore menceritakan sejumlah kesulitan yang dihadapinya selama menjadi kepala dinas tersebut. Widodo Hadi diganti Hadi Soeryadi. Widodo berpesan agar Hadi Soeryadi tahu harus bersikap apa.

Widodo menuturkan, berkaca pada tahun terakhirnya di DBMTR pada tahun 2015, kesulitan yang terbesar dihadapi DBMTR dalam mengerjakan proyek-proyek pembangunan adalah pembebasan lahan. Karena dalam melakukan pekerjaan tersebut berbagai halangan yang tidak terduga bisa muncul, baik dari pemilik lahan atau oknum-oknum tertentu.

“Porsi anggaran di DBMTR kan 33 persennya untuk pembebasan lahan, dan proses ini menghabiskan waktu yang lama. Tahun 2015, silpa untuk pembebasan lahan sekitar Rp180 miliar, jumlah sebesar itu akibat banyaknya halangan,” kata Widodo, Kamis (7/1/2016).

Misalnya, pada proyek pembangunan UPT di Kabupaten Lebak. Beberapa kali mengalami jalan buntu dalam pembebasan lahan, kendati telah melalui proses. “Penilaian oleh apriser sudah dilakukan, pembicaraan dengan pemilik lahan juga sudah dilakukan, tapi tiba-tiba pemilik lahan membatalkan. Ada juga pemilik lahan yang ngotot dengan harga yang ditetapkannya,” ujar Widodo.

Persoalan tanah pun menjadi penghalang dalam penyuran anggaran untuk pembangunan fisik. Misalnya yang terjadi pada pembangunan jalan dekat KP3B. Sampai saat ini, sejumlah tanah bermasalah sehingga mengganggu kinerja kontraktor. “Ada yang menjadi agunan bank, ada juga masalah lain sehingga belum bisa dibebaskan. Silpa untuk proyek fisik tahun terakhir saya sendiri mencapai Rp60 miliar,” ujarnya.

Widodo saat ini dipindahkan menjadi Asisten Daerah bidang Administrasi Umum. Widodo berharap penggantinya bisa mengambil pelajaran dari persoalan tersebut sehingga proyek-proyek pembangunan bisa selesai tepat waktu. “Ini PR juga untuk kepala dinas selanjutnya,” kata Widodo. (Bayu)