Selain banyak bersyukur, kunci sukses menjalani rumah tangga lainnya, yaitu bersabar dalam berbagai hal baik ekonomi maupun urusan hati. Kisah seorang wanita di salah satu kampung di Cilegon ini, sebut saja namanya Leha (34), bersuami Tokai (37) nama samaran, bisa menjadi pengalaman menarik yang patut diketahui.     

Terjadi saat Leha berusia 27 tahun dan Tokai 30 tahun, keduanya sama-sama masih harus banyak belajar sifat dan karakter masing-masing. Seperti diceritakan Leha, ia terlahir dari keluarga sederhana. Dengan kasih sayang orangtua, membuat masa mudanya cukup bahagia.

Leha anak kedua dari tiga bersaudara. Sang kakak sebenarnya menginginkan Leha melanjutkan pendidikan di tingkat magister. Namun karena masalah biaya dan ketidakminatan keluarga, ia tidak memanfaatkan jalur beasiswa. Leha justru memilih mengajar di yayasan PAUD milik saudaranya.

Dua tahun mengabdi karena sikap lembut ditambah kepandaiannya mengajar, Leha sempat menjadi incaran beberapa lelaki. Namun karena pengawasan ketat sang ayah dan saudara, tidak sembarang orang bisa mendekat seenak hati. Pada akhirnya, hanya lelaki pilihanlah yang bisa memiliki peluang merebut sang bidadari.

Tak ingin sembarangan memilih calon pendamping hidup, diam-diam dengan penuh rasa percaya diri, Leha membawa seorang lelaki yang dikenalnya baik dan pandai mengaji, lelaki beruntung itu tak lain ialah Tokai. Datang menemui ibu dan bapaknya di rumah. Tokai yang senang memakai peci hitam ini mengatakan siap mengajak sang pujaan hati menuju pelaminan. Widih, nekat juga nih tuh Kang Tokai.

“Hehe… ya waktu itu dia duluan nembak saya. Saya bilang saja kalau mau serius silakan datang ke rumah. Kirain dia bakal nyerah, eh tahunya benar datang,” curhat Leha.

Meruntuhkan hati para lelaki pemuja rahasia sang wanita, Tokai percaya diri melangkah ke jenjang yang lebih serius. Tak jauh berbeda dengan Leha, Tokai adalah lelaki yang terlahir dari keluarga sederhana. Orangtua pedagang di salah satu pasar di Kota Cilegon, ia tumbuh menjadi lelaki yang baik dengan motivasi hidup nan tinggi.

Singkat cerita, pesta pernikahan pun terlaksana. Meski sederhana dan hanya mengundang teman serta sanak saudara, Tokai dan Leha terlihat bahagia. Mengikat janji sehidup semati, keduanya resmi menjadi sepasang suami istri. Kedua keluarga pun tampak saling menghargai satu sama lain.

Pada awal pernikahan, Tokai bersikap penuh perhatian. Layaknya Romeo yang cinta mati pada Juliet, ia sangat lembut dan mengayomi Leha. Maklumlah, mereka tinggal di rumah keluarga wanita. Jadi kalau tidak pandai-pandai mencuri hati keluarga, wah bisa bahaya.

Hal serupa dilakukan Leha. Seolah ingin menunjukkan bahwa sang suami tak salah memilihnya, setiap saat selama berada di rumah, Leha menunjukkan kebolehannya dalam memasak dan rajin beres-beres rumah. Tak hanya itu, dengan sikap manja namun mesra, ia sukses membuat Tokai betah di rumah.

Alhamdulillah, yang namanya istri tuh harus serbabisa. Jangan cuma modal cantik doang, tapi juga harus rajin dan pintar masak,” kata Leha. Widih.

Hingga berjalan setahun usia pernikahan, Leha melahirkan anak pertama. Bayi lelaki lucu dan imut, menjadi pelengkap kesempurnaan rumah tangga. Tokai semakin sayang, keluarga pun dibuatnya senang. Pokoknya, rumah tangga mereka diselimuti kebahagiaan.

Dengan kehadiran anak tercinta, tentu membuat kebutuhan ekonomi semakin bertambah. Tokai yang belum memiliki pekerjaan jelas, harus memutar otak mencari nafkah. Apalah daya, ia pun mencari pekerjaan layaknya orang kelaparan, apa pun dikerjakan asal halal.

Mulai dari pegawai toko perabotan, sampai office boy sebuah perusahaan kecil, tampaknya Tokai tak juga menemui kecocokan. Di tengah kebimbangan mencari penghasilan tambahan, ia diterpa berbagai cobaan. Mulai dari tak bisa memberi makan anak istri, sampai digunjingkan tetangga dan mertua. Astaga.

“Ya, namanya rumah tangga wajarlah hal kayak gitu mah. Saya sih yang penting Kang Tokai enggak menyerah,” tutur Leha.

Hingga suatu hari, seolah Tuhan menjawab doa Leha dan Tokai selama ini, datanglah informasi pekerjaan dari seorang teman. Sayang seribu sayang, persyaratannya harus wanita dan bisa bekerja sif malam. Apalah daya, setelah ditimbang serta dipikirkan matang-matang demi kesejahteraan bersama, Tokai pun mengizinkan sang istri bekerja.

Leha pun bekerja sebagai karyawati di sebuah perusahaan ternama di Cilegon. Berangkat sore pulang pagi, Leha mampu membantu perekonomian rumah tangga. Bulan pertama sampai ketiga, pasangan suami istri ini tampak kompak saling mendukung.

Bagai tukang ojek, setiap hari Tokai mengantar jemput istri. Melawan kantuk di pagi buta untuk menjemput Leha, ia melakukannya dengan sepenuh cinta. Hingga suatu ketika, mungkin karena tak tega melihat sang suami setiap hari bangun subuh dan terkadang pukul tiga, Leha hanya minta diantar dan tak usah dijemput. Meski awalnya menolak, Tokai menurut juga.

“Ya, saya kasihan lihat dia subuh-subuh jemput saya terus. Takutnya lagi ngantuk dan enggak fokus di jalan, kan bisa bahaya,” ungkapnya.

Suatu hari, seorang lelaki yang juga bekerja di perusahaan sama menawarkan diri mengantar Leha pulang. Sekali dua kali, Leha masih bisa menolak. Sampai kesekian kali, apalah daya dengan alasan menghemat biaya ongkos angkot atau ojek, Leha pun mau juga. Tak disangka, seiring berjalannya waktu, Leha malah menaruh rasa terhadap sang lelaki. Aih-aih.

“Ya susah sih, Kang. Dia juga ganteng dan perhatian terus ke saya. Tapi, waktu itu saya enggak ada niat buat serius sama dia, cuma iseng-iseng doang,” kata Leha.

Apesnya, keisengan Leha justru menjadi malapetaka. Kedekatannya dengan lelaki itu ketahuan suaminya. Apalah daya meski sudah menangis meminta maaf, Tokai kepalang emosi dan menceraikannya. Rumah tangga pun bubar. Oalah.

Makanya Teh jangan suka iseng-iseng soal asmara. Kalau sudah kena batunya, bisa berantakan semua! (daru-zetizen/zee/dwi)