Inilah Potret Kekumuhan di Kota Serang

Suasana kawasan rumah kumuh yang berada di bantaran rel, Lingkungan Ciputri, Kelurahan Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Jumat (11/10)

Berstatus sebagai ibukota Provinsi, Kota Serang tidak bisa menutupi wajah kumuhnya. Bertajuk Kota Madani, tapi tercatat sebagai daerah dengan permukiman kumuh terluas se-Banten.

Sampah dan perilaku hidup sehat masyarakat Kota Serang masih perlu menjadi perhatian. Terlebih di titik-titik kelurahan yang masuk sebagai wilayah kumuh di Ibukota Banten ini.

Catatan Satker Pembangunan Infrastruktur Pemukiman (PIP) Kota Serang pada Direktorat Jenderal Cipta Karya, cakupan permukiman kumuh se-Banten seluas 522,31 hektare. Dari angka tersebut, Kota Serang bertengger sebagai daerah terluas kawasan permukiman kumuh seluas 202.54 hektare dengan sebaran di 16 kelurahan dan 72 rukun tetangga (RT).

Setelah dilakukan berbagai intervensi dari 2017 hingga 2018, pada 2019 masih menyisakan kawasan kumuh seluas 30,28 hektare yang tersebar di tujuh titik kelurahan. Yakni, Kelurahan Cipocokjaya, Penancangan, Cilaku, Warungjaud, Kilasah, dan Sumurpecung.

Namun, setelah ada evaluasi berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 2 Tahun 2016 tentang Kekumuhan sebagai Indikator Penilaian, permukiman kumuh di Kota Serang menjadi 538,75 hektare. Dari luas tersebut sudah dapat direalisasikan sebesar 154,24 hektare dan menyisakan permukiman kumuh seluas 384,51 hektare.

Dari berbagai daerah yang masuk wilayah kumuh di Kota Serang, Radar Banten menyusuri Kelurahan Warungjaud, Kilasah, dan Sawahluhur. Dari Warungjaud menuju Sawahluhur, kesemrawutan bangunan dan sampah menjadi pemandangan yang begitu mudah dijumpai di pinggir jalan. Sanitasi juga tampak ala kadarnya mengalir di samping-samping rumah warga.

Terlebih, saat memasuki Kelurahan Kilasah dan Sawahluhur terbentang sungai yang mengering. Sungai yang menyisakan sedikit air kehitaman, menumpuk sampah menjadi pemandangan.

Belum lagi, kondisi sungai itu tidak dibatasi bangunan tembok semen. Biasanya, warga menggunakan air itu untuk mencuci dan mandi sehari-hari. “Sudah biasa begini kalau enggak ada air. Sudah biasa,” aku Salimah, warga Kampung Cangkring, Kelurahan Sawahluhur, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, kepada Radar Banten, kemarin.

Wanita berusia 55 tahun itu tidak sendirian. Ia sedang bersama tetangganya yang mengaku bernama Ema. Salimah dan Ema mengaku sehari-hari menggunakan sungai untuk mencuci pakaian atau perlengkapan dapur.

Hanya saja, saat ini ia menggunakan air sumur yang rasanya terasa asin. “Sumurnya asin, jadi nyucinya enggak bersih. Makanya, buat nyuci doang,” kata Salimah yang dibenarkan Ema.

Perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani itu mengaku, lebih nyaman melakukan mandi cuci di sungai ketimbang di sumur. Selain rasa sumur yang asin, kadang airnya kurang banyak.

Tidak hanya Kampung Cangkring, Warga di Kampung Jamblang, Sawahluhur, juga punya kebiasaan yang sama. Kebiasaan tersebut dibenarkan Ketua RT02 RW02, Kampung Jamblang, Sawahluhur, Suhrani. “Memang sudah begitu dari dulu. Ada sumur tetap saja di sungai. Bilangnya irit air,” katanya ditemui di kampung tersebut.

Total warganya, Suhrani mengungkapkan, ada 54 kepala keluarga. Hampir semuanya memiliki sumur sendiri. Namun, kebiasaan yang sudah berlangsung puluhan tahun itu membuat warga terlihat lebih nyaman mencuci di sungai.

“Kalau tabungan (WC) mah sudah di rumah masing-masing. Enggak kayak dulu banyak yang berjajar di sungai,” candanya.

Selain sungai, lanjut Suhrani, perusahaan daerah air bersih (PDAB) dari Kenari juga sudah masuk ke Kelurahan Sawahluhur. Namun, aliran airnya belum terlalu lancar. Bahkan, dua bulan yang lalu sempat macet tidak ada airnya. “Baru dua hari ini saja jalan lagi,” akunya.

Selain kebiasaan mandi dan mencuci di sungai, kesadaran untuk membuang sampah juga masih jadi masalah. “Habis bagiamana, enggak ada penampung sampahnya. Terus dari kota enggak ada yang ambil, padahal kalau musrenbang atau ada kunjungan pejabat ke sini sampah yang selalu digubris,” katanya.

Namun, tambahnya, ada beberapa warga yang memilih membakar sampahnya. “Itu yang rajin. Kalau yang malas ya dibuang begitu saja semau-maunya,” tambah Suhrani. (KEN SUPRIYONO)