Irna Surati Gubernur Banten, Terkait Pencemaran Sungai Cimoyan

Bupati Irna Narulita memegang lumpur Sungai Cimoyan yang mengalami pencemaran akibat galian C di Desa Kolelet, Kecamatan Picung, Selasa (27/11).

PICUNG – Pencemaran Sungai Cimoyan di Desa Kolelet, Kecamatan Picung, mendapat perhatian serius Bupati Irna Narulita. Orang nomor satu di Kabupaten Pandeglang ini telah melayangkan surat kepada Gubernur Banten Wahidin Halim untuk membantu mengatasi pencemaran yang ditimbulkan dari galian C tersebut.

Menurut Irna, saat ini kondisi Sungai Cimoyan mengkhawatirkan dan tidak bisa digunakan oleh masyarakat karena kondisi sungai yang kotor. “Ibu (Irna menyebut dirinya-red) sudah bersurat kepada Gubernur Banten untuk membantu menyelesaikan dugaan adanya pencemaran sungai akibat aktivitas galian C di sekitar bantaran sungai itu. Galian C itu ada di hulu sungai atau masuk dalam wilayah Kabupaten Lebak. Untuk menyelesaikan permasalahan dua kabupaten, harus Bapak Gubernur yang turun tangan dan memberikan tembusan ke Kabupaten Lebak,” katanya saat acara peletakan batu pertama Tugu Perjuangan Sungai Cimoyan di Desa Kolelet, Selasa (27/11).

Selain meminta bantuan Gubernur, Irna juga mengaku akan melakukan koordinasi secara intensif dengan Pemkab Lebak agar persoalan pencemaran sungai itu bisa segera diatasi. “Ibu akan berkirim pesan kepada Bupati Lebak (Iti Octavia Jayabaya-red) untuk mempertanyakan legalitas galian C yang ada di hulu Sungai Cimoyan. Ternyata setelah kami hubungi, Bupati Lebak tidak mengeluarkan izin galian C karena sudah menjadi kewenangan Provinsi Banten,” ujarnya.

Irna meminta masyarakat yang tinggal di bantaran Sungai Cimoyan agar tidak menggunakan air tersebut karena membahayakan bagi kesehatan. “Setelah air Sungai Cimoyan diuji laboratorium, masyarakat tidak boleh menggunakan airnya untuk kebutuhan sehari-hari. Kami sudah mengambil sampel airnya, ternyata hasilnya mengandung bahan berbahaya yang dapat mengancam kesehatan. Makanya, masyarakat jangan menggunakan air itu untuk kebutuhan sehari-hari,” katanya.

Kepala Seksi (Kasi) Pengaduan Kasus pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pandeglang Rayu Daniswara mengaku, telah mengambil sampel air di Sungai Cimoyan. Hasilnya, air tersebut tidak layak untuk digunakan karena mengandung racun berbahaya. “Hasil laboratorium menyebutkan bahwa DOD 5 atau jumlah oksigen yang larut dalam air untuk bakteri melebihi kapasitas dan air itu tidak bisa dimanfaatkan oleh manusia. Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, DOD 5 harus 3,2. Sementara, hasil uji lab kemarin sampai 5,12. Ini jelas akan menyebabkan gangguan kesehatan kalau dipergunakan,” katanya.

Berdasarkan PP Nomor 82 Tahun 2001, Rayu menjelaskan, aliran sungai yang melintasi dua kabupaten atau kota merupakan kewenangan provinsi, “Untuk wilayah sungai di seputaran kota, kami terus memantau. Namun karena Cimoyan hulunya ada di Lebak dan hilirnya di Pandeglang, harus Provinsi Banten yang menangani dan surat sudah disampaikan ke provinsi tembusan ke Kabupaten Lebak,” katanya. (Adib F/RBG)