Mimin (47) bukan nama sebenarnya tak pernah bisa menerima, kenapa kisah rumah tangga sang kakak tercinta bisa hancur berantakan? Lantaran sang kakak dan istrinya tinggal di rumah keluarga bersama Mimin yang masih remaja, beragam keributan itu terekam jelas dalam ingtan.

Pernah di suatu malam, Mimin yang sedang asyik mengerjakan tugas sekolah dikagetkan dengan suara keributan di ruang tengah antara kakak dan istrinya. Ia yang penasaran dengan apa yang terjadi, diam-diam mengintip dari sela pintu kamar yang sedikit dibuka.

“Guncrang,” suara guci hiasan dibanting sang istri. Seolah tak terima dengan apa yang dilakukan istrinya, sang kakak balas menampar sampai jatuh terhuyung. Mimin menyaksikan itu sambil meringis ketakutan. Kehidupan rumah tangga yang katanya indah, baginya sangat mengerikan.

Sejak saat itu, Mimin seolah menghindar dari berbagai hal tentang pernikahan. Baik obrolan atau pun acara-acara pernikahan temannya sekali pun. Parahnya, sampai kedua orangtua mempertanyakan statusnya yang sudah menjadi wanita dewasa, Mimin enggan mencari sosok lelaki pilihan hati.

Aih-aih, kok begitu sih Teh?

“Duh, Kang. Ngeri kalau melihat keributan rumah tangga kakak saya itu. Saya mah enggak mau kayak gitu, takut!” curhat Mimin kepada Radar Banten.

Hingga dua tahun lebih menahan ketakutan dari beragam keributan rumah tangga sang kakak, akhirnya terjadilah perceraian antara kakak dan istrinya. Kengerian itu semakin menjadi-jadi, tanpa disadari, di benak Mimin tumbuh sebuah persepsi bahwa rumah tangga ialah sesuatu yang menakutkan.

Apalagi, selepas perceraian, anak sang kakak diterlantarkan begitu saja. Lantaran tak tega dengan nasibnya akibat perilaku kedua orangtua, Mimin ikhlas banting tulang merawat sang anak.

Subhanallah banget sih Teh Mimin ini.

“Kalau enggak sama saya, siapa lagi yang mau ngurus dia. Bapaknya kelayaban mulu, ibunya juga sudah nikah sama lelaki lain, ya tinggal saya di rumah,” tukas Mimin emosi.

Mimin sendiri bukanlah wanita yang terlahir dari keluarga berada, ia anak seorang guru pensiunan yang sudah tua renta. Ibu dan ayahnya sering sakit-sakitan, membuat Mimin semakin keras berjuang merawat kedua orangtua. Banyak menghabiskan waktu di rumah, masa muda Mimin pun hilang begitu saja.

Cobaan datang seolah tak ada habisnya, lulus SMA dan mulai menyelami sibuknya dunia kerja, ayahnya meninggal dunia. Parahnya, semua kakak-kakaknya datang hanya di saat hari berduka saja, dua minggu setelahnya semua pergi entah ke mana.

Di tengah perjuangan mengurus ibu dan anak sang kakak, Mimin berulangkali berganti profesi. Mulai dari menjadi karyawan di sebuah perusahaan ternama, sampai menjadi TKW di Malaysia, Mimin melakukan semuanya demi keluarga tercinta.

Sampai usianya menginjak kepala tiga, sebagai gadis kampung tentu ia banyak digunjingkan orang lantaran belum menikah. Namun Mimin tak peduli, berkat jasanya, ia bisa menyekolahkan anak sang kakak sampai lulus SMA. Namun apalah daya, ketika sang anak tumbuh besar malah sering membangkang, kelayaban dan main perempuan. Aih-aih, ini sih namanya buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.

“Ya namanya juga anak yang tumbuh tanpa kasih sayang orangtua, Kang. Saya sih mau dia sebadung apa pun, tetap sayang mah sayang,” kata Mimin.

Hingga suatu hari, seorang lelaki, sebut saja Dodi (56) datang ke rumah Mimin dengan tujuan mulia. Menyalami punggung tangan sang ibu yang tengah duduk di kursi roda, ia meminta izin melamar Mimin untuk dijadikan istrinya. Sang ibu pun menitikan air mata.

Dalam hatinya mungkin berkata, akhirnya anak perempuan saya ada yang melamar juga. Hehe. Walau pun sebenarnya kalau dilihat dari fisik, Mimin termasuk wanita cantik dan seksi. Lekuk tubuhnya yang gemulai, ditambah mata sayunya yang meneduhkan, Mimin bisa dengan mudah mendapatkan cinta.

Tapi sayangnya, lantaran trauma dengan pernikahan, ia sempat menolak atau menghindar dari beberapa lelaki yang mendekatinya. Hingga hari itu seolah Tuhan sudah menakdirkan, Dodi yang merupakan duda satu anak datang ke rumah dan langsung menemui ibunya. Ciyee.

Singkat cerita, menikahlah Mimin dengan Dodi. Menikat janji sehidup semati, keduanya resmi menjadi sepasang suami istri. Dengan pesta pernikahan sederhana, hanya mengundang saudara dan tetangga, mereka berbahagia dan bersiap menjalani bahtera rumah tangga.

Di awal pernikahan Dodi menjadi suami yang penuh perhatian. Berprofesi sebagai petani, ia menuruti semua kemauan sang istri saat panen tiba. Ya meski ala kadarnya, tapi dengan kelembutan dan kasih sayang, semua jadi terasa indah. Mimin pun menjadi istri yang baik.

Seperti diceritakan Mimin, Dodi sudah lama hidup sendiri. Berpostur tinggi dan berkulit hitam lantaran sering tersengat panas matahari, Dodi merupakan lelaki baik hati. Selama ini ia mengurus anaknya sendiri dan butuh kehadiran istri. Maka dengan Miminlah kemudian sang anak tumbuh dengan penuh kasih sayang.

Dua tahun berlalu, Dodi mulai merasakan ada yang aneh dengan rumah tangganya. Sudah selama itu mereka belum juga dikaruniai buah hati. Padahal sudah berkali-kali konsultasi ke klinik sampai meminum ramuan herbal saran tetangga. Namun apalah daya, Mimin belum hamil juga.

Atas saran sang mertua, ia pun mendatangi salah satu rumah sakit terbesar di Kota Serang. Memasuki ruangan yang serba putih dengan bau obat-obatan nan menyengat, Mimin diperiksa oleh seorang dokter wanita yang usianya tak jauh berbeda dengannya.

“Teh Mimin ini terkena gangguan psikologis tentang kekerasan, kalau mau sembuh, Teh Mimin harus rutin melakukan terapi,” begitu ungkapan sang dokter hingga membuat Mimin tercengang.

Barulah ia teringat tentang kisah rumah tangga kakaknya yang hancur berantakan. Perahnya, entah karena kecewa atau tak terima, sejak saat itu Dodi jadi sering marah-marah dan berperilaku kasar terhadapnya.

Astaga, sabar ya Teh Mimin. Semoga segera sembuh dan cepat dapat momongan. Amin. (daru-zetizen/zee/ags/RBG)