Istri Murung, Suami Asyik Main Burung

Tak jarang istri yang mengeluhkan suaminya yang hobi main burung karena sering lupa waktu, bahkan lupa melayani istri. Hal itu dirasakan juga oleh Ningsih (43), nama samaran, bersama suaminya, sebut saja Dodi (44), yang memilih asyik dengan hobi main burungnya ketimbang membantu Ningsih yang murung karena terlilit utang. Yassalam.

Beruntung, keduanya tidak sampai bercerai karena pada akhirnya menemui solusi mengatasi permasalahan mereka berkat orangtua turun tangan. Ningsih pagi itu ditemui Radar Banten di Kecamatan Ciruas sedang membeli ketoprak untuk sarapan suami dan anaknya.

Mengenakan pakaian olahraga ketat dan berkeringat, sosok Ningsih cukup menggoda. Parasnya manis, bodinya juga aduhai. Ketika diajak mengobrol, ia tak sungkan menceritakan sempat mempunyai pengalaman pahit berumah tangga dengan suaminya.

Ningsih mengaku, sempat terjun ke dunia bisnis. Maksudnya membantu ekonomi rumah tangga yang ditanggung suami yang berprofesi sebagai guru SMA. Sayangnya, bisnis tidak berjalan mulus sehingga membuat Ningsih kapok kembali terjun ke dunia bisnis. Alasannya, pengalamannya ditipu orang hingga memiliki utang puluhan jutaan rupiah. Padahal, Ningsih sampai sempat mengabaikan tugasnya sebagai ibu rumah tangga, yakni mengurus suami dan anak demi mengurus bisnisnya yang berakhir dengan kegagalan. “Bisnis itu kalau enggak punya ilmunya dan mental kuat mending jangan deh,” sarannya.

Soalnya, gara-gara bisnis, membuat rumah tangga Ningsih nyaris kandas. Peristiwa itu terjadi tiga tahun lalu. Ningsih sampat pisah ranjang selama dua bulan. Sampai Ningsih terpaksa meminta bantuan orangtua untuk menyelesaikan masalah utang. Dodi pun akhirnya meminta maaf karena takut diceraikan. “Untung keluarga menasehati saya biar enggak minta cerai ke Dodi,” akunya.

Diceritakan Ningsih, pertemuannya dengan Dodi terjadi di dalam bus jurusan Serang-Jakarta. Ningsih yang hendak menuju rumah saudara di Kebon Jeruk, Jakarta, diajak mengobrol oleh Dodi yang duduk di sampingnya. “Dia baru naik dari Tangerang, sok ngajak ngobrol gitu,” kenangnya. Eaaa.

Ketika Ningsih hendak turun, Dodi berkesempatan meminta nomor telepon. Sejak itu, mereka intens komunikasi lewat ponsel setiap malam. Ningsih yang tadinya cuek, mulai merasa nyaman mengobrol dengan Dodi yang mempunyai sifat homuris dan romantis. “Dia pernah kirimin cokelat dan surat lewat jasa pengiriman pos,” akunya. So sweet.

Enam bulan kemudian, Dodi nekat datang ke rumah Ningsih untuk menyatakan cinta dan mengaku ingin serius menikahinya. “Karena dia bilang mau serius, saya enggak bisa nolak,” ucap Ningsih cengengesan.

Setahun kemudian, mereka menikah dan langsung diajak Dodi tinggal di Tangerang. Awal rumah tangga, mereka mengalami kesulitan ekonomi karena Dodi yang berprofesi sebagai guru honorer yang pendapatannya pas-pasan. Tentunya, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari. “Waktu itu masih dibantuin orangtua,” ujarnya.

Singkat cerita, dalam kurun waktu tiga tahun mereka dikaruniai dua anak yang membuat keduanya bahagia. Apalagi, keduanya intens bertemu karena Dodi hanya guru honorer. Jadi, soal urusan ranjang tentunya mereka banyak waktu luang. “Dia (susmi-red) kerjanya kan enggak terlalu capek. Jadi, setiap malam sering minta,” aku Ningsih malu-malu.

Minta apa nih? “Suka pura-pura enggak tahu gitu ih,” timpalnya. 

Ningsih beruntung mempunyai suami seperti Dodi meski berstatus guru honorer. Dodi orangnya kreatif, selain mengajar dia juga membuka jasa instal komputer dan lainnya. Melihat suaminya yang pekerja keras mempunyai usaha sampingan, Ningsih mulai tergiur untuk terjun ke dunia bisnis.

“Soalnya, ibu-ibu pada ngomporin. Katanya sekarang seorang istri itu harus punya penghasilan sendiri biar enggak dilecehin suami,” katanya.  

Lantaran itu, Ningsih mulai menjalankan bisnisnya, yaitu berjualan kosmetik dan alat kecantikan lainnya. Bulan pertama ia dapat untung. Berjalan lima bulan pelanggannya semakin banyak. Bahkan, ada pelanggan tetap yang terus memesan barang dalam jumlah yang cukup membeludak dengan perjanjian pembayaran dilakukan akhir bulan. “Ternyata, si pelanggan itu ngejualin lagi ke orang. Janjinya bayar kolektif, tapi pas saya tagih, alasannya macam-macam,” keluhnya. Sabar, Teh!

Di sisi lain, Ningsih terus ditagih pendistribusi barang dagangannya karena sudah lima bulan pembayaran belum mereka terima. Situasi itu mulai membuat Ningsih gelisah, diperparah banyak pelanggannya yang ngutang sudah tidak bisa dihubungi. “Waktu itu saya mulai sadar kalau sudah ditipu,” kesalnya.

Saat Ningsih mendapat tekanan dari distributor barang sampai dikejar-kejar penagih utang, Dodi justru malah sibuk mengurus hobinya main burung yang akan diikutsertakannya pada lomba. Padahal Ningsih berkali-kali curhat untuk minta pertolongan Dodi. “Dia malah nyuruh saya urus sendiri masalah ini,” sesalnya.

Stres dengan keadaan, Ningsih mengamuk, memutuskan pisah ranjang dan langsung pulang ke rumah orangtuanya di Ciruas. Utang-utangnya dilunasi sang ayah. Setelah masalah selesai, Dodi bak pahlawan menjemput Ningsih meminta maaf dan menasihati agar setiap apa yang dilakukan istri harusnya atas persetujuan suami. “Saya akui, saya juga salah enggak minta izin suami pas mau berbisnis,” akunya. Oalah, makanya Teh jadikan pengalaman, kalau enggak ada izin suami bisnisnya tersendat kan! (mg06/zai/ira)