Kisah kali ini sudah sepatutnya memberi pelajaran bagi kita, rumah tangga yang dibangun tanpa dasar cinta, bisa berujung petaka. Seperti dialami Jaim (45) dan Leha (41), keduanya nama samaran. Menjadi istri kedua setelah pernikahan Jaim yang pertama, Leha justru banyak menderita.

Leha bercerita, sebenarnya Jaim menikah dengan istri pertama, sebut saja Puah (43), karena paksaan orangtua. Mereka dijodohkan tanpa bisa menentukan pilihan. Tak ingin menyakiti hati sang ayah yang sudah berusia renta, Jaim bersedia menjadi istri Puah yang tidak dicintainya.

Meski begitu, hubungan mereka berlangsung lama, sampai dianugerahi dua anak menghiasi rumah tangga, Jaim dan Puah hidup bahagia. Hingga pada suatu peristiwa, Jaim tak bisa membohongi hatinya kalau ia jatuh cinta pada wanita rekan sekerja, ialah Leha. Apa mau dikata, tak kuat menahan guncangan asmara, ia meminta izin punya istri dua.

Keributan pun terjadi bak perang dunia kedua, Puah tak rela dimadu oleh Jaim yang waktu itu dimabuk cinta. Tanpa sadar, pertengkaran mereka disaksikan ketiga anaknya termasuk anak lelaki yang paling tua. Lantaran tak kuat menahan amarah, Jaim sampai melakukan tindak kekerasan.

Hingga akhirnya, menikahlah Jaim dengan Leha. Membuat Puah semakin terluka. Berprofesi sebagai pegawai di salah satu perusahaan milik negara, bukan sesuatu yang sulit bagi Jaim membiayai kedua rumah tangga dalam hidupnya. Menjadi suami yang adil dan bijaksana, ia menafkahi Puah dan Leha dengan sempurna.

Namun, ibarat menimba air di lautan, usaha Jaim menyatukan kedua istrinya agar harmonis tak pernah menuai hasil. Kebencian dan amarah yang terlanjur membara di hati Puah, membuatnya selalu bersikap ketus terhadap Leha. Iyalah, wajar Teh Puah kayak gitu, siapa sih istri yang mau dimadu.

“Iya sih, Kang kalau begitunya mah saya juga ngerti. Tapi kan semua sudah terjadi, namanya juga manusia, kan enggak bisa luput dari salah dan dosa, lagian juga Kang Jaimnya sudah adil sama kita berdua,” kata Leha kepada Radar Banten.

Hingga berlangsung puluhan tahun lamanya, sikap Puah tak bisa berubah. Sampai anak-anak mereka tumbuh dewasa, hubungan kedua istri Jaim itu tak bisa akur secara sempurna. Meski terkadang di depan orang menunjukkan keharmonisan, namun kalau sudah masuk rumah masing-masing, mereka bagai orang yang tak saling mengenal.

Ya ampun, parah amat ya!

“Padahal saya sudah minta maaf, terus sering bawa makanan ke rumah dia, tapi tetap saja, yang namanya sudah benci, saya benar pun tetap salah di mata dia,” curhat Leha.

Hingga suatu hari, musibah itu datang tak terduga. Puah sakit keras sampai dirawat selama berbulan-bulan. Banyak dana yang dikeluarkan, Jaim beserta keluarga pasrah pada keadaan. Hingga di batas akhir kemampuan, Puah menghembuskan napas terakhirnya. Ia meninggal dan menyisakan duka.

Seiring berjalannya waktu, Jaim dan Leha menjalani hari seperti biasa. Sesekali mereka datang ke rumah anak almarhum Puah untuk silaturahmi dan berbagi kasih. Ya namanya juga manusia, anak lelaki yang dewasa tak bisa melupakan kenangan pahit saat menyaksikan pertengkaran ayah ibunya karena pernikahan kedua dengan Leha, ia tak mau menemui ibu tirinya.

Walaupun Leha sudah berusaha sekuat tenaga agar bisa merebut hati sang anak, namun semua sia-sia, ia tidak diterima. Hingga seminggu setelah kejadian itu, Leha merasa ada yang aneh di rumahnya. Suasana terasa panas dan tak nyaman, bahkan, ia sempat melihat penampakan.

Wuih, maksudnya gimana tuh Teh?

“Ya gitu, Kang. Kalau ada di rumah tuh bawaannya hati enggak tenang, terus sering lihat bayangan hitam lewat, pokoknya rumah serasa kayak kuburan,” tukas Leha.

Parahnya, hal itu tidak cuma dirasakan olehnya, tetapi juga oleh suami dan ketiga anaknya. Setiap sang suami pulang bekerja, mau ada masalah atau tidak ada masalah, keributan pasti terjadi di antara mereka. Seolah ada yang mengganggu diri Leha, ia tak bisa mengontrol emosinya.

Yang membuat Leha tak percaya, sejak saat itu anaknya sering mengalami gangguan dari makhluk halus. Dibuat menangis di tengah malam, bahkan sampai kesurupan. Leha dan Jaim stres menghadapi ujian rumah tangga. Ujung-ujungnya, mereka saling menyalahkan.

“Duh, Kang waktu itu saya enggak kuat, rasanya hidup tuh enggak enak. Suami ribut terus, anak kesurupan, kita serasa tinggal di neraka,” tukas Leha.

Tak kuat menahan gejolak rumah tangga, Jaim dan Leha berpisah rumah. Sang suami lebih banyak tinggal di rumah istri pertama bersama anak-anaknya, ia melupakan Leha yang menderita.

Dan kabar mencengangkan itu datang, salah seorang tetangga yang bisa melihat keberadaan makhluk halus melaporkan kalau ada sosok genderuwo di rumah Leha. Tak menunggu waktu lama, Leha memanggil orang pintar alias dukun untuk memerika rumahnya.

Benar saja, Leha dikerjai orang terdekatnya. Ketika sang dukun memberi tahu siapa orangnya, Leha kaget bukan kepalang. Bagai tersambar petir di siang bolong, ia sampai syok ketika mengetahui orang yang menyantetnya anak tirinya sendiri.

Aih-aih, masa sih Teh?

“Saya juga awalnya enggak percaya, Kang. Tapi si dukun itu benar-benar ngeyakinin saya kalau yang ngirim santet anak tiri saya,” katanya.

Tak mau bersikap gegabah, Leha mencoba cara aman dengan mengadu kepada suaminya. Namun apesnya, bukannya percaya pada sang istri tercinta, Jaim malah murka. Ia mencaci-maki Leha lantaran menganggap sembarangan memfitnah. Keributan pun terjadi lagi sampai membuat Jaim mengucap kata cerai.

Hingga Leha fokus mengobati dirinya dari gangguan santet, hampir seminggu sekali rumahnya diadakan pengajian dan kegiatan keagamaan. Dan akhirnya, ia terlepas dari gangguan jin santet kiriman anak tirinya, Leha merasa lega.

Hebatnya, sebulan setelah berhasil mengusir mahluk halus di rumahnya, seolah mendapat hidayah dari Tuhan, sang suami datang dan meminta maaf. Jaim mengajak Leha untuk rujuk kembali, membangun rumah tangga yang sempat hancur. Kini mereka pun hidup bahagia.

Subhanallah Teh Leha, semoga selalu dilindungi dari gangguan santet dan sejenisnya. Banyakin zikir dan solat ya Teh, supaya rumah tangga aman dan tentram! (daru-zetizen/zee/ags/RBG)