Tak perlu tampan, tak perlu kaya, asal bisa bikin bahagia, Wiwin (62), nama samaran, mengaku sudah merasa sempurna hidup di dunia dengan sang suami tercinta, sebut saja Ubed (65). Hidup sederhana dengan dua anak yang mulai tumbuh dewasa, mereka pasangan suami istri yang selalu terlihat ceria.

“Ya, saya juga kadang bingung, kebanyakan orang tuh bawaannya gelisah terus kalau ada masalah. Padahal kan bisa dibawa santai dan enggak harus ribet,” ungkapnya.

Meski selalu menunjukkan sikap santai, setelah ditelusuri, Wiwin pun mengaku kalau dahulu ia pernah mengalami peristiwa memilukan sampai hampir berujung perceraian. Saat itu ia berusia sekira 30 tahun dan suami 33 tahun. Tapi untungnya, semua itu bisa teratasi berkat musyawarah kedua keluarga.

“Ya begitulah, Kang. Kalau saja waktu itu keluarga saya dan keluarga dia enggak saling merendahkan hati, mungkin sekarang saya enggak bisa ceritain ini ke Kakang” curhatnya.

Seperti diceritakan Wiwin, Ubed yang dikenalnya tak lama sebelum putus dengan sang mantan, terkenal ramah dan humoris. Memiliki banyak teman mulai dari yang seusia sampai jauh di atasnya, Ubed kerap menjadi pusat perhatian ketika sedang berkumpul bersama masyarakat kampung.

Terlahir dari keluarga sederhana, ayah pekerja dan ibu penjahit rumahan, Ubed memiliki masa muda berwarna. Ya, meski dari segi ekonomi biasa saja, tapi anehnya, kalau untuk urusan cinta, ia dikelilingi banyak wanita. Tak heran, ketika pacaran dengan Wiwin pun, Ubed kerap mendapat pesan singkat atau telepon misterius dari para mantannya. Oalah, bahaya itu Teh!

“Ya dulu pas pacaran saya sering marah kalau ada cewek godain dia. Sebel, untung waktu itu dia nurut sama saya buat enggak bales sms mereka,” kata Wiwin.

Wiwin bukan perempuan biasa. Meski terlahir dari keluarga sederhana, tapi karena status sang ayah sebagai tokoh masyarakat, ditambah sosok Wiwin yang manis dan menarik, membuat orang-orang menaruh hormat padanya. Tidak sembarang melayangkan rayuan gombal, para lelaki di kampung mengagumi secara diam-diam.

Memiliki tubuh ideal dengan kulit nan putih, tak membuat Wiwin sombong kepada para pemuda kampung. Kerap menebar senyum dengan sapaan hangat, Wiwin menjadi wanita incaran banyak pria. Katanya, dulu sampai ada yang datang ke rumah. Widih, romantis amat ya.

Sampai suatu ketika, bertemulah Wiwin dengan Ubed. Diajak berkenalan dengan sopan, ia menuruti kemauan sang lelaki memberi nomor telepon dan akun Facebook. Berteman di media sosial membuat mereka aktif menjalin hubungan. Meski jarak yang saling berjauhan, tak menghalangi keduanya untuk mengungkapkan perasaan dan jadian. Ciyee, memang jauh bagaimana, Teh?

“Waktu itu saya masih tinggal sama orangtua di Lampung, tapi kita ketemunya mah di Serang, pas saya lagi main ke rumah saudara,” terang Wiwin.

Lama menjalin hubungan jarak jauh, akhirnya Wiwin pun mengundang Ubed datang ke rumah. Itu ia lakukan lantaran sang ayah sudah menanyakan calon suami padanya. Dengan berpakaian rapi, meski tampak lelah menempuh perjalanan, tak membuat Ubed kehilangan semangat.

Meski awalnya sempat ragu, tapi Wiwin tak bisa berbuat banyak lantaran sang ayah sudah mengeluarkan lampu hijau. Maka, seolah tak menunggu waktu lama, Ubed diminta segera datang membawa keluarga guna menentukan tanggal pernikahan.

Sepulang dari rumah sang kekasih, seminggu kemudian Ubed menepati janji. Ia datang bersama keluarga. Saat itulah perundingan terjadi, berdasarkan adat istiadat setempat, Ubed dibolehkan membawa Wiwin ke tempat tinggalnya, tapi dengan syarat, setiap ada perayaan hari-hari besar seperti Lebaran dan lain-lain, Ubed wajib membawa pulang sang istri. Kesepakatan pun terjadi.

Singkat cerita, menggelar pesta pernikahan meriah dan mengundang para tetua suku serta kerabat. Kedua keluarga dipersatukan dalam ikatan pernikahan. Mengikat janji sehidup semati, Wiwin dan Ubed resmi menjadi sepasang suami istri.

Di awal pernikahan, seperti pasangan baru pada umumnya, Ubed tampak canggung kepada keluarga sang istri. Tapi, meski pendiam dan jarang bicara, ia pandai mencuri hati. Berbaur dengan ayah mertua sampai ke tetangga, Ubed menunjukkan sosok hangat dan ramah.

Sebulan kemudian, sesuai kesepakatan, dibawalah sang istri ke rumah keluarga suami dan tinggal di sana. Seperti diceritakan Wiwin, saat itu ia siap lahir batin menjalani susah senang mengarungi bahtera rumah tangga bersama suami. Subhanallah, baik banget sih Teh!

“Ya atuh memang sudah seharusnya begitu, Kang. Meski awalnya kita hidup enak sama orangtua, tapi kalau sudah punya suami mah ya harus bisa menerima bagaimana keadaan nanti,” tutur Wiwin.

Tinggal di rumah Ubed yang sangat sederhana dan ala kadarnya, membuat Wiwin harus pintar-pintar beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Setiap hari, ia mecoba membiasakan diri bangun pagi dan menyiapkan sarapan untuk seluruh keluarga. Sampai setahun kemudian, lahirlah anak pertama, membuat hubungan semakin mesra.

Sampai sang anak tumbuh balita, mereka pun memutuskan mengontrak rumah sederhana. Saat itu, ketika senja datang dan suami baru pulang bekerja, sambil melipat pakaian, Wiwin bercerita kalau tadi pagi orangtua menanyakan kabar dan meminta ia segera pulang. Tetapi, bagai berbicara pada tembok, Ubed malah diam dan pergi mandi.

Malamnya ia meminta lagi, tapi sang suami hanya menjawab nanti tanpa ada kejelasan pasti. Tak terasa, pernikahan mereka menginjak tahun ketiga, ia kembali melahirkan anak kedua, saat meminta untuk pulang, lagi-lagi, entah karena lupa atau menganggap enteng permintaan istri, Ubed tak menanggapi.

Besoknya Wiwin mengamuk, ia mengungkit janji suami sebelum menikah dahulu yang akan membawanya pulang setiap ada perayaan hari besar. Tak disangka, bukannya mengakui kesalahan, Ubed malah balas membentak, keributan pun terjadi.

Seminggu berlalu, suasana tak nyaman masih terasa antara keduanya. Hingga suatu malam, ditemani seorang saudara, Wiwin nekat membawa kedua anaknya pulang ke kampung halaman. Menyeberangi lautan dan menahan lelahnya perjalanan, ia pun sampai di rumah orangtua.

Merasa kehilangan, tiga hari kemudian Ubed datang menyusul. Namun, bukannya disambut, ia dimarahi habis-habisan oleh keluarga serta orangtua Wiwin. Lantaran tak menemui jalan keluar, ia kembali pulang. Seminggu berselang, mungkin masih cinta dan tak mau berpisah, Ubed kembali datang membawa keluarga, terjadilah musyawarah. Beruntung rumah tangga mereka kembali bersama.

Ya ampun, semoga Kang Ubed tidak ingkar janji lagi ya, Teh! (daru-zetizen/zee/ira)