Ini Motif Pelaku Menculik Pengusaha Benur di Bayah

Kapolda Banten Brigjen Pol Listyo Sigit Prabowo membeberkan barang bukti kasus perusakan Mapolsek Bayah di Polda Banten, Rabu (16/5).

SERANG – Pemerasan menjadi motif pelaku penculikan terhadap dua pengusaha benur asal Bayah, Kabupaten Lebak, Sabtu (12/5) lalu. Kejahatan itu dilakukan oleh lima pelaku dengan mengaku-ngaku sebagai personel Intel Polsek Bayah. Tiga pelaku pemicu perusakan Mapolsek Bayah berhasil dibekuk polisi.

Ketiga pelaku itu adalah Hendra, Thoha, dan Sudin. Mereka adalah oknum lembaga swadaya masyarakat (LSM). Hendra diamankan di Desa Cihara, Kabupaten Lebak, Senin (14/5) dini hari.

“Tersangka Th (Thoha-red) kita tangkap di Saketi pada Selasa (15/5). Pelaku terpaksa ditembak kakinya karena berusaha melarikan diri. Di hari yang sama kami juga berhasil menangkap Su (Sudin-red) di Wanasalam di sawah,” kata Kapolda Banten Brigjen Pol Listyo Sigit Prabowo di Mapolda Banten, Rabu (16/5).

Dikatakan Listyo, komplotan tersebut berjumlah lima orang. Masing-masing memiliki tugas dan peran masing-masing. Di antaranya sebagai calon pembeli untuk memancing korban dan mengaku sebagai polisi. “Rencana kejahatan dilakukan di rumah Su. Strategi mencari korban dan mempersiapkan mobil serta senjata api,” kata Listyo.

Komplotan ini memeroleh target kejahatan. Dua pengusaha benur Anwar dan Gugun menjadi sasaran. Pelaku memaksa korban masuk ke dalam mobil jenis minibus. Usaha pelaku sempat dihalangi nelayan setempat.

Namun, pelaku nekat menabrak kerumunan para nelayan. Salah satu nelayan terluka. Setelah lolos dari kepungan warga, kedua korban dibawa keliling. Selama perjalanan, pelaku menodongkan softgun kepada korban. Lantaran takut, enam ribu benih lobster dan uang sebesar Rp23,5 juta milik korban diserahkan kepada pelaku. “Saat kita tangkap, uang benurnya tersisa Rp600 ribu. Sedangkan, uang Rp23,5 juta masih utuh,” ungkap mantan ajudan Presiden Joko Widodo itu.

Usai memeroleh harta korban, pelaku meninggalkan korban di tengah jalan. Adanya tindakan arogan dan penangkapan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang mengaku aparat polisi memicu kemarahan warga. Emosi warga diluapkan dengan merusak dan membakar mobil dinas Polsek Bayah.

“Kami langsung melakukan pemeriksaan terhadap anggota kami dari Polsek maupun Polda. Namun, tidak ada anggota kami yang melakukan penangkapan,” tutur Listyo.

Akibat perbuatan ketiganya, polisi menjerat para pelaku penculikan dengan pasal berlapis. Yakni, Pasal 365 KUH Pidana, Pasal 368 KUH Pidana, dan Pasal 328 KUH Pidana. “Kami masih melakukan pengejaran terhadap dua orang yang masih menjadi buron (Ad dan Ah-red),” kata Listyo.

Dari tangan ketiga tersangka, polisi menyita sejumlah barang bukti. Di antaranya, ponsel, dua buah softgun, dua unit motor, dan satu unit mobil. ”Ada uang tunai sebesar Rp23,5 juta, serta sisa uang penjualan benur Rp600 ribu,” kata Listyo.

Selain itu, polisi telah menetapkan 13 tersangka perusakan Mapolsek Bayah. Di antaranya, J (20), E (50), D (35), H (36), G (40), R (32), H (33), MH (39), S (38), AH (33), M (40), YY (39) dan A (20). “Tiga orang merupakan pelaku pembakaran mobil dinas dan 10 orang merupakan pelaku perusakan Polsek Bayah dengan batu dan kayu,” ucap Listyo.

Usai penetapan tersangka perusakan, Listyo mengaku telah menemui tokoh ulama dan tokoh masyarakat Bayah. Hasilnya, tokoh ulama dan tokoh masyarakat mendukung upaya Polda Banten menindak pelaku perusakan. “Koordinasi dan komunikasi sudah dilakukan dengan tokoh masyarakat. Semuanya, mendukung agar pelaku ditindak,” kata Listyo. (Merwanda/RBG)