Istri Kerja, Suami Main Gila

Kisah rumah tangga Saipeh (38) nama samaran, sungguh mengenaskan. Rela menggantikan posisi suami mencari nafkah bekerja siang malam demi menutupi ekonomi lantaran pascasuami, sebut saja Mujidin (38), terbaring sakit tipus, malah diselingkuhi hingga berujung perceraian. Astaga.

Ditemui di Kecamatan Pabuaran, Saipeh yang memiliki postur sedang itu menyambut kedatangan Radar Banten dengan ramah. Bahkan menyajikan makan siang dan kopi hitam. Sepintas, Saipeh termasuk sosok perempuan yang bersahabat. Dengan pakaian gamis berkerudung merah, kecantikan Saipeh pada masa muda masih terlihat. Mulailah Saipeh bercerita bahwa kisah cintanya bersama mantan suami dimulai sejak SMA. Saipeh maupun Mujidin merupakan teman satu sekolah, hanya beda kelas. Diam-diam keduanya saling memendam rasa. Hingga suatu hari, bertepatan hari kelulusan, Mujidin mengungkapkan isi hatinya kepada Saipeh. “Padahal saat itu kita masih sama-sama punya pacar. Tapi, dia ngakunya enggak cinta sama pacarnya, sayangnya ke saya,” aku Saipeh mesem-mesem.

Awalnya Saipeh sempat menimbang-nimbang tawaran cinta Mujidin. Lama-lama Saipeh tak tahan menahan rayuan dan janji manis sang jantan sampai akhirnya cinta Mujidin diterima. Sepekan kemudian keduanya memutuskan pacar masing-masing. “Ya kita memang sudah pada bosan juga sih sama pacar-pacar sebelumnya,” ujarnya dengan gaya sedikit angkuh. Widih, sombongnya.

Mujidin terlahir dari keluarga sederhana. Mujidin memiliki sikap lembut dan penyabar. Kalau ada masalah, Mujidin pasti bisa menyelesaikannya dengan kepala dingin. Lain Mujidin lain pula Saipeh. Wanita berkulit putih dan berwajah manis itu berasal dari keluarga berada meski selalu berpenampilan sederhana. Setahun lebih menjalani masa pacaran, Mujidin dapat pekerjaan sebagai karyawan di gudang gas LPG. Merasa sudah mapan, Saipeh akhirnya menerima lamaran Mujidin hingga duduk di pelaminan. Pesta pernikahan mereka pun berlangsung cukup meriah. Alunan musik kasidah menambah semarak hari bersejarah keduanya, sementara tamu undangan asyik menyantap hidangan.

Di awal pernikahan, keduanya masih sama-sama menjaga perasaaan. Mujidin menuruti kemauan Saipeh untuk tinggal bersama keluarganya. Setahun usia pernikahan, Saipeh dan Mujidin dikaruniai anak pertama yang membuat hubungan mereka semakin mesra. Saipeh dan Mujidin baru bisa mandiri pada tahun kedua berumah tangga. Mengawali kemandirian berumah tangga tinggal di sebuah kontrakan sederhana. Maklum, gaji Mujidin sebagai seorang karyawan biasa di perusahaan swasta hanya cukup buat makan. Tak lama setelah pindah ke kontrakan, Saipeh kena musibah. Adalah Mujidin yang berhenti bekerja lantaran sakit tipus hampir sebulan lebih lamanya. Sejak itu, Saipeh terus meminjam uang kepada keluarga untuk menutupi biaya berobat suami dan makan anak. Tak enak hati terus-menerus meminta uang kepada orangtua, demi cintanya terhadap suami, Saipeh akhirnya memutuskan untuk bekerja, belajar menjadi tulang punggung keluarga. Saipeh akhirnya menjadi penjaga warung milik saudaranya yang tak jauh dari rumah. “Saya cuma enggak mau hidup tergantung. Suami biar istirahat saja selama masih sakit waktu itu. Walau sehari cuma digaji Rp50 ribu, lumayanlah buat makan dan jajan anak,” katanya. Cukuplah buat beli kerupuk sekarung gede.

Sedikit demi sedikit Saipeh mampu menutupi kebutuhan rumah tangga. Hingga suatu hari, penyakit Mujidin bukannya membaik malah makin parah hingga harus dibawa ke rumah sakit. “Sempat pusing, dia harus dirawat. Sedangkan saya kerja. Akhirnya anak saya titip ke ibu,” terangnya. Sabar ya.

Lantaran tidak bisa fokus karena sibuk kerja, di rumah sakit Saipeh bergantian dengan adik ipar menjaga Mujidin. Sampai akhirnya Mujidin kedatangan mantan kekasih sewaktu SMA yang sengaja ingin menengok keadaannya, sebut saja Marni. Saipeh tahu, begitu pun sang adik ipar. “Waktu itu sih saya enggak curiga, anggapnya wajar aja sih mungkin cuma mau silaturahmi,” ucapnya. Subhanallah ya Mbak Saipeh.

Namun, siapa sangka ternyata ada udang di balik batu. Mujidin tiba-tiba merasa iba setelah mengetahui kalau Marni cerai dengan suaminya alias janda. Dari pertemuan itu pula prahara melanda keluarga Saipeh. Berawal dari curhat-curhatan antara Mujidin dengan Marni malah Kelabang Bali alias ‘Kenangan Lama Bangkit Kembali’ dan berlanjut menjalin hubungan asmara. Satu waktu, Mujidin sembuh total dan diperbolehkan pulang. Dengan sembunyi-sembunyi, Mujidin bak ular berbisa, mengendap-ngendap menjalin cinta terlarang dengan Marni. Meski Mujidin belum sembuh total dari sakitnya, ternyata di belakang Saipeh sering berkunjung ke rumah sang mantan. Sore, Mujidin sudah kembali ke rumah belaga pilon seolah-olah setia menunggu sang istri sehabis kerja. “Dia pacaran sama mantannya itu pagi, Kang,” tukas Saipeh emosi. Enak dong masih segar.

Ada istilah namanya bangkai, ditutup-tutupi baunya kecium juga. Rahasia perselingkuhan suami dan sang janda akhirnya terbongkar. Berawal dari gosip tetangga merembat hingga keluarga. Hingga satu hari, Saipeh diam-diam ingin memergoki suaminya dengan berpura-pura berangkat kerja. Padahal baru sampai gang depan rumah, Saipeh sembunyi dari belakang tembok rumah. Benar saja, Saipeh melihat Mujidin keluar rumah dan berjalan terburu-buru. “Waktu itu saya ikutin dia dari belakang,” serunya. Ya iyalah ngikutin tuh dari belakang Mbak, masa dari depan.

Kecurigaan Saipeh akhirnya terbukti. Mujidin kepergok sedang berkunjung ke rumah mantan. Setelah pintu janda terbuka, Saipeh bersiap melabrak. Merasa dikhinati, Saipeh habis kesabaran dan berlari meneriaki Mujidin dari depan rumah selingkuhan. Warga mulai berkerumun, tetapi Mujidin berhasil kabur dari pintu belakang. Sedangkan wanita selingkuhannya mengunci diri di dalam rumah. “Tiga jam saya tungguin enggak keluar. Ternyata dia kabur dari pintu belakang,” kenang Saipeh. Harusnya nunggunya di rumah aja sambil nyeruput kopi.            

Kemudian, Seipeh pulang ke rumah dan mendapati sang suami berpura-pura tidur. Saipeh membabi buta memarahi suaminya. Pertengkaran keduanya tak terelakkan. Seminggu kemudian, Saipeh akhirnya mengajukan gugutan cerai. Rayuan dan bujuk rayu Mujidin sudah tak mempan. Keduanya akhirnya resmi berpisah. “Sakit hatinya enggak tertahankan. Saya sudah capek-capek kerja demi dia dan anak, eh malah dikhianati. Dasar buaya,” kesalnya. Mbak sendiri kenapa dulu mau sama buaya, bukannya orang. Sabar ya Mbak. Yassalam. (Haidaroh/RBG)