Mendapat julukan suami takut istri, tak membuat Along (46), nama samaran, hilang percaya diri. Memutuskan menjalin rumah tangga dengan Eti (44), juga nama samaran, setelah cerai dengan istri, ia menyerahkan sang buah hati sepenuhnya diurus istri baru. Apalah daya, seolah benar image miring tentang ibu tiri, sang anak hanya diberi makan teri. Aih-aih, ngeri amat!

“Saya enggak tahu, saya kira dia baik dan mau mengurus anak. Soalnya, pas sebelum menikah, ya dia akrab banget sama anak saya,” ujar Along kepada Radar Banten.

Seperti diceritakan Along, kisah cintanya bersama Eti berawal ketika keduanya sama-sama sedang mencari pendamping hidup. Memiliki nasib sama, Along, duda anak satu, dan Eti, janda anak satu, timbullah chemistry di antara keduanya. Tak jauh berbeda dengan Along yang anak petani biasa, Eti juga terlahir dari keluarga tak punya.

Eti anak pertama dari empat bersaudara. Ditinggal suami karena masalah ekonomi, ia menerima Along yang katanya memiliki sifat bak lelaki dewasa. Dikenalkan lewat peran seorang teman, ditentukanlah tanggal pertemuan.

Along yang baru diterima kerja di salah satu perusahaan swasta di Tangerang, tampil percaya diri dan meyakinkan. Meski awalnya tampak malu-malu, entah karena jaim atau memang grogi, baik Along maupun Eti lebih banyak diam dan bicara seperlunya. Tapi anehnya, setelah bertukar kontak dan pulang ke rumah masing-masing, kerinduan menciptakan komunikasi yang intens di antara mereka. Bak remaja yang tengah dimabuk cinta, Along dan Eti teleponan setiap malam. Oalah, ini sih namanya malu-malu kucing.

“Hehe, ya waktu itu saya enggak enak. Kita ketemuan di tempat makan dan di situ posisinya ada teman juga,” curhat Along.

Sampai suatu hari, ketika mereka saling curhat tentang kehidupan masing-masing, Along bercerita sesuatu. Katanya, lantaran Eti ingin mengubah nasib, terlebih keluarga juga menaruh harapan besar padanya, ia diminta segera menikah.

Namun mungkin karena belum berjodoh, beberapa lelaki yang sempat mengisi hati Eti bahkan sampai datang ke rumah, tak pernah jadi menikahinya. Waduh, kasihan amat.

Katanya, hampir semua calon Eti menyerah pada tahap akhir lantaran tak mampu menyanggupi keinginan mahar yang diajukan. Wajar saja, meski janda, Eti dianugerahi wajah cantik dengan kulit putih. Pantaslah ia terkesan selektif dalam memilih suami. Tak hanya tampan dan baik, tapi juga unggul dalam urusan materi.

Mungkin lelah mencari hal yang tak pasti, pihak keluarga tak lagi memasang mahar yang besar untuk mendapatkan Eti. Beruntungnya, Along datang di saat yang tepat. Tidak dibebankan persyaratan macam-macam, ia yang memang tidak memiliki modal besar, diperkenankan meminang Eti.

Hebatnya, seolah ditakdirkan Tuhan untuk segera menuju jenjang pernikahan, Eti pun tampak pasrah dan menerima Along apa adanya. Tak menunggu waktu lama, kedua keluarga pun sepakat melangsungkan pernikahan. Mengikat janji sehidup semati, Along dan Eti resmi menjadi sepasang suami istri. Widih, untung dong, Kang?

“Ya alhamdulillah, dia memang cantik. Meski janda, penampilannya kayak perawan,” akunya.

Di awal pernikahan, Along dan Eti saling menjaga perasaan. Bersikap sopan dan terkadang masih diam-diam di depan orangtua, keduanya terus belajar beradaptasi. Berjalan setahun usia pernikahan, keduanya menetap di rumah pribadi Along, membuat hubungan tak lagi canggung dan semakin mesra.

Namun memang kebahagiaan tak pernah selaras dengan keabadian, sejak saat itu, keluarlah sikap asli sang istri. Sering menuntut suami dengan menunjukkan emosi, Along tak mampu mengendalikan keadaan. Lebih banyak diam dan menuruti kemauan istri, ia tak mau rumah tangganya cerai lagi.

Along mengaku, sang istri memang termasuk wanita yang memiliki temperamen tinggi. Tak bisa berbuat salah sedikit bahkan sampai menyakiti hati, Eti pasti langsung emosi. Meski sudah dinasihati untuk belajar sabar dan tak gampang marah, tapi mungkin sudah bawaan sejak lahir, Eti tak pernah bisa bersikap seperti apa yang diinginkan sang suami.

Parahnya, setiap tanggal muda, dengan penghasilan yang lumayan besar, Along tak pernah bisa menyisihkan uang. Jangankan menabung, membeli rokok saja terkadang sulit dan harus diam-diam memisahkan uang. Bukan karena tak mampu, semua uang gajiannya diberikan kepada Eti. Ya bagus atuh, Kang!

“Saya juga awalnya mah mengira dia simpan uang itu buat masa depan anak. Eh, tahunya malah bikin saya kecewa,” ungkap Along. Waduh, kenapa Kang?

Suatu hari, Along meminta uang untuk biaya renovasi rumah. Bukannya mendapat apa yang ia minta, sang istri malah memarahinya. Along tak bisa mengontrol emosi, keributan pun terjadi. Sampai di puncak amarah, Eti mengaku, uang sang suami digunakan untuk membeli bahan makanan persediaan keluarga. Astaga.

“Dia enggak pernah cerita ke saya, Kang. Atuh kalau begitu mah, sama saja saya ngempanin keluarga dia,” tukas Along emosi.

Parahnya, seolah kehancuran memang sudah mendekati rumah tangga, keesokan harinya Along kembali menerima kenyataan pahit dari sang anak. Bobroknya hubungan yang terjalin dengan Eti, ia merasa tak bersemangat kerja dan ketika pulang dengan wajah muram, didapatinya sang kakak perempuan di depan rumahnya. Wah, lagi ngapain itu, Kang?

“Dia marah-marah, katanya, tadi siang anak saya datang ke rumah dia minta makan. Pas saya tanya, ternyata anak saya cuma dikasih makan teri sama istri,” curhat Along. Ya ampun, parah amat.

Tanpa basa-basi, ditendangnya pintu rumah. Eti yang saat itu baru selesai mandi, diminta untuk membereskan pakaian. Dengan nada bicara yang tak terkendali, Along mengusir sang istri. Eti pun menangis, ia pulang ke rumah orangtua. Sebulan kemudian, mereka resmi bercerai.

Ya ampun, sabar ya Kang Along. Semoga kembali mendapat istri yang sayang anak dan nurut sama suami. Amin. (daru-zetizen/zee/ira)