SERANG – Irigasi Desa Puser sampai Desa Samparwadi, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang alami kekeringan. Kekeringan tersebut sudah terjadi selama enam tahun.

Sekertaris Desa Samparwadi Safarudin menjelaskan, kekeringan irigasi atau sungai sekunder Tirtayasa terjadi pada tiga desa, yaitu Desa Puser, Desa Samparwadi dan Desa Kabuyutan, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang.

“Kalau di Puser termasuk kali induk. Dekat dengan kali induk sehingga tidak terlalu parah. Namun, saat ini desa itu pun mengalami kekeringan seperti desa kami,” ujarnya usai di rumahnya di Desa Samparwadi, Jumat (18/8).
Padahal, lanjut Samparwadi, irigasi Tirtayasa tersebut merupakan salah satu sumber pengairan pertanian. Hal itupun berakibat lumpuhnya kegiatan pertanian di wilayah tersebut. Tak hanya itu, warga pun tak bisa lagi memanfaatkan irigasi sebagai keperluan mandi, cuci dan kakus.

Ia mengatakan pertanian di tiga desa tersebut lumpuh total, padahal hampir sebagian masyarakat setempat mengandalkan sektor pertanian sebagai ladang penghasilannya, selain jualan di Pasar Tirtayasa.

“Dampaknya kering, mayoritas kena, tidak ada air tidak bisa untuk pertanian, seharusnya sudah mulai bercocok tanam, malah belum mulai,” terangnya.

Ia pun sudah mengajukan keluhan masyarakat atas kekeringan tersebut pada pihak yang berperan andil, namun belum mendapat kepastian. Selain itu, pihak desa pun sudah mengajukan proposal untuk normalisasi irigasi, namun hingga kini pun tidak ada tindaklanjut secara pasti.

Keringnya irigasi, kata dia, tentu merugikan masyarakat, terlebih tiga desa dan ribuan hektare sawah memanfaatkan sungai irigasi tersebut yang mengandalkan aliran sungai.
“Sungai irigasi ini sudah dangkal, yang kami inginkan segera lakukan pengerukan, kalau di induknya sering dikeruk. Kalau irigasi dangkal sedangkan induk dalam, air juga susah mengalir karena irigasi lebih tinggi dari sungai induk,” paparnya.
Ia berandai-andai bila irigasi teraliri air, masyarakat pasti senang. Mengingat, air sebagai sumber kehidupan mereka untuk kebutuhan sehari-hari dan bertani. “Kalau ada air di irigasi, lebih enak saja. Masyarakat juga lebih bahagia,” pungkasnya.

Terpisah di Desa Puser, Kecamatan Tirtayasa, Kepala Rt 02 Rw 01 Desa Puser Cecep Saputra mengatakan bahwa kekeringan air di desa tersebut karena adanya proyek pembangunan sungai di induk Sungai Ciujung, sehingga berakibat keringnya irigasi. Kata dia, Desa tetangganya yaitu Desa Samparwadi sudah alami kekeringan jauh lebih lama dari desanya.

“Itu karena pendangkalan. Jadi sungai induk dikeruk tapi irigasi tidak pernah dikeruk, sehingga air susah masuk ke irigasi. Jangankan buat pertanian, buat mandi saja sangat susah,” paparnya.

Pantauan Radar Banten Online, sungai irigasi di sepanjang Desa Puser sampai Desa Samparwadi sangat kering, tidak ada aliran air layaknya sungai pada umumnya. Tidak ada aktifitas warga yang mandi, mencuci dan lainnya di sungai tersebut. (Anton Sutompul/antonsutompul1504@gmail.com).