Malam itu menjadi malam yang tak bisa dilupakan. Yeni (31) bukan nama sebenarnya tak bisa membendung air mata saat sang anak menangis di pelukan wanita lain di rumahnya. Tergesa-gesa ia melangkah, rasa penasarannya kini jauh lebih besar ketimbang rindu tiga tahun tak bertemu.

Tanpa mengucap salam, direbutnya sang anak dengan paksa dan penuh amarah. Tak lama, keluarlah sang suami, sebut saja Tole (32) yang waktu itu sedang santai menonton televisi.

“Ini gimana sih Kang, anak nangis malah dikasih ke orang lain. Terus dia siapa?” bentak Yeni sambil menunjuk wanita berpakaian seksi di samping sang suami.

Tak ada yang lebih menyakitkan selain dikhianati di rumah sendiri. Mungkin begitulah perasaan Yeni yang sebelum kejadian itu menaruh sepenuhnya kepercayaan pada kesetiaan suami. Mengirimi uang sebulan sekali, ia berharap kehidupan yang layak dirasakan sang buah hati.

Namun apalah daya, bukannya membiayai anaknya, Tole malah asyik mengundang tamu wanita di rumahnya. Sudah jatuh tertimpa tangga, sakit hati Reni semakin bertambah ketika pulang, sang suami sedang asyik berduaan. Astaga.

Antara marah dan dengki, Yeni mengamuk memarahi suami. Keributan mereka menjadi buah bibir di kalangan masyarakat kampung. Tak kuat menahan emosi, Yeni menuntut sang suami mengembalikan semua uang yang selama ini ia kirimi.

Apalah daya bagi Tole, akibat kelakuannya berfoya-foya, semua uang sang istri habis tak tersisa. Kesal karena Tole tak mampu mengembalikan uangnya, Yeni melapor kepada orangtua dan keluarga. Mereka emosi. Membuat masalah semakin tak terkendali. Waduh.

    “Saya sudah telanjur sakit hati, Kang. Saya enggak nyangka dia bisa setega itu, pokoknya saya mah sudah enggak bisa maafin dia,” tukas Yeni saat diwawancarai Radar Banten.

Seperti diceritakan Yeni, semua ini berawal akibat kondisi ekonomi yang minim. Sejak kelahiran anak pertama, Tole tidak lagi bekerja karena sudah tak punya apa-apa. Sawah warisan orangtua yang tak seberapa, dijual untuk membiayai pernikahan adiknya.

Wajarlah ya, Tole memang anak tertua dari tiga bersaudara. Ditinggal mati orangtua, ia hanya dibekali sawah untuk dibagi bertiga. Apalah daya baginya, saat salah seorang di antara keluarga membutuhkan biaya, ujung-ujungnya menjual harta satu-satunya itu. Waduh, sudah enggak punya apa-apa kok malah menjual sawah.

 “Saya juga sebenarnya enggak setuju, Kang. Toh untuk nikah mah kan bisa cari uang pakai cara yang lain, minjem dulu kek, gimana kek. Ini malah nekat jual sawah,” tukasnya.

Ketika sudah tak punya apa-apa, mereka bingung cari uang di mana. Di sisi lain, kebutuhan sehari-hari semakin meningkat dengan kehadiran seorang anak. Jadilah Tole merayu Yeni untuk berangkat jadi TKI. Terus, Teh Yeni mau gitu aja?

“Enggaklah, Kang. Ih, awalnya mah saya enggak mau, takut ngedenger cerita orang-orang. TKI itu disiksa segala macem, pokoknya waktu itu mah saya enggak mau,” katanya.

Menolak kemauan suami, Yeni jadi bingung sendiri. Bukannya Tole yang harus bekerja, ini malah menyuruhnya mencari nafkah. Padahal sehari-hari Tole hanya tidur-tiduran di rumah. Sejak saat itu, keretakan rumah tangga sebenarnya sudah terasa.

Hingga akhirnya, entah untuk keberapa kali Tole merayu dan memohon agar Yeni mematuhi kemauannya untuk menjadi TKI, dengan sedih penuh haru melihat anaknya yang menangis kelaparan, Yeni menyetujui kemauan suami. Ia bersedia menjadi TKI. Labil amat sih Teh?

“Ya habis mau gimana lagi, Kang. Saya enggak tega melihat anak kelaparan,” curhatnya.

Singkat cerita, bulan pertama, kedua, ketiga dan seterusnya, ia rutin mengirimi uang. Sesekali, jika sedang ada kesempatan, ia menelepon ke Tanah Air untuk melepas kangen kepada Tole dan anaknya. Mengetahui kabar mereka baik-baik saja, sudah membuat Yeni bahagia.

Hingga suatu saat, Yeni jarang menelepon, tapi uang masih rutin ia kirimi. Menganggap sang istri tak peduli, ditambah kesepian hidup sendiri, Tole mulai mencari pelarian. Tak tanggung-tanggung, hampir setiap malam ia berkunjung ke rumah wanita pujaan hati tetangga desa.

Pergi jalan berdua, belanja, pokoknya semua dikorbankan Tole demi mendapat kepuasan bersama janda pujaan hatinya. Hingga mereka memutuskan menikah, Yeni tak pernah tahu akan apa yang terjadi sebenarnya. Anaknya sudah tidak sekolah, Tole malah asyik menikmati hidup bersama istri barunya.

Mengetahui hal itu, saudara dan tetangga merasa tak tega. Namun, berulang kali menghubungi Yeni, tetap saja tak bisa tersambung. Keluarga Yeni tinggal di kota berbeda. Pasrah akan keadaan, akhirnya ya didiamkan saja.

Hingga suatu hari, Yeni pulang ke kampung halaman. Mendapati Tole bersantai sambil membawa wanita ke rumah, ia mengamuk memarahi. Terlebih ketika mengetahui anaknya tak diurus, Yeni seperti orang kesurupan. Amukannya membuat bulu kuduk merinding.

  “Saya enggak kuat, Kang. Capek-capek kerja di negeri orang, pas pulang ternyata semuanya hancur kayak gini,” katanya.

Yeni dan Tole pun bercerai, mereka mengakhiri rumah tangga begitu saja. Yeni kini sibuk mencari nafkah dengan membuka warung jajanan. Sedangkan Tole masih menikmati hidup barunya.

Duh, sabar ya Teh Yeni. Masih banyak kok cowok yang masih mau jadi suami Teh Yeni, yang penting tetap semangat dan rajin beribadah. (daru-zetizen/zee/ags)

   

BAGIKAN