Istri Cemburuan Bikin Serba Salah

Serba salah, tapi nasib sudah menjadi bubur, eh nasi ya. Mungkin peribahasa itu menjadi kalimat untuk menggambarkan kisah rumah tangga Samidun (42) dengan Saminih (42), keduanya nama samaran. Gara-gara istri cemburuan bikin Samidun serba salah hingga berakhir dengan perceraian.

Samidun merupakan warga Kecamatan Mancak. Saat ditemui Radar Banten di kediamannya, sosok Samidun cukup familier. Siang itu penampilannya cukup rapi, berkemeja lengkap dengan celana jeans hitam dan sepatu pantofel. Samidun ternyata hendak melamar kerja. Sayangnya seharian mencari kerja saat itu, tak kunjung ada perusahaan yang menerimanya. Sampai akhirnya Samidun memilih duduk di gardu dan menceritakan kisah masa lalunya.

Awalnya Samidun bekerja sebagai karyawan toko handphone. Namun, tak lama Samidun berhenti kerja karena sering bertengkar dengan istri. Iya, istri Samidun cemburuan gara-gara sering memergokinya berkomunikasi dengan wanita cantik dan seksi di toko.

“Padahal kan cuma pelanggan. Kalau enggak ngobrol gimana coba,” kesalnya. Pake bahasa isyarat kali bisa Kang.

Setelah Samidun menjadi pengangguran, ia malah dihina istri dan dibilang tak becus menjadi suami. Ujung-ujungnya ribut tiada henti. Mulutmu harimaumu, begitulah kata-kata yang ada di benak Samidun saat mengingat bayangan wajah Saminih, wanita yang dulu dipuja dan dicinta hingga menjadi istri. Wajar Samidun menyesali ditinggal sang istri. Saminih cantik, molek, tubuhnya juga bohai dan aduhai. Namun, kecantikan Saminih tak dibarengi hati yang lembut. Saminih orangnya kasar dan cemburuan. Tak jarang Saminih memaki Samidun di hadapan orang dan kerap tidak jarang bersikap emosional tidak tahu tempat. “Kalau saja dia bisa mengerti keadaan saya, pasti bakal saya pertahanin sampai mati,” ucap Samidun. Jangan geh Kang, sampai hidup saja.

Pertemuan Samidun dengan Saminih bermula di tempat servis motor di wilayah Serang. Saat itu, Samidun tergoda dengan Saminih yang tampil cantik dengan baju dan celana jeansnya yang ketat. Terdorong untuk mengenal Saminih, Samidun langsung melakukan pendekatan dan mengajak berkenalan.

“Saat itu kebetulan saya lagi servis motor Ninja di bengkel langganan teman. Jadi, pede aja ngedeketin cewek mah,” sombongnya. Ninja Hatori ya.

Samidun tak bisa menahan rasa sukanya terhadap Saminih saat itu. Samidun langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Melihat Samidun yang sedang membetulkan motornya yang keren, mata Saminih langsung melotot dan mau diajak berkenalan dan mendadak bersikap ramah. Dasar matre.

Meskipun hanya obrolan singkat, tapi Samidun berhasil mendapatkan nomor ponsel Saminih. Sejak itu, mereka semakin intens berkomunikasi, dari pagi hingga malam sampai sudah panggil sayang-sayangan. Setelah melewati fase pendekatan, Samidun dan Saminih akhirnya jadian. “Pas lagi pacaran mah dia orangnya baik, sopan, dan perhatian ke saya,” pujinya. Iyalah Kang, jaga image.

Samidun semakin kagum dan yakin ingin meminang Saminih setelah pada satu waktu Samidun meminta jatah ciuman pertama dari kekasihnya itu ditolak mentah-mentah dengan alasan belum halal. “Kalau mau cium, nikahi saya dulu,” ujar Samidun menirukan ucapan Saminih.

Merasa tertantang, Samidun yang penasaran langsung melamar Saminih dan mengajaknya menuju pelaminan. Sebulan kemudian, pesta pernikahan pun digelar. Mereka pun resmi menjadi sepasang suami-istri. Meskipun saat itu status Samidun masih pengangguran.

Keduanya sementara tinggal di rumah keluarga Samidun. Perhatian terus diberikan Samidun kepada sang istri tercinta. Apa yang diminta sang istri pasti dikabulkan meskipun nafkah keluarga masih minta ke orangtua.

Enam bulan kemudian, Saminih dikabarkan mengandung anak pertama. Sejak hamil itu pula Saminih jadi emosian. “Saya kira itu mungkin bawaan hamil anak pertama, jadi saya bisa ngertiin,” katanya. Bisa jadi, ngidam kali.

Sampai akhirnya sang buah hati lahir. Namun, sikap Saminih tetap tidak berubah. Malah sikap istrinya semakin kasar karena melihat Samidun yang masih pengangguran. Samidun bukannya marah dengan perkataan istrinya, justru semakin termotivasi. Tak lama, Samidun diterima bekerja sebagai karyawan toko ponsel. “Mungkin ini yang dinamakan istilah anak membawa rezeki. Saya punya kerjaan, lumayan ada penghasilan,” katanya.

Pekerjaan Samidun pun cukup menopang ekonomi keluarganya dan mereka hidup rukun bahagia. Meskipun uang gaji hanya cukup untuk makan dan beli kebutuhan anak. “Yang penting istri saya tuh semua terpenuhi. Pulang kerja ketemu anak istri, duh rasanya capek hilang,” kenangnya.

Memasuki dua bulan bekerja, prahara rumah tangga keduanya mulai terasa. Saminih terhasut omongan tak sedap dari tetangga yang membuat penyakit temperamennya kambuh. Salah seorang tetangganya melihat Samidun kerja menawarkan handphone dikelilingi wanita cantik dan seksi.

Mendengar cerita tetangga, kuping Saminih langsung panas. Saminih pun ngamuk dan memaki-maki Samidun. Merasa tak dihargai, Samidun tak kuasa menahan sabar dan balik membalas memarahi sang istri. “Dia tuh gampang kemakan omongan orang, padahal saya enggak ngapa-ngapain,” kelitnya. Cuma pegang-pegang dikit saja ya Kang.

Keributan antara keduanya pun tak terhindarkan yang membuat kedua pihak keluarga resah. Keduanya sempat mendapat nasihat dari masing-masing orangtua untuk kembali berbaikan. Namun, Saminih tetap menggerutu dan tak terima suaminya dekat-dekat dengan wanita. Akhirnya, Samidun mengalah dan berhenti bekerja.

Hanya seminggu setelah kejadian itu mereka baikan. Setelah itu, keretakan rumah tangga mereka kembali terasa. Saminih tidak terima hidupnya kekurangan setelah Samidun jadi pengangguran. “Waktu itu saya benar-benar enggak tahan dengan sikap dia yang emosian. Kerja salah, enggak kerja makin salah,” akunya. Yaelah. Sudah Kang, ke laut saja. 

Keributan makin menjadi ketika rekan wanita Samidun di tempat kerja produk handphone datang dengan berpakaian seronok, sebut saja Sukinem. Saminih pun makin geram dan pertengkaran hebat tak terelakan. Sampai akhirnya kata cerai keluar dari mulut Samidun. Sebulan kemudian mereka resmi berpisah untuk selamanya.

“Ya sudah enggak tahan ribut terus gara-gara salah paham, cemburuan begitu,” keluhnya. Harusnya senang dong, Kang, punya istri cemburuan, tandanya sayang tuh.

Dua bulan berselang, Samidun sudah mendapat pekerjaan baru dan menikahi rekan kerjanya dulu di toko ponsel, Sukinem. Ngakunya sih dulu enggak ada apa-apa. Ternyata selingkuhannya dulu kan. “Enggak gitu juga, nikah tuh mengalir aja, enggak direncanakan,” kilahnya. Dasar buaya. Yassalam. (Haidaroh/RBG)