Inilah Risiko Punya Suami Suka Kentut Sembarangan

Sore itu Bogel (47) dan sang istri, Romlah (45), keduanya nama samaran, sengaja datang lebih awal ke rumah keluarga. Berharap mendapat simpati dan kesan baik dari sang ibu yang sedang mengadakan syukuran cucunya. Mereka ingin bantu-bantu sekaligus ‘mencari muka’.

Selepas magrib, berdatanganlah orang-orang dari masjid kampung setempat turut memanjatkan doa untuk sang bayi. Semua tampak berbahagia, bertegur sapa. Ucapan selamat pun tak henti-hentinya terucap. Pokoknya, malam itu Bogel dan Romlah hanyut dalam suasana bersahaja.

Hingga acara syukuran selesai, sebagian besar orang pun beranjak pulang, hanya ustaz dan beberapa tokoh masyarakat yang tampak mash mengobrol dengan anggota keluarga. Sudah pasti, Bogel dan Romlah pun ada di sana. Di tengah hangatnya obrolan, Bogel yang duduk di pojok ruangan terlihat tak nyaman. Beberapa kali ia mengubah posisi duduknya.

Romlah yang asyik bermain dengan keponakan nan lucu tak menyadari apa yang dialami sang suami. Sampai akhirnya tragedi itu pun terjadi, suara menjijikan nan nyaring dan berintonasi buruk hadir di tengah kumpulan orang-orang terhormat. Seketika, hening tercipta.

Saat orang-orang mulai gelisah sambil menutup hidung, seluruh anggota keluarga melirik sinis ke arah Bogel. Meski tak ada kata terucap, Romlah tahu kalau mereka marah atas apa yang dilakukan suaminya. Parahnya, bukannya meminta maaf, Bogel malah senyum-senyum. Aih-aih, kentut sembarangan saja nih Kang Bogel.

Sontak Romlah berdiri sambil melempar senyum penuh tekanan pada orang-orang. Ia menarik lengan Bogel, membawanya ke ruang belakang. Saat itu juga, dengan suara agak ditekan menahan kesal, ia mengajak pulang lewat pintu dapur. Tak ada pamit, tak ada sungkem, Romlah dan Bogel kabur begitu saja. Weleh-weleh.

“Wuh, malam itu saya kesel sekesel-keselnya sama dia, Kang. Sudah tahu banyak orang-orang tua, dia kentut seenaknya,” tukas Romlah emosi.

Di perjalanan, Romlah tak henti-henti memarahi sang suami. Semua kekesalannya diungkapkan di belakang Bogel saat mengendarai kendaraan sepeda motor. Tak peduli tubuh terguncang akibat jalan rusak dan dinginnya malam, ocehan Romlah bergema sampai ke rumah.

Ketika sampai, handphone Romlah berbunyi, pertanda pesan masuk dari seseorang. Dilihatlah layar handphone dan ternyata pesan dari sang ibu yang juga terpancing emosi. Jadilah Romlah semakin terbakar amarah, apalagi mendapati sikap suaminya yang hanya diam membisu. Hingga akhirnya, mungkin habis kesabaran, Bogel membentak Romlah, keributan pun terjadi bak perang dunia kedua.

Oalah, memang ibunya bilang apa Teh?

“Bilang ke suamimu, belajar bersikap sopan. Jangan kentut sembarangan! Malu-maluin keluarga saja,” begitu kata Romlah.

Seperti diceritakan Romlah, Bogel merupakan lelaki baik. Terlahir dari keluarga sederhana, pria kelahiran Tangerang itu tumbuh menjadi orang yang peduli pada sesama teman. Saat muda, karena sikapnya luwes dan senang bercanda, Bogel memiliki banyak kenalan di berbagai daerah. Setiap kali pergi ke suatu tempat, ada saja orang yang kenal dengannya.

Anak terakhir dari lima bersaudara itu memang tumbuh di lingkungan orang-orang humoris. Ibarat buah jatuh tak jauh dari pohonnya, sikap humoris Bogel sama dengan sikap ayahnya. Meski banyak disenangi orang, tetapi terkadang sikapnya itu bisa menjadi bumerang jika bertingkah di saat yang tidak tepat.

Romlah pun bukan wanita biasa. Memiliki tubuh langsing dengan kulit nan putih, ia banyak digemari lelaki di kampungnya. Bahkan, sebelum bertemu dengan Bogel, katanya sih Romlah merupakan kembang desa yang punya banyak mantan. Widih, sudah kayak artis saja nih Teh Romlah.

“Ya waktu muda mah saya memang banyak fans, Kang. Hehehe,” kata Romlah senyum-senyum sendiri.

Singkat cerita, bertemulah Romlah dan Bogel di suatu acara pernikahan teman. Diawali perkenalan, keduanya aktif berhubungan sampai menjalin pendekatan. Tak butuh waktu lama bagi keduanya untuk bisa merasa kenyamanan. Sikap Bogel yang selalu menghibur membuat Romlah bahagia setiap saat.

Dua bulan setelahnya, mereka resmi pacaran. Sampai akhirnya, entah satu atau dua tahun kemudian, keduanya sepakat menuju jenjang pernikahan. Mengadakan pesta pernikahan sederhana, mereka tampak bahagia. Mengikat janji sehidup semati, Bogel dan Romlah resmi menjadi sepasang suami istri.

Di awal pernikahan, baik Bogel maupun Romlah sudah tahu bagaimana sifat dan karakter masing-masing. Segala sikap baik dan buruknya, mereka bisa saling memahami. Termasuk kebiasaan sang suami yang sering kentut. Tapi parahnya, Romlah tak menyadari kalau kebiasaan buruk sang suami malah terjadi saat keluarganya sedang kumpul bersama.

Katanya, meski sudah sering dimarahi dan dinasihati, Bogel tak pernah mau menuruti kemauan sang istri. Malah kejadian seperti itu bukanlah pertama kali. Romlah bercerita kalau dulu pernah ada saudara yang datang ke rumah sambil marah-marah. Ketika ditanya, ia tak terima dan merasa malu karena kelakuan Bogel yang kentut di musala seusai salat berjamaah. Aih-aih, itu serius Teh?

“Serius, katanya dia enggak tahu kalau di belakang ada orang. Kan dia duduk di bagian luar, dikira sepi, ternyata ada saudaranya. Orang-orang sih pada ketawa, tapi saudaranya itu ngamuk-ngamuk,” curhat Romlah.

Anehnya, meski berulang kali kena malu dan berulang kali memarahi, Romlah tak pernah bisa lepas dari Bogel. Hari ini ribut, besoknya pasti baikan lagi. Meski amarahnya mencapai tingkat tinggi, tapi Romlah selalu bisa memaafkan. Sikap Bogel yang pandai menciptakan senyum, membuat rumah tangga selalu harmonis. Ciyee.

“Dia itu memang terkadang suka ngeselin, tapi sikapnya itu ngangenin. Intinya, kalau sudah nyaman mah enggak bakal terpisah,” tutur Romlah.

Duh, so sweet deh Teh Romlah dan Kang Bogel. Semoga langgeng terus ya! Amin. (daru-zetizen/zee/ira)